Home / Pemuda / Essay / Ketika Ada Fitrah Dalam Organisasi Dakwah

Ketika Ada Fitrah Dalam Organisasi Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Ulfa Wardani)
Ilustrasi. (Ulfa Wardani)

dakwatuna.com – Berbicara soal fitrah, salah satu fitrah dari seorang manusia adalah memiliki rasa Cinta kepada lawan jenisnya. Rasa cinta itu bisa muncul berawal dari rasa simpati dan kekaguman kita terhadap lawan jenis. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Fitrah yang satu ini. Namun bagaimanakah bila fitrah merasakan Jatuh Cinta ini dialami oleh seorang Aktivis Dakwah?

Sobat muslim, aktivis dakwah juga merupakan manusia biasa, mereka bukan malaikat yang tak memiliki nafsu. Seorang aktivis dakwah pun punya naluri Ghuriza Nau’ yaitu naluri untuk mempertahankan keturunan, naluri itulah yang bisa memunculkan adanya rasa suka, rasa kagum dan rasa cinta terhadap lawan jenis. Tidak bisa dipungkiri seorang aktivis dakwah justru malah sangat rentan dilanda Virus Merah Jambu. Mengapa begitu? Karena kita semua tahu orang-orang yang menjadi aktivis dakwah rata-rata pasti memiliki pemahaman ilmu agama yang lebih, para aktivis dakwah terkenal sebagai orang-orang yang shalih-shalihah dan pasti mereka juga berharap mendapat pasangan yang shalih-shalihah. Nah hal inilah yang bisa menimbulkan seorang aktivis dakwah dilanda fitrah jatuh cinta, bagaimana tidak jatuh cinta bila kita melihat seorang lawan jenis kita yang shalih/shalihah, rajin ibadah, pinter, apalagi kalau ganteng/cantik pasti di dalam hati para aktivis dakwah ada rasa kagum dan rasa harap “Wah si Akhi/ukhti itu shalih/shalihah banget, bener-bener kriteria calon suami/istri idaman ya, andai aja dia nanti jodohku” begitu mungkin yang terfikirkan oleh sebagian dari mereka. Dari rasa kagum dan rasa harap itulah lama-lama seorang aktivis dakwah terjebak dalam Panah Asmara dari sang arjuna atau sang Cinderella, aduh duh ini mulai berbahaya.

Rasa cinta sesama aktivis dakwah juga bisa muncul karena seringnya berinteraksi di antara mereka, awalnya mungkin berinteraksi untuk kepentingan organisasi tapi lama-lama muncullah baper di antara mereka. Meskipun interaksi antara aktivis ikhwan dan akhwat saat syuro dibatasi dengan hijab pembatas tapi tetap saja potensi munculnya rasa cinta itu tetap saja ada, kita tahu sendiri bagaimana setan juga bisa menjadi faktor munculnya rasa cinta itu, bisikan-bisikan itu mulai muncul di hati.

Ketika seorang aktivis dakwah jatuh cinta dengan lawan jenisnya ini bisa menjadi sebuah dilema dan ujian berat bagi yang menyadarinya. Seorang aktivis dakwah yang notabene dibebani amanah untuk menjadi tauladan bagi teman-teman lain yang nonaktivis dakwah dalam bersikap dan menjalani pergaulan tentunya sudah tahu bagaimana aturan-aturan pergaulan dalam Islam. Mereka pasti sudah tahu bahwa tidak ada jalan lain bagi orang yang sedang jatuh cinta selain menikah. Namun mereka sendiri sadar bahwa mereka belum siap menjalani pernikahan karena masih merasa ada banyak impian yang harus diwujudkan. Saat itulah seorang aktivis dakwah merasa tertekan dan sangatlah bimbang. Banyak diantara mereka yang berhasil mengatasi masalah ini dengan kembali mentauhidkan diri pada Illahi dan mengikhlaskan cinta itu pergi karena yakin bila jodoh pasti akan kembali. Namun tak sedikit diantara mereka yang terjebak dengan TTM (Ta’aruf tapi mesra). Mereka menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar. Sering sms an berkedok dakwah dan saling mengingatkan padahal itu semua adalah bisikan-bisikan setan yang menghancurkan. Jika hal ini terjadi terus menerus dan diketahui oleh orang umum yang bukan aktivis dakwah tentunya ini akan sangat merusak citra dakwah dan citra Islam itu sendiri.

