Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ibuku Selalu Berjuang dan Tak Mengenal Lelah

Ibuku Selalu Berjuang dan Tak Mengenal Lelah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Ilustrasi)
(Ilustrasi)

dakwatuna.com – Ibu ialah sosok yang terpenting dalam hidup kita, karena beliau yang sudah melahirkan kita ke dunia. Kasih sayang Ibu untuk anaknya tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Ibu selalu memberikan nasihat yang baik kepada anaknya agar dapat tumbuh cerdas dan berakhlak mulia.

Ibuku salah satunya wanita hebat yang mendidik anaknya menjadi lebih baik dalam bersikap dan beribadah.  Beliau bernama Moentomimah. Ia lahir di Tuban, 30 November 1958. Ia tinggal dengan orang tuanya yang tergolong mampu karena memiliki beberapa tanah dan rumah yang merupakan harta peninggalan dari Kakek buyutku namun harta tersebut lama-lama habis disebabkan uangnya digunakan untuk berobat Nenekku yang terkena penyakit kanker paru-paru.

Saat itu Ibuku masih berumur 9 tahun. Ia hanya bersekolah sampai kelas 2 SD saja lalu putus sekolah padahal Ibuku termasuk murid yang pintar di sekolahnya, namun ia harus melakukan hal tersebut agar dapat membantu orang tuanya bekerja dan membiayai adik-adiknya sekolah. Inilah yang ku banggakan pada Ibuku, ia rela berjuang untuk menghidupi keluarganya dan adik-adiknya.

Saat Ibuku berumur 15 tahun, Ia menikah dengan Ayahku dan setelah menikah mereka merantau ke Jakarta untuk bekerja di sana, lalu di sana mereka berjualan ikan basah di Pasar Bedeng, Jakarta Pusat sedangkan rumah mereka di Cakung, Bekasi. Ibuku harus menempuh perjalanan selama satu jam dengan naik bus untuk menuju pasar tersebut. Sungguh penuh perjuangan sekali perjalanan hidup Ibuku. Mereka memiliki 7 anak yang umurnya tidak jauh berbeda.

Ibuku berdagang sendiri di sebelah Ayahku, ia berdagang ikan gurame, minuman-minuman hangat, rokok dan plastik selama 36 tahun untuk membiayai ketujuh anaknya agar dapat bersekolah hingga ke perguruan tinggi dan sekarang semua anaknya menjadi orang sukses serta berbakti kepada orang tua.

Walaupun Ibuku sekarang sudah berumur 57 tahun ia masih kuat dan semangat dalam bekerja dan masih tetap berjualan untuk membiayai kuliahku. Sepulang berdagang ia juga membereskan rumah, menjaga cucunya serta memasak namun tidak pernah mengeluh dalam melaksanakan pekerjaannya, ia selalu terlihat bahagia di depan anak-anaknya.

Ia selalu mengajarkan hal-hal yang baik terhadap anaknya. Ibuku memiliki hati yang lembut, hanya sedikit cerewet jika sedang marah. Ibuku bersikap seperti itu karena ia sayang terhadap anaknya agar anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan pintar. Aku dan kakak-kakakku sangat bangga sekali memiliki ibu yang hebat seperti ibuku.

Ibuku sangat ingin pergi ke tanah suci dan pergi wisata ke Daerah Istimewa Yogyayakarta. Cita-citaku ingin membahagiakan orang tuaku dan membuatnya bangga. Oleh sebab itu sebagai seorang anak kita harus berbakti kepada orang tua terutama Ibu karena beliau selalu berjuang demi anak-anaknya dan tidak pernah mengeluh lelah. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi semester 4 di Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan dan mengambil prodi jurnalistik. Hobi memasak, membaca buku dan menonton fillm. Bercita-bercita ingin menjadi penulis novel dan pembuat film.

Lihat Juga

Lelah dalam Ketaatan

Organization