Home / Berita / Profil / 8 Hal yang Patut Diteladani Dari Prof. Dr. Tuty Alawiyah

8 Hal yang Patut Diteladani Dari Prof. Dr. Tuty Alawiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ketua Umum (Ketum) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Prof. Hj. Tutty Alawiyah (Foto: antara.com)
Ketua Umum (Ketum) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Prof. Hj. Tutty Alawiyah (Foto: antara.com)

dakwatuna.com – Usai di tinggal Prof Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, Umat Islam di Indonesia kembali berduka. Mantan Menteri Negara Peranan Wanita di masa Orde Baru, Prof. Dr. Tuty Alawiyah telah meninggal dunia. Sebelum wafat, almarhumah selama 3 minggu menjalani perawatan di Rumah Sakit MMC Kuningan karena infeksi usus besar. (Kompas Siang, 4 Mei 2016). Perjalanan hidup dan deretan prestasi dari almarhumah patut diteladani khususnya bagi para Muslimah di Indonesia. Sedikitnya ada 8 prestasi atau pencapaian dari Prof. Dr. Tuty Alawiyah yang berhasil saya himpun dari berbagai sumber.

Pertama, almarhumah sosok yang tegar sedari kecil. Saat berumur 9 tahun ibunda almarhumah telah wafat. Sedari kecil terus didorong ikut berbagai perlombaan membaca Al Quran, sehingga dalam usia amat muda, almarhumah mampu membaca Al Quran secara fasih.

Kedua, saat kecil, sambil belajar mengaji, Tuty Alawiyah dibimbing KH. Abdullah Syafi’i menjadi Mubaligah yang handal. Bahkan dalam sebuah kesempatan, diminta berceramah di depan umum. Padahal kala itu usianya baru 16 tahun.

Ketiga, semasa remaja, almarhumah rajin menulis puisi dan artikel yang dimuat di surat kabar ibukota. Puisinya berjudul “Yusuf yang Agung” berhasil menjadi puisi terbaik versi RRI tahun 1960.

Keempat, di bidang pendidikan, almarhumah Dr Tuty Alawiyah pada tahun 1957 sanggup menyelesaikan pendidikan SMP dan MTs sekaligus. Dalam perjalanannya, sang ayah yakni KH. Abdullah Syafi’i menunjuk dan mengangkatnya sebagai penerus kepemimpinan Yayasan As-Syafi’iyyah, bukan menunjuk saudara laki-lakinya. Kebijakan ini didasari keseriusan Tuty Alawiyah untuk meneruskan cita-cita orang tuanya dalam membina umat. (Ulama Perempuan Indonesia, 2002, hal. 201-203). Tahun 2001 meraih gelar Doktor Kehormatan di bidang Dakwah Islam dari IAIN Jakarta. Kemudian mendapatkan gelar Profesor dari Federation Al-Munawwarah di Berlin, Jerman.

Kelima, di bidang dakwah, jangkauan dakwah Dr. Tuty Alawiyah melewati batas-batas dakwah ‘kebetawian’. Maksudnya almarhumah ini terbukti menjadi ulama perempuan level nasional dan bahkan internasional (Genealogi Intelektual Ulama Betawi, 2011, hal. 17).

Keenam, karirnya di bidang politik tanpa cela. Almarhumah tidak pernah tersandung KKN. Almarhumah juga dikenang punya peran besar dalam kemajuan partai Golkar selama mengabdikan diri di partai berlambang pohon beringin itu (inilah.com, 4 Mei 2016). Bukan hanya di Golkar. Almarhumah diketahui sebagai salah satu pendiri partai Hanura. Tak heran Hanura mendekati Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT) yang didirikan atas prakarsa almarhumah pada 1 Januari 1981 (Perempuan dan Majelis Taklim, April 2010, hal. 7-8).

Ketujuh, almarhumah termasuk tokoh yang lantang menolak rencana Ahok yang akan melegalkan peredaran Miras.  “Terus kenapa sekarang malah dilegalkan?” ujar Tuty seperti yang dikutip dari Republika Online 11 Desember 2014. Beliau meminta Ahok untuk tidak mengacau masyarakat dengan rencana pelegalannya tersebut. Menurutnya, seharusnya Ahok memusnahkan Miras di masyarakat, bukan justru melegalkannya.

Kedelapan, hingga usia jelang 70 tahun.  Almarhumah pernah menyatakan tak pernah terpikir untuk ikut program asuransi. Bila pun ia sakit, biaya pengobatan dilunasi secara cash (www.jamsosindonesia.com, 2011). Selamat jalan Prof. Dr. Tuty Alawiyah, semoga amal kebaikan Anda dilipat gandakan pahalanya oleh Allah swt. Wallahu’allam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fadh Ahmad Arifan
Alumni Jurusan Studi Ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Malang. Pasca lulus, pada 2013-2015 menjadi Dosen tetap di STAI al-Yasini, Pasuruan. Sejak Februari 2015, menjadi Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs-MA Muhammadiyah 2 kota Malang. Telah mengunggah lebih dari 50 karangan populer dan ilmiah, terutama di bidang Pemikiran Islam, Filsafat, Tasawuf dan Politik. Artikel terbaru berjudul 'Para Penguasa Suriah Dalam Catatan Sejarah' dimuat di Majalah Tabligh bulan April 2018

Lihat Juga

Antara Islam, Muslim dan Perilaku Islami