Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ibuku Wanita Terkuat

Ibuku Wanita Terkuat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (iphincow.com)
Ilustrasi. (iphincow.com)

dakwatuna.com – Semakin hari, semakin tua Ibuku. Semakin hari, semakin keriput wajah Ibuku. Aku takut akan kecepatan waktu yang berlari meninggalkan momen bahagiaku bersama Ibuku. Namun, aku bahagia bila kecepatan waktu meninggalkan kisah menyedihkan yang Ibuku rasakan.

Ibuku adalah wanita terkuat di dalam hidupku, namanya Sri Lestari, aku ingin sekuat Ibuku. Setiap pagi, sebelum semua terbangun dari tidur, Ibuku sudah sibuk mengurus keperluan Ayah, aku, Adik, dan Kakakku. Rela menghabiskan waktunya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Mengerjakan segala pekerjaan rumah tanpa meminta bantuan siapa pun, terkadang aku merasa kasihan dengan Ibuku dan membantunya. Terkadang kaki Ibuku sampai biru-biru seperti habis dipukul karena saking lelahnya ia.

Saat aku duduk di bangku sekolah menengah atas, Ayahku sakit lambung yang cukup parah, Ayahku memiliki sakit magh hingga lama-kelamaan menyebabkan lambungnya terdapat bolongan. Dikarenakan Ayahku sakit selama dua tahun lebih dan harus bolak-balik ke rumah sakit, akhirnya Ibuku mencari pekerjaan untuk menghidupi aku, Ayah, Adik, dan Kakakku. Ibuku bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Apartemen. Aku melihatnya begitu kuat, saat pagi sudah menyiapkan makanan dan keperluan keluarga, lalu ia jalan bekerja mengurus rumah orang lain, dan kembali sekitar pukul tujuh malam untuk menyiapkan makanan dan keperluan anaknya untuk sekolah besok.

Setelah dua tahun lebih Ayahku sakit, akhirnya Allah memberikannya kesembuhan sehingga Ayahku dapat beraktivitas dan bekerja kembali. Aku tahu, itu juga merupakan doa yang tanpa henti Ibuku panjatkan kepada-Nya.

Saat aku mulai menginjak jenjang perguruan tinggi, keluargaku pindah dari Kuningan Timur Kecamatan Setiabudi ke daerah Kalibata Selatan Kecamatan Pancoran. Dikarenakan pindah, Ibuku akhirnya keluar dari pekerjaannya dan membuat warung sembako di rumah. Sambil menjaga warung dari pagi hingga malam, Ibuku juga menyambilkan tugasnya di rumah, “Sekarang lebih santai, bisa sambilan beresin rumah sambil jaga warung, makanya Mama gemuk sekarang,” katanya kepadaku.

Beruntungnya aku dilahirkan dari rahim Ibuku, bagaimana tidak? Ibuku sangat sabar menghadapi Ayahku. Ayahku adalah orang  yang pemarah dan sangat teliti. Segala hal selalu dikomentari Ayahku, seakan apa saja yang Ibuku kerjakan masih kurang di matanya. Ingin sekali aku menasehati Ayahku, dan mengatakan betapa tidak bersyukurnya Dia mendapatkan Ibuku yang selalu menerima komentar pedas dari mulut ayahku dan tetap menuruti apa pun yang Ayahku minta.

Aku selalu berdoa kepada Allah agar selalu memberikan kesehatan, kekuatan, dan panjang umur untuk semua keluargaku dan yang terpenting adalah Ibuku. Aku berharap Ibuku akan selalu bahagia bersama aku dan keluarga kami. Aku berharap Ibuku selalu diberikan kesabaran kepada Allah, dan aku akan selalu menjadi pengagum terbaik Ibuku. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Gadis muda yang ingin mencoba hal baru yang positif.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Organization