Lalu bagaimana sih sebenarnya yang harus di lakukan seorang aktivis dakwah bila dia sudah terlanjur terkena fitrah? Berikut tipsnya:

  1. Bagi para ikhwah yang memang sudah siap untuk menikah, khususnya para ikhwan, nggak usah ditunda-tunda lagi kalo memang keadaannya sudah memungkinkan. Segera hubungi ustadz untuk membantu proses khitbah antum. Bagi para akhwat, nggak ada salahnya untuk meminta kepada orang tua atau kerabatnya untuk mencarikan ikhwan yang sholih yang sudah siap datang mengkhitbah. Karena hal yang demikian ini lebih selamat bagi para remaja yang sudah tidak bisa lagi membentengi diri dari berhubungan lawan jenis di luar nikah, daripada sampai terjerumus dalam perzinaan kan? Sekali lagi na’udzu billah deh pokoknya.

Kaitannya dengan hal ini Nabi saw telah bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah memperoleh kemampuan (menghidupi rumah tangga), maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya, perhikahan itu lebih mampu menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan, barangsiapa belum mampu melaksanakannya, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu akan meredakan gejolak hasrat seksual. ” [Riwayat Muslim]. Dan dalam lafadz riwayat imam Tirmidzi :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ عَلَيْكُمْ بِالْبَاءَةِ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, menikahlah! Karena (nikah) itu lebih bisa menjaga pandangan dan kemaluan kalian. Barangsiapa yang belum mampu, mala hendaklah ia berpuasa. Sebab, puasa itu adalah perisai. ”

Ikhwah muslim…..

Yang perlu diperhatikan dari kutipan hadits diatas adalah kata “الْبَاءَةَ”, secara bahasa kata الْبَاءَةَ berarti “jima’/ hubungan suami istri” (maaf, jangan sampai ada yang berpikiran yang berlebih lho). Namun dalam pengertian secara bahasa para ulama’ memiliki dua pendapat. Pendapat yang pertama, pengertian الْبَاءَةَ sebagaiman pegertiannya secara bahasa, meskipun pengertiannya adalah “hubungan suami istri” namun ulama’ mengatakan harus tetap memiliki kemampuan dalam memberi nafkah kepada istri setelah menikah.

Pendapat yang kedua : maksud dari الْبَاءَةَ adalah kemampuan untuk menafkahi istri dan keluarga selepas menikah nantinya.

Para ikhwah, dari dua pendapat yang berbeda yang disampaikan oleh para ulama’ ini dapat ditemukan dalam satu titik pemahaman, yaitu yang dimaksud dengan الْبَاءَةَ disini adalah kemampuan untuk menafkahi keluarga secara lahir dan batin, baik jima’ ataupun kemampuan dalam memberi nafkah yang berupa sandang, papan dan pangan.

Jadi buat para ikhwah jangan sampai salah paham dalam menyimpulkan makna الْبَاءَةَ ya… .

Lantas bagaimana dengan yang belum mampu الْبَاءَةَ? , masih berkaitan dengan hadits diatas yaitu hendaklah membiasakan dengan berpuasa sunnah, karena dengan puasa sel-sel darah menjadi menyempit sehingga bisa membantu dalam mengekang hawa nafsu. Nggak berat kok insya Allah……

