Topic
Home / Berita / Opini / Setya Novanto dan Politik di Belakang Panggung

Setya Novanto dan Politik di Belakang Panggung

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
setyo novanto
Ketua DPR Setyo Novanto secara resmi mengundurkan diri dari Jabatannya. (fajar.co)

dakwatuna.com – Usai terjungkal dari kursi Ketua DPR, Januari lalu, banyak pihak yang memprediksi karir politik Setya Novanto sudah mentok. Namun, hanya berselang 4 bulan kemudian, Setnov, panggilan akrabnya, terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar (17/5) di Bali. Menariknya, ia mengalahkan Ade Komarudin, Ketua DPR aaat ini yang menggantikan dirinya. Bagaimana kita membaca fenomena ini?

Politik bukan soal apa yang tersaji di depan panggung. Politik adalah tentang sesuatu yang terdapat di belakang panggung seperti yang dilontarkan Erving Goffman, dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959).

Tulis Erving, dalam kehidupan manusia, adakalanya ia berada di panggung depan (front stage) begitu juga suatu saat berada di panggung belakang (back stage). Manusia diibaratkan tengah melakukan sandiwara kehidupan. Panggung depan (front stage) merujuk kepada peristiwa sosial yang memungkinkan individu memainkan peran di atas panggung sandiwara, di hadapan penonton. Sementara panggung belakang (back stage) merujuk pada realitas sebenarnya, tanpa manipulasi, minus sandiwara. Politik transaksional sudah pasti tak akan tersaji di panggung depan. Transaksi justru terjadi di panggung belakang.

Ulasan Erving mendapat pembenarannya pada kasus Setnov. Kita masih ingat, betapa gaduhnya negeri ini saat Setnov berusaha dilengserkan dari kursi Ketua DPR. Bermula dari laporan Menteri ESDM Sudirman Said ke MKD DPR soal rekaman pembicaraan Setnov dengan pimpinan PT Freeport Indonesia, lalu bola salju pun bergulir cepat, kian lama kian membesar.

Media riuh. Ketidakhadiran Presiden Jokowi pada pesta pernikahan anak Setnov menjadi bumbu penyedap dan mengundang tafsir politik liar. Hashtag #papamintasaham# di media sosial menjadi trending topic. Dan ujungnya, Setnov mundur digantikan Ade Komarudin.

Tapi itu empat bulan lalu. Situasinya kini berubah. Setnov telah menjadi orang nomor satu di Partai Golkar. Dari seorang pecundang, Setnov mampu mentransformasi dirinya menjadi seorang pemenang hanya dalam kurun waktu 4 bulan!!! Tentu saja sangat naif jika keberhasilan Setnov menafikan ketiadaan intervensi dan restu Penguasa.

Selama interval waktu itulah yang oleh Erving disebut sebagai back stage atau politik di belakang panggung. Ada transaksi di sana. Ada deal-deal politik di dalamnya antara Setnov dengan Penguasa saat ini. Dan semua transaksi tersebut hanya mereka yang mengetahuinya, tak dipertontonkan kepada khalayak.

Politik di belakang panggung tentu saja tak bisa dihindarkan. Ia adalah sebuah keniscayaan dalam dunia politik. Tinggal kita berharap, apa yang tersaji di belakang panggung dimaksudkan untuk kemaslahatan rakyat.

Namun, mungkinkah itu terjadi? Penguasa begitu bernafsu menjungkalkan Setnov dari kursi Ketua DPR, dan hanya dalam 4 bulan kemudian menjadikannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar?

Waktu yang akan menjawabnya. (sb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
S1 FISIP Universitas Jurusan Ilmu Politik. Pernah menjadi wartawan dan selama hampir 3 tahun menjadi Redaktur majalah ESQ 165. Menulis di berbagai media online dan kumpulan tulisannya menjadi buku dengan judul Masihkah PKS Bermasa Depan? (Maghfirah Pustaka, 2013). Karya buku lainnya: Jejak Langkah Menuju Indonesia Emas 2020 (Arga Publishing, Mei 2008) dan menjadi Ghost Writer buku best seller: The Great Story of Muhammad (Maghfirah Pustaka, 2011). Saat ini sebagai Pemred www.kabarumat.com

Lihat Juga

Rusia: Turki Maju sejak Erdogan Memimpin

Figure
Organization