Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Inikah Cintamu?

Inikah Cintamu?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)
Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

dakwatuna.com – Bila berbicara tentang cinta, apakah jantungmu akan berdetak semakin kencang? Apakah aliran darahmu akan semakin deras? Lalu apakah adrenalinmu kan semakin terpacu? Hal itu hanya engkau yang bisa menjawabnya. Aku di sini hanya ingin menulis tentang cinta berdasarkan pemahamanku, bukannya aku orang yang berpengalaman dengan percintaan, bukannya aku orang yang pernah menjadi petualang cinta, hanya mungkin aku akan bercerita cinta berdasarkan cara pandangku, yang mungkin saat ini sedang mempersiapkan diri untuk melakukan pembuktian cinta, sebab cinta tak akan berarti tanpa pembuktian dan amal nyata.

Mungkin bagimu, dengan cinta gunung kan kau daki dan lautan kan kau sebrangi? Bagi diriku akan sedikit berbeda, dengan cinta gunung pun kan sanggup di sebrangi dan lautan kan ku daki. Tak cukup gunung hanya kau daki, sebab bila ia kau sebrangi, cintamu begitu hebat. Tak cukup laut hanya kau sebrangi, sebab  bila kau daki ombak yang mengulum-ngulum hingga senja tak tampak lagi, cintamu begitu dahsyat. Bagiku cinta tak sekedar retorika, cinta tak sekedar teori, tetapi ia butuh pembuktian. Maka cinta yang produktif adalah cinta yang mengarah pada kebaikan, sebab kebaikan akan mengakar kokoh sedang keburukan hanya ada di permukaan saja. Maka cinta yang produktif menghasilkan amal, adalah cinta yang kau landasi dengan kebaikan.

Cinta pada harta? Mungkin akan sangat banyak menguras deras kucuran keringatmu. Mungkin akan memompa degup jantungmu semakin kencang. Lalu kinerjamu akan sangat memuaskan dalam setiap agenda, lalu hartamu akan melimpah. Maka dengan work style yang seperti ini kau tak perlu risau kehabisan akan harta, tapi coba perhatikan dengan seksama, rasa cintamu akan harta akan terus dan terus bertambah. Terus dan terus bertambah seiring kinerja yang semakin meningkat, dengan rasa cinta yang semakin meningkat maka rasa puaspun ikut meningkat, lalu kau tak akan cepat merasa puas dengan kondisi saat engkau berbanyak harta. Belum kering keringatmu kau akan terus menerus mencari harta, dengan cara apapun, lalu kondisi sosial kau acuhkan, etika tak lagi ada, maka apakah cinta kepada harta ini akan membawa kebaikan pada dirimu? Aku yakin kau bisa menjawabnya.

Cinta pada pujian? Mungkin akan membuat setiap pekerjaan dan tindak tandukmu akan engkau persiapkan dengan baik. Demi mendapat pujian, engkau akan lakukan apapun agar dapat menghasilkan performa terbaik. Perasaan mengharap pujian akan terus menggelayut pikiranmu, perasaan ini akan sangat halus menembus pembuluh darahmu. Cinta akan pujian dengan lembut membelai mesra perasaanmu, menggoda hatimu terus menerus agar cinta padanya, seangat lekat dengan pikiranmu, sehingga pujian tersebut akan terus menggelayuti pikiranmu, mendendang merdu setiap pujian yang ditujukan kepadamu, lalu tak lama kemudian kau akan senyum-senyum sendiri membaca setiap komentar, entah komentar yang ada di status facebook milikmu, entah retweet yang ada di akun twitter mu, entah pesan-pesan pribadi nan indah yang sempat hinggap di whatsapp atau telegram pada smartphone android milikmu. Percayalah padaku, cinta pada pujian tak akan menghasilkan kebaikan. Bayangkan setiap kebaikan yang kau kerjakan hanya senilai dengan pujian, lalu mana yang seharusnya kau serahkan kepada Penciptamu? Percayalah padaku, aku bukannya orang yang selalu bisa mengungguli rasa cinta pada pujian ini, setiap hari aku pun juga harus berperang dengannya, sebab ini bukan hal yang mudah, namun percayalah padaku, cinta pada pujian tak akan menghantarkanmu pada kebaikan.

Cinta pada jabatan? Hal ini akan membuatmu merasa tinggi, berada di awan-awan, bagaikan terbang ke kahyangan, yang katanya tempat indah nan cerah. Tetapi coba perhatikan dengan seksama, ketinggian jabatan ini suatu saat akan membuatmu lupa diri, akan membuatmu lupa kerasnya pijakan tanah. Orang-orang akan merasakan kecenderungan untuk memperebutkan jabatan, karena ketinggian serta kemahsyuran yang ditawarkannya. Cinta pada jabatan akan membuatmu terus merasa bahwa jabatan itu akan berlangsung lama, padahal setiap kondisi akan dipergilirkan kepadamu, dan itu adalah sebuah keniscayaan. Bagi mereka yang memanfaatkan jabatan pada kebaikan tak bertepi, lalu ketika menjabat terus menerus introspeksi diri dan merekonstruksi niat mereka, jabatan kan termanfaatkan kepada orang banyak, jabatan kan berguna bagi masyarakat kecil yang menerima manfaat, sungguh mulia mereka yang menggunakan jabatan untuk menebar manfaat bagi seantero alam. Namun bagi mereka yang terlanjur cinta pada jabatan secara berlebih, hal ini tidak akan berakhir dengan baik, percayalah padaku. Bila dengan jabatan membuatmu rasa individualis mu semakin tinggi, acuh tak acuh dengan kondisi sekitar, maka rasa cinta pada jabatan ini tak akan membawamu pada kebaikan, percayalah padaku kawan.

