Home / Berita / Daerah / Sambangi Pulau Reklamasi, Perwakilan Nelayan dan Komnas HAM Diusir Penjaga Asing

Sambangi Pulau Reklamasi, Perwakilan Nelayan dan Komnas HAM Diusir Penjaga Asing

Reklamasi Teluk Jakarta. (kompas.com)Reklamasi Teluk Jakarta. (kompas.com)
Reklamasi Teluk Jakarta. (kompas.com)

dakwatuna.com – Jakarta.   Pemerintah pusat telah mengeluarkan instruksi moratorium proyek reklamasi Teluk Jakarta. Salah satunya adalah lokasi Pulau G yang dikerjakan oleh PT Muara Wisesa Samudra (anak perusahaan Agung Podomoro Group).

Beberapa orang perwakilan nelayan Muara Angke,  Sekretaris DPW Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jakarta  dengan didampingi tim dari Komnas HAM menyambangi pulau tersebut dalam rangka mendokumentasikan kondisi terakhir area proyek reklamasi tersebut.

Namun sesampainya di lokasi ternyata pulau tersebut kini dijaga oleh orang-orang asing, bahkan mereka mengusir perwakilan nelayan dan rombongan yang mencoba memasuki pulau G tersebut.

Sekretaris DPW Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jakarta, Kuat Wibisono mengatakan, mereka diusir oleh dua orang petugas asing yang mengamankan pulau tersebut pada Jumat (13/5/2016) lalu..

“Namun, sesampainya kami di Pulau G, kami diusir oleh dua petugas asing berbadan tinggi kekar yang berjaga di situ. Yang satunya orang bule, sedangkan yang lainnya berkulit hitam (negro),” ujar Kuat kepada Republika.co.id, Ahad (15/5/2016).

Ia menuturkan, tim yang terdiri dari empat nelayan Muara Angke dan tiga orang perwakilan dari Komnas HAM sempat mengambil beberapa gambar di Pulau G. Akan tetapi, setelah terjadi cekcok dengan petugas asing tersebut, rombongan akhirnya memutuskan untuk pergi dari pulau buatan tersebut.

“Kejadian itu jelas sangat ironis. Kenapa warga asing itu bisa seenaknya mengusir kami yang jelas-jelas adalah warga Indonesia di negara kami sendiri,” ujar Kuat.

Meski pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan moratorium terhadap proyek reklamasi Teluk Jakar­ta, kenyataannya kegiatan reklamasi tersebut masih berlangsung.

Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), M Riza Damanik ke­cewa lantaran pasca moratorium, ternyata reklamasi Teluk Jakarta masih tetap belangsung. “Dalam situasi ini, perluasan kerusakan lingkunganakan terus terja­di,” katanya dalam jumpa pers di Kantor KNTI, Jalan Yusuf Adiwinata, Jakarta. Demikian dikutip dari RMOL.co, Senin (16/5/2016)

Dia mengungkapkan, saat ini perairan Banten sudah ru­sak akibat penambangan pasir untuk proyek reklamasi Teluk Jakarta. Tidak tertutup ke­mungkinan sejumlah wilayah akan mengalami kerusakan serupa bila penambangan pasir terus dilakukan.

“Pembangunan pulau di Teluk Jakarta dan Great Sea Wall tidak sesuai dengan Nawacita dan janji Presiden Jokowi untuk me­mulihkan ekonomi masyarakat Indonesia,” kritiknya.

Riza menerangkan, alasan pemerintah melakukan rekla­masi untuk mencegah banjir di Jakarta tidak masuk akal. Banjir di Jakarta disebabkan oleh penu­runan permukaan tanah, bukan kenaikan permukaan air laut.

“Pemagaran Teluk Jakarta agar tidak banjir bertabrakan dengan logika, banjir dapat diantisipasi dengan menghentikan pengisa­pan air tanah yang semakin tidak terkendali,” sebutnya.

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Sssttt… Ternyata Prajurit Zionis Takut Baku Tembak Lawan Warga Palestina

Figure
Organization