Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kala Ibu Terlelap

Kala Ibu Terlelap

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (addinie.wordpress.com)
Ilustrasi. (addinie.wordpress.com)

dakwatuna.com – Matahari menyapa malu-malu dari timur, fajar berganti keindahan embun pagi. Aku terbangun, menatap kagum Ibu yang telah bangun dua jam lalu sebelum matahari terbit. Suaranya lembut sekali, aku merinding, segera bangun dari tempat tidur dan bergegas Sholat. Kedua matanya menatapku berbinar, “Nak, kalau mau rizki lebih banyak, bangunlah lebih awal sebelum waktu sholat,” ucapnya kepadaku. Aku tak menjawab, hanya memberi senyum tipis bergegas masuk kamar.

Ibuku perempuan yang hebat, meski aktifitasnya padat, dia tetap mengabdi untuk keluarganya. Menyiapkan sarapan, membereskan rumah, lantas bergegas mengajar di sebuah madrasah dekat rumahku. Meski letih melanda, meski kantuk tak dapat dielaknya, ketulusan hati yang dimilikinya tentu mengalahkan semua kendala.

Terkadang, aku iri pada Ibu, sempat-sempatnya ia tersenyum meski fisik dan batinnya letih. Tiap kali aku bertanya pada Ibu mengapa dia begitu kuat, dia hanya menjawab, “Allah lah yang menguatkanku, Nak. Mendekatlah pada-Nya, maka pertolongan itu dekat,”.

Sebenarnya aku ingin memeluk Ibu, namun, aku enggan berbicara jujur, terkadang Ibu tertawa geli jika aku berkata ingin memeluknya. Di usianya yang tak muda lagi, aku terus berfikir, bagaimana aku bisa membalas semua kebaikannya, apa bisa aku menggantikan sosok Ibu? Tentu tidak. Rasa kehilangan itu pun semakin jadi. Aku ingin terus menjaga Ibu. Tak ingin kehilangan sosoknya di rumah ini.

Aku tahu, seringkali aku membantahnya, membuatnya kecewa dengan perkataanku. Namun ia tetap memaafkan, memberi nasehat dan perhatiannya yang lebih untukku. Dia berkata, “Suatu saat kau akan rindu ocehanku, rindu mendengarkan cerewet, kau boleh membantah ucapan Ibu, tapi jangan lupakan perkataan Ibu tadi”.

Malam datang, Ibu tidur lelap di sampingku, menemaniku hingga pagi hari. Takut aku terlambat sholat subuh katanya. Namun, saat tengah malam aku terbangun, seketika aku menatapnya tertidur. “Ya Allah, betapa indah titipan-Mu, aku tak sanggup menatapnya, aku ingat dosa-dosaku pada Ibu, ketika aku membantahnya, itu berarti aku telah membantah-Mu,” ucapku dalam hati.

Aku sangat gelisah melihat Ibu tertidur, bagaimana jika ia tak membuka mata?, bagaimana jika ia terlelap untuk selamanya? Allah memang berbicara lewat tanda-tanda. Sejak itu, aku  berjanji, aku tak ingin membantah Ibu, membantah Ibu membuatku menjauhi ridho-Nya.

Mungkin benar, pelajaran berharga selalu datang lewat cara yang tak terduga, seperti saat aku tersadar perilakuku terhadap Ibu. Tak mungkin aku harus kehilangan Ibu dulu, baru aku meminta maaf dan mengubah sikap. Ibu kau hadiah terindah Allah. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswi. Gadis desa yang sedang mewujudkan mimpinya menjadi jurnalis di Politeknik Negeri Jakarta, senang membaca dan penggemar karya Tere Liye.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?