Cinta pada dunia? Hal ini tak akan pernah membuatmu puas, sekalipun tujuh bumi berada dalam genggamanmu, sebab begitulah kecenderungan manusia yang tak pernah puas. Ketika mendapatkan suatu kenikmatan dan merasa bosan, maka muncul rasa memiliki yang lebih tinggi lagi kepada kenikmatan yang mungkin belum ia dapatkan. Apalah arti dunia ini, di bandingkan dengan dedikasimu untuk beribadah kepada Ilahi Rabbi. Aku ingin bercerita padamu tentang seluruh kenikmatan di dunia ini yang sungguh tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Surga Allah. Surga yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa, surga yang diperuntukkan bagi orang-orang yang terus menerus memegang janjinya, sebab ia memahami bahwa Kalimat Syahadat bukan sekedar pernyataan, tetapi juga adalah Sumpah dan Janji kepada Yang Maha Menepati Janji. Suatu ketika di surga, ada sebuah pohon yang sangat besar yang dalam perjalanan 100 tahun orang-orang belum dapat keluar dari naungan pohon tersebut. Pohon yang sangat besar itu berbatangkan emas, lalu orang-orang yang melewatinya, para penduduk surga tentunya, merasa rindu dengan kenikmatan yang pernah mereka dapatkan di dunia, maka Allah kirimkan angin yang berhembus dan menggoyangkan pohon tersebut, dari pohon tersebut keluar seluruh kenikmatan yang ada di dunia. Sesuatu yang mungkin akan sulit kau bayangkan, tetapi percayalah visualisasi surga yang ada di dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang tidak dapat dibayangkan dan dijangkau oleh akal dan pikiran manusia. Sungguh ini adalah janji Allah, dan Allah Maha Menepati Janji.

Cinta pada harta, cinta pada jabatan, lalu cinta pada dunia? Inikah cintamu? Seperti inikah cintamu? Cinta yang berujung pada selain kebaikan? Cinta yang tak akan pernah membuatmu merasa puas? Maka sesungguhnya bila cintamu tak segera kau ubah, akan berakhir buruk pada dirimu, percayalah padaku. Cinta pada manusia terbaik, cinta pada Rasulullah SAW mungkin akan bisa mengobati cinta semu yang kau miliki. Sebentar, janganlah kau tertawa dulu, apalagi sampai terbahak. Cinta pada Rasul akan menuntunmu pada kebaikan, cinta pada pribadi manusia yang paling mulia, teladan terbaik sepanjang masa, Rasulullah SAW. Tak perlu khawatir dengan penawaranku ini, sebab cinta kepada Rasulullah akan membawamu kepada Surganya Allah SWT, sebab cinta pada Rasul juga berimplikasi pada cinta kepada Maha Pencipta, Allah ‘azzawajalla.

Engkau harus mencintai Rasulullah SAW, kalau memang engkau masih merasa berat, maka marilah coba secara perlahan untuk memanifestasikan rasa cintamu kepada Rasulullah SAW. Secara bertahap engkau harus mulai mencintai Rasulullah SAW, mencintai Beliau melebihi cinta pada sanak saudaramu, melebihi cinta pada ayah dan ibumu, bahkan melebihi cinta kepada dirimu sendiri. Ini memang tak mudah, maka engkau harus memulainya dengan pemahaman yang mendalam. Mencintai Rasulullah SAW juga harus membuatmu mengikuti dan mengerjakan sunnah nya, membuatmu menghablur segala cinta yang cenderung pada cinta dunia. Meneladani Rasulullah SAW adalah cinta terbaik yang saat ini harus engkau lakukan, aku tak hendak memaksamu, tetapi terkadang kebaikan juga harus dipaksakan perlakuannya.  Ku ajak engkau secara bertahap saja, sebab percayalah cinta pada Rasul ini akan menghantarkanmu kepada kebaikan. Tak perlu risih bila orang-orang di sekitarmu merasa risih dengan perubahan pada dirimu, sebab tak sempurna iman hamba sampai ia di uji.

Ini adalah salah satu cinta yang ingin ku tawarkan kepadamu, semoga dengan cinta ini engkau berkenan mengubah energi dan cintamu. Percayalah padaku, bahwa yang ku sampaikan ini adalah cinta yang berkebaikan, ini juga adalah wujud kecintaanku kepadamu, sebab tahukah engkau? Wujud empati terbesar adalah menyelamatkan manusia dari jilatan api neraka. Mungkin ini terasa aneh bagimu, melihat sekelompok orang yang berhalaqah tarbiyah guna mempertahankan nilai-nilai kebaikan pada dirinya, guna meneguhkan iman dalam dirinya, guna menyingkirkan dominasi jahiliyah dalam dirinya lalu menggantinya dengan dominasi ilahiyah. Mungkin hal ini juga akan berlawanan dengan konsep manusia modern di dalam benakmu, tetapi percayalah se-modern apapun manusia akan terasa hampa tanpa nilai-nilai spiritualitas di dalam dirinya. Sungguh ini adalah cinta sebenar-benarnya cinta yang ingin ku sampaikan kepadamu melalui tulisan, berkenankah kau mengubah cintamu? Karena seperti inilah cintaku. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization