Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kembali Mengenal Ukhuwah

Kembali Mengenal Ukhuwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwatuna.com – Saudaraku.. coba bayangkan, suatu hari ketika Anda telah kembali ke rumah dan mendapatkan seseorang telah menunggu Anda bersama istri dan anak-anaknya datang dengan membawa sepucuk surat dari salah satu teman Anda yang tidak mungkin Anda tolak permintaannya, ia mengabari Anda bahwa pembawa surat tersebut adalah saudaramu di jalan Allah (akhun lak fi Allah), telah mengalami ujian dan banyak cobaan, dan dia sekarang tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki tempat bernaung juga tidak memiliki harta oleh karena itu, terimalah ia dan keluarganya di rumahmu, untuk itu Anda juga harus berbagi harta yang Anda miliki, makanan dan tempat tinggal, dan jangka waktu bertamu ini belum diketahui sampai berapa lama, bisa jadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya.

Kira-kira apa respon Anda terhadap pembawa surat tersebut?

Apakah Anda akan bahagia dengan isi surat tersebut? Atau dada Anda akan terasa sempit dan bingung, di mana gaji Anda tidak cukup untuk berbagi, rumah tempat Anda bernaung juga sempit hanya cukup dengan anggota keluarga Anda, lalu bagaimana jika gaji, tempat tinggal harus dibagi antara Anda dengan saudara Anda di jalan Allah tadi?

Kalaupun misalnya Anda berkecukupan, namun siapa yang sanggup berbagi dalam satu atap dengan orang yang belum dikenal sebelumnya, dengan orang yang kita tidak kenal watak dan tabiatnya, dengan orang yang kita tidak kenal gaya hidup dan kebiasaannya?

Penulis sendiri bisa membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi dengan penulis jika menghadapi kondisi seperti ini, terbayang beratnya beban yang akan penulis tanggung, terlebih lagi waktu bertamu tanpa batas, berlangsung lama. Angan-angan penulis saat itu mereka-reka mungkin orang ini salah alamat dan yang dimaksud adalah orang lain, bukan saya, dan penulis akan segera menghubungi penulis surat tersebut, mencoba menghindari masalah, penulis juga akan menyampaikan beragam alasan dan kondisi agar tidak menerima tamu tersebut, kalaupun penulis menyetujui menerima keluarga tersebut, itu dengan batas bertamu, dan sebisa mungkin tidak berlangsung lama.

Kondisi seperti ini, yang kita berharap tidak pernah terjadi pada kita, ternyata telah terjadi dan telah dialami oleh para sahabat Anshar awal mula dakwah Islam. Dimana sahabat Muhajirin demi agama, mereka meninggalkan rumah dan harta mereka, meninggalkan kota Makkah menuju Yatsrib melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, hijrah tanpa harta untuk membiayai kebutuhan mereka, dan tanpa tempat tinggal. Sementara itu, penduduk kota Yatrib (Anshar) adalah orang-orang fakir, lebih dari itu, mereka juga tidak memiliki hubungan dengan kaum Anshar, juga tidak mengenal mereka. Walau demikian mereka harus menerima saudara-saudara sahabat Muhajirin secara utuh.. Lalu apa respon kaum Anshar yang akan menerima tamu sahabat Muhajirin?

Buku-buku sejarah menceritakan kepada kita bahwa mereka sangat bahagia menerima tamu Muhajirin, hingga kaum Anshar berlomba-lomba untuk dapat menerima setiap sahabat Muhajirin yang sampai di Yatsrib (Madinah). Karena para Anshar saling bersaing dan berlomba untuk dapat menerima sahabat Muhajirin hingga mereka harus diundi untuk menentukan siapa yang menang dan dapat giliran menerima tamu Muhajirin. Dan ini sungguh terjadi, hingga disebutkan bahwa tidaklah seorang Muhajirin bertamu ke Anshar kecuali dengan undian.

Mungkin kita akan berdecak kagum dengan sikap unik para sahabat Anshar ini yang kita tidak mampu berbuat seperti mereka, mungkin kita juga bertanya apa yang membuat mereka bisa sampai seperti itu, tindakan mereka di luar batas kemampuan manusia?

Al-Quran telah menjawab pertanyaan-pertanyaan kagum kita, Al-Quran telah menjelaskan rahasia yang mendorong para Anshar melakukan isar luar biasa walaupun keadaan mereka yang sangat fakir dan juga sangat membutuhkan. Allah Swt., berfirman memuji mereka:

والذين تبوءوا الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولايجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة.. (الحشر: 9).

‘Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan menempati keimanan (beriman) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin) dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. (QS. al-Hasyr: 9)

Dalam ayat di atas, para Anshar disebut dengan kalimat “والذين تبوءو الدار” atau mereka yang menempati sebuah negeri (Yatsrib, Madinah) sebelum kaum Muhajirin datang, ayat di atas juga menyebut mereka bahwa mereka juga menempati keimanan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mereka bisa menempati keimanan? Bukankah keimananlah yang masuk ke dalam hati?

Yaa demikianlah, menjawab ini, Dr. Majdi al-Hilali mengatakan bahwa semakin kuatnya keimanan mereka, hingga seolah-olah merekalah yang masuk menempati keimanan, dan bukti itu semua adalah apa yang mereka telah lakukan ini, menerima tamu Muhajirin; walaupun kondisi mereka yang sangat membutuhkan.[1]

Para sahabat Ansar tidaklah tanpa tekanan menerima Muhajarin, selain kondisi ekonomi mereka yang fakir (tekanan ekonomi), mereka juga dengan segala konsekwensi menerima Ansar mendapatkan tekanan politik dan keamanan (harus berhadapan dengan kaum musyrikiin yang memusuhi kaum Muslimin). Namun semua pertimbangan-pertimbangan tadi, pertimbangan ekonomi, pertimbangan politik dan keamanan musnah dengan pertimbangan keimanan dan pertimbangan ukhuwah, lenyap dengan pertimbangan cinta dan itsar.

Ukhuwah, taakhi, cinta dan itsar adalah syarat kebangkitan dan kemenangan, itulah strategi pertama yang ditempuh oleh Rasullah Saw., dengan mempersaudarakan sahabat Anshar dan Muhajirin dan membangun masjid tempat membina persaudaraan dan persatuan kaum Muslimin.

Risalah ini juga dilanjutkan oleh Imam Hasan al-Banna dalam membangun komunitas dan gerakan yang kuat. Menjadikan persatuan sebagai senjata dan taaruf saling mengenal sebagai asas dakwah.

Mari kita kembali merenungi nasehat pendiri gerakan Islam di lembah sungai Nil tersebut, beliau mengatakan:

‘Wahai Ikhwan! Saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya di hadapan kalian, bahwa saya berbangga dengan kesatuan ikhwan yang jujur, bangga dengan ikatan Rabbani yang kokoh, dan cita-cita kalian yang agung untuk menggapai masa depan. Sepanjang kalian berada dalam keadaan demikian (Menjalin ukhuwah karena Allah, saling mencintai dan saling menolong) maka jagalah persatuan ini karena ia adalah senjata dan bekal kalian’[2]

Saat ini kita perlu kembali mengenal dan mempelajari serta mengamalkan makna ukhuwah sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt., dan diajarkan oleh Rasul-Nya dan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Syahid Hasan al-Banna:

‘Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan nurani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokohnya ikatan dan semulia-mulianya, Ukhuwah adalah saudara keimanan sedangkan perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan pertama adalah kekuatan persatuan; tidak ada persatuan tanpa cinta dan kasih. Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri) ‘Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka itulah orang-orang yang beruntung’ (Al-Hasyr: 9). Al-Akh yang tulus melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, karena ia jika tidak bersama mereka, mereka tidak dapat bersama yang lain. Sementara mereka, jika tidak dengan mereka, maka mereka bersama dengan yang lain. Dan sesungguhnya serigala hanya makan kambing yang terlepas sendirian. Seorang mukmin  dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu mengokohkan yang lain. ‘Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi pelindung bagi lainnya’. Demikianlah seharusnya kita.[3]

Selain itu kita perlu mengetahui bentuk-bentuk terkikisnya tingkat persaudaraan kita di jalan Allah. Di antaranya adalah hilangnya saling menasehati, saling mengenal, saling memahami dan saling mencukupi. Bentuk lainnya adalah berburuk sangka, persaudaraan terjalin selama masih berhubungan dan jika berjauhan maka putus pula persaudaraannya, saling melupakan dan bermasa bodoh, berpaling dari wajah saudaranya saat sedang bersengketa, tidak segera berishlah walaupun ia benar, bukankah yang lebih baik adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam (berdamai). Bentuk lainnya adalah benci ketika saudaranya mendapatkan kebaikan bahkan berharap saudaranya mendapat keburukan, tidak sedih dengan apa yang menimpa saudaranya, bahkan bergembira, berselisih dan berpecah belah, dan keduanya merasa yang paling benar hingga menuduh saudaranya menipu, berbohong dan membuat fitnah.[4] In Sya Allah bentuk-bentuk terkikisnya makna ukhuwah ini secara detail akan dibahas pada pembahasan berikutnya. Wallahu a’lam bi al-shawab. (dakwatuna.com/hdn)

[1] Majdi al-Hilali, Nadzarat fi al-Tarbiyah al-Imaniyah, Muassasah Iqra’, Kairo, 2010. Hal. 5.

[2] Hasan al-Banna, Risalah al-Ta’lim, al-Muktamar al-Khamis, Dar al-Dakwah, Kairo. Hal. 132

[3] Hasan al-Banna, Ibid. Hal. 364.

[4] Muhammad Abduh, Sulukiyat Khatiah Ala Tariq al-Dakwah, Kairo, 2007. Hal. 72-76.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia.

Lihat Juga

Menyambung Mata Rantai Persaudaraan di Kampus