  1. Nah kiat yang berikutnya para ikhwah, adalah berusaha untuk ikhlas semata karena Allah dalam beribadah. Hindari rasa riya’, semangat ibadah karena pujian dan perhatian manusia, terutama dengan tujuan pengen dianggap wah oleh si pujaan hati ni, wah bahaya tuh. Segera introspeksi dan ikhlaskan niat dalam ibadah semata kepada Allah ta’ala. Karena apabila seseorang sudah bisa benar-benar ikhlas dalam beribadah maka timbullah rasa cintanya kepada Allah yang mampu mengalahkan segala cinta dan kerinduan kepada selainNya. Syaikhul Islam pun pernah mengatakan “sungguh apabila hati telah merasaakan manisnya ibadah kepada Allah dan telah ikhlas hanya kepadaNya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis dari manisnya ibadah kepada Allah ta’ala”. Maka ayyuhal ikhwah, apabila seseorang sudah merasakan keindahan dan kenikmatan cinta kepada Allah dengan beribadah kepadaNya, maka ia tidak akan ingin beralih kepada cinta yang lain, karena puncak kecintaan yang tertinggi adalah cinta kepada Allah ta’ala.
  2. Hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh para ikhwan/akhwat apabila dilanda rasa kagum yang berlebih, interaksi dan kerinduan terhadap lawan jenis sedangkan antum belum mampu untuk menikah adalah jangan sampai lupa berdo’a memohon kepada Allah ta’ala agar terlepas dan dijauhkan dari fitnah-fitnah tersebut. Tentunya do’a yang sungguh-sungguh, maksudnya adalah doa yang dibarengi dengan usaha kita untuk menjauhkan diri dari sebab-sebab yang menimbulkan fitnah tersebut. Karena ingatlah para ikhwah, bahwa setiap do’a itu bermanfaat, meskipun tidak Allah kabulkan secara langsung. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat imam Ahmad : “Tidaklah seorang muslim yang berdo’a dengan do’a yang tidak untuk keburukan dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan; do’anya akan segera dibalas, akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal. ” Maka bersabarlah antum dalam berdoa, karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan do’a seorang hamba yang ikhlas memohon kepadaNya.
  3. Yang nggak kalah pentingnya yaitu dengan cara menundukkan pandangan yang kita kenal dengan istilah “Ghodhul bashar”. Apa sih menundukkan pandangan itu? Apakah dengan cara kita selalu menunduk di setiap tempat? Selalu menunduk ketika berjalan? Repot dong ya kalau begitu? Tapi bukan menundukkan pandangan seperti ini yang dimaksud. Terus yang bagaimana? Menundukkan pandangan yang dimaksud disini adalah menundukkan atau memalingkan pandangan dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Terkhusus lagi yang masuk kedalam pembahasan kita kali ini adalah menundukkan pandangan dari hal-hal yang mampu membangkitkan syahwat. Menurut Ibnu Taimiyah, “menundukkan pandangan dapat dilakukan dengan tidak melihat aurat baik lawan jenis atau yang sejenis (laki-laki memandang aurat perempuan atau laki-laki memandang aurat sesama laki-laki dan sebaliknya) atau dengan tidak memandang wanita yang bukan mahram baginya. ” Maka dengan menahan pandangan ini, seseorang mampu meredam gejolak syahwat yang berkobar dalam hatinya. Pandangan pertama yang tidak sengaja itu tidak mengapa, namun apabila pandangan tersebut berulang-ulang (diulangi dengan sengaja) maka itulah yang menjadi penyebab maksiat dan dosa.

Sebagaimana yang tersebut dalam hadits dari Jarir bin Abdullah ia berkata; Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang memandang wanita secara tidak sengaja, maka beliau pun menyuruhku seraya bersabda: “Palingkanlah pandanganmu. ”

Begitu juga pada saat Rasulullah bersabda kepada sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Wahai Ali, janganlah engkau ikutkan pandangan pertama dengan pandangan yang lain (berikutnya), sesungguhnya bagimu pandangan yang pertama tidak pandangan yang lainnya (berikutnya). ”

Karena pandangan yang berturut-turut, terutama apabila pandangan itu kepada lawan jenis maka akan menimbulkan perasaan ketertarikan yang selanjutnya akan membuahkan rasa rindu dalam hati. Al ‘iyadzu billah…..

  1. Menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat baik bagi dunia maupun akhiratnya. Karena apabila seseorang lebih banyak memiliki waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan hal-hal yang baik, maka akan semakin banyak juga kesempatannya untuk memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan membayangkan hal-hal yang diharamkan. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh seorang sufi kepada imam Syafi’I “apabila kamu tidak menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang baik, maka dirimu akan disibukkan dengan hal-hal yang kurang baik (buruk). ” Dengan banyaknya aktivitas masing-masing ikhwan atau akhwat dalam hal – hal yang bernilai positif, maka ini akan membantu mereka dalam menghilangkan pikiran dan lamunan mereka terhadap lawan jenis yang mereka kagumi tadi. Contohnya sebagai remaja yang aktif dalam bidang dakwah kita bisa menyibukkan diri kita dengan mengkaji kitab-kitab baik yang turots atau yang kontemporer yang layak kita kaji, berdiskusi atau bisa juga dengan menulis ilmu yang kita pahami dan kemudian kita publikasikan melalui blog, atau bahkan facebookan yang sebagian orang menggunakannya dalam hal yang makruh (minimal) pun dapat kita fungsikan dalam hal-hal yang bermanfaat, seperti dengan mengupdate status dengan hadits nabi dan nasehat para ulama’, memanfaatkan sarana chating sebagai media diskusi dan berbagi ilmu agama dan sebagainya. Jadi tidak sia-sia waktu kita. ^_^. Tapi hati hati juga nih sobat jangan gunakan sosial mediamu untuk tebar pesona pada pujaan hatimu itu ya, apalagi kalau digunakan untuk stalking sosial medianya dia, itu mah nambah bikin si Virus berkembang, hehe.
  2. Menghindari nyanyian-nyanyian dan sinetron-sinetron yang romantis (percintaan), yang bisa menjadi faktor munculnya pikiran kotor dan mengangan-angan hal yang diharamkan. Apalagi jenis nyanyian dan sinetron hari ini yang paling nggak 92% diantaranya bertema percintaan dan kesyirikan contohnya drama-drama korea. Be carefull deh pokoknya buat ikhwah semua……

Ibnu mas’ud pernah berkata bahwa nyanyian itu dapat menumbuhkan sifat kemunafikan dalam hati sebagaimana air yang dapat menumbuhkan tanaman-tanaman.

Fudhail bin Iyyadl juga berkata nyanyian itu adalah mantera-mantera zina.

  1. Yang terakhir, yang tidak boleh ditinggalkan tentunya ^. ^, tak dapat dipungkiri kalau seorang aktivis dakwah falling in love pada seorang aktivis dakwah lain teman majlisnya karena melihat sisi-sisi positif yang ada pada diri sang pujaan hati. Nah, makanya nih sobat, tidak adil kalau cara menilainya seperti itu. Sama teman yang lain saja diakui kekurangan dan kelebihannya, tapi mengapa kalau sama si dia hanya diakui sifat baiknya saja, padahal sebenernya si dia tadi juga punya sifat negatif. Makanya nih kiat yang kami maksud, lihat juga sisi negatif yang dimiliki sang Ikhwan/akhwat yang sudah terlanjur jadi pujaan hati antum. Bukan berarti kita harus berprasangka buruk ya. Yah…, yang namanya manusia kan tidak ada yang sempurna kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ikhwah fillah, setidaknya kiat-kiat di atas dapat kita coba buat mengurangi rasa kekaguman dan kerinduan sama lawan jenis (bagi teman yang sudah terjangkit Virus si merah jambu) juga dapat menjaga diri kita dari terjerumus ke dalam dosa besar yaitu zina. Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan dalam menjalankan amanah dakwah ini tanpa perlu adanya fitnah akibat fitrah. Semoga bermanfaat. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi di salah satu Perguruan tinggi negeri di Semarang. Bercita-cita menjadi penulis yang inspiratif.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Organization