Home / Berita / Silaturahim / Warga Muslim Indonesia di Washington DC Bertakziah atas Berpulangnya KH Ali Mustafa Yaqub

Warga Muslim Indonesia di Washington DC Bertakziah atas Berpulangnya KH Ali Mustafa Yaqub

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Acara Takziyah dan doa bersama untuk KH Ali Mustafa Yakub di Mesjid IMAAM Center Washington DC, AS, Kamis (28/4/2016)
Acara Takziyah dan doa bersama untuk KH Ali Mustafa Yakub di Mesjid IMAAM Center Washington DC, AS, Kamis (28/4/2016)

dakwatuna.com – Kepergian almarhum KH Ali Mustafa Yaqub tidak hanya membawa kabar duka bagi umat muslim di tanah air tapi juga warga muslim Indonesia di Washington DC. Selain mengenal melalui tulisan-tulisan dan kiprah beliau di Indonesia, komunitas muslim Indonesia di DC pernah berinteraksi langsung dengan sosok yang dikenal tegas dan berani tersebut.

Pada kunjungan ke AS tahun 2013, beliau bertatap muka dan berceramah di IMAAM Center yang pada waktu itu masih berbentuk rumah di daerah Rockville, Maryland. Setelah IMAAM memiliki bangunan masjid, beliau juga pernah diundang untuk berbicara mengenai terorisme dan fenomena ISIS melalui video conference.

Kedekatan warga muslim DC dengan KH Ali Mustafa Yaqub juga terbangun karena putra beliau yang sekarang sedang menjalani studi di Washington DC merupakan salah satu anggota dan pengurus aktif di IMAAM.

Di tengah kesibukannya belajar Bahasa Inggris dan mempersiapkan studi pascasarjana, Zia ul Haramein yang akrab dipanggil Zia, memiliki jadual mengajar yang padat di IMAAM. Berbekal ijazah Syariah dari Univesitas Islam Madinah, Zia mengajar tidak kurang dari 4 kali dalam sepekan mencakup Quran, studi agama Islam, dan Bahasa Arab untuk dewasa dan anak-anak. Kabar meninggalnya ayahanda mengejutkan bagi Zia karena beliau tidak memiliki riwayat sakit sebelumnya.

Pada hari Kamis (28/4/2016) sore waktu setempat, warga IMAAM menyelenggarakan takziah untuk memberikan support kepada Zia dan mendoakan almarhum KH Ali Mustafa Yaqub.

Acara yang dimulai setelah shalat Maghrib tersebut, diawali dengan kata sambutan dari Zia yang menceritakan kronologis wafatnya ayahanda. Menurut informasi yang diceritakan ibunda, sebelum meninggal KH Ali Mustafa Yakub merasa keletihan setelah mengisi acara di Mesjid Agung Sunda Kelapa pada hari selasa sehingga memilih untuk istirahat di rumah pada hari Rabu.

Pada malam hari beliau kesulitan untuk tidur sehingga hanya bisa istirahat beberapa jam. Paginya setelah shalat subuh, ibu Zia khawatir melihat kondisi sang suami sehingga meminta pembantu beliau untuk mengantarkan ke rumah sakit. Belum lama tiba di rumah sakit Hermina, beliau dipanggil oleh Allah SWT tanpa sempat didahului oleh tindakan medis apapun.

Pada kesempatan tersebut Zia mengungkapkan kesedihannya karena merasa tidak memiliki kesempatan untuk hidup di dekat beliau lebih lama. Di masa hidupnya yang baru 25 tahun, selama 10 tahun ia hidup jauh dari keluarga demi menjalani pendidikan yang ia tekuni. Sosok ayahanda baginya merupakan teladan yang telah memberikan banyak pelajaran berharga.

Pesan yang paling diingatnya dari almarhum adalah tentang pentingnya menuntut ilmu. Keberadaannya di AS pun tidak lepas dari dorongan dan izin beliau supaya Zia memiliki ilmu yang lebih luas. Beliau juga sering berpesan bahwa jika kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita. Nampaknya Pesan tersebut lah yang mendorong Zia untuk membaktikan ilmu dan tenaganya di komunitas IMAAM secara sukarela.

Acara takziah tersebut dilanjutkan dengan sambutan dari ketua presidium IMAAM Firdaus Kadir. Bang Daus, begitu beliau akrab dipanggil, menyampaikan bahwa kepergian ulama merupakan kehilangan yang sangat besar bagi umat. Beliau juga berpesan kepada hadirin untuk senantiasa mengingat ajaran-ajaran beliau yang pernah disampaikan ke warga muslim di DC.

Selanjutnya jamaah membaca surat Yasin dan mendengarkan taushiyah yang disampaikan oleh Imam Fahmi Zubir. Di dalam pesannya Imam Fahmi Zubir menekankan pentingnya bagi kita untuk mengingat kematian karena Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian.

Sosok KH Ali Mustafa Yakub yang produktif selama hidupnya merupakan teladan dan pelajaran berharga bagi kita tentang bagaimana seharusnya kita mengisi kehidupan dengan amal salih dan kontribusi untuk umat. Beliau juga mengingatkan para jamaah tentang pesan Rasulullah SAW bahwa Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama oleh karena itu sebisa mungkin kita harus menimba ilmu dari para ulama sebanyak-banyaknya selagi mereka masih hidup.

Di akhir taushiyah beliau menyampaikan hari-hari terakhir KH Ali Mustafa Yaqub yang diisi dengan kebaikan-kebaikan insya Allah menjadi tanda beliau meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Acara yang dihadiri sekitar seratus orang tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan sengan shalat Isya berjamaah. (Rahmatrim/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa pascasarjana di University of Maryland, College Park. Saat ini terlibat aktif sebagai pengurus Mesjid IMAAM Center di Washington, DC. Aktif mengikuti perkembangan dunia Islam. Suka membaca buku di sela-sela kesibukan.

Lihat Juga

Imam Istiqlal Harapkan Persatuan Erat Umat Islam

Organization