Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bapak, Teruslah Membalap

Bapak, Teruslah Membalap

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (family.fimela.com)
Ilustrasi. (family.fimela.com)

dakwatuna.com – Kulit hitam bagaikan secangkir kopi yang diteguknya. Deru asap knalpot mobil seraya hembusan asap dalam tiap hisapan. Perjuangan di balik kemudi mobil mengawali kasih sayangnya kepada keluargaku, Bapak.

Itulah gambaran seseorang yang ku panggil Bapak, dahulu ketika masih bekerja sebagai sopir. Ya, seorang sopir di salah satu panti asuhan di Jakarta. Bapak, panggilan yang lebih pantas dibanding ayah yang terkesan manja, mungkin menurutku saja.

Pria asli Purwokerto ini sudah hafal jalanan Ibu Kota, bahkan Pulau Jawa sekalipun. Pernah suatu waktu melihat foto perjalanan Bapak ke Bali dengan Elf tua bersama teman-teman kerjanya saat masih muda. Kalau mau tahu jalanan Jakarta, coba tanyakan saja padanya. Beliau pasti menjawab layaknya aplikasi penunjuk arah.

Masih ingat dalam pikiran saat ku berada di belakang kemudi mobil pinjaman kantor Bapak. Tubuh kecilku dinaikkan ke atas pangkuannya mengarungi jalanan Pantura menuju kampung halaman. Terbayang sesaat jadi pembalap layaknya Michael Schumacher yang sedang melibas lintasan balap. Bahagia sekali rasanya.

Karir balap Bapak kini berakhir sudah. Serangan di jantung Bapak akibat pengaruh jahat teman-temannya itu menghentikan langkahnya. Terbaring koma di rumah sakit mungkin merupakan jalan Allah SWT untuk menyadarkannya bahwa kebersamaan dalam keluarga adalah harta yang tak tergantikan. Alhamdulillah, pengaruh jahat Bapak dari teman-temannya akhirnya bisa disingkirkan dan beliau pulih kembali.

Walau kutahu Bapak menyayangi keluarganya, tapi kebersamaan keluarga terasa masih kurang dulu. Tiga bahkan empat kali Bapak berpergian ke luar kota dalam sebulan. Hanya sedikit waktu kurasakan untuk berkumpul bersama.

Namun sekarang Bapak sudah meninggalkan karir balapnya. Beliau masih bekerja di tempat yang sama, namun dengan beban yang lebih ringan. Jarang berpergian membuat kebersamaan keluarga semakin baik. Makan malam bersama mungkin hal yang paling ku idamkan dari dulu.

Terima kasih pada-Mu atas yang Kau berikan pada Bapak. Mungkin sakitnya bisa jadi pelebur dosa dan tentu ada hikmah dibaliknya. Teruslah membalap walau bukan lagi dibalik kemudi mobil. Tapi teruslah membalap demi memimpin keluargamu, Bapak.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa yang sedang memahami jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta. Bukan siapa-siapa, tapi mau jadi siapa-siapa.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Figure
Organization