Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Narasi Negeriku II

Narasi Negeriku II

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi-bendera Indonesia (inet)
Ilustrasi-bendera Indonesia (inet)

dakwatuna.com – Narasi negeriku, negeri nusantara yang sangat ku cintai. Cinta tanah air yang mengakar dalam sebentuk nasionalisme dan pengabdian. Pengabdian sepenuh hati dan jiwa kepada negeri yang katanya sepenggal Firdaus di muka bumi. Negeri yang mungkin saat ini mengalami krisis kepercayaan, antara rakyat dan pemimpin, antara pemimpin dan rakyat, lalu jadilah benci di atas benci, ironi bukan? Di tengah malam-malam yang meminta kesadaran dalam-dalam, ironi Negeri seperti mempermainkan Opini Publik.. Celakalah Rakyat yang mengumpat Pemimpin lalu Pemimpin menipu Rakyat. Jadilah benci di atas benci. Sadis bukan Ironi ini??

Tapi tenang saja, energi masih ku himpun, ku minta ia dari Sang Pemilik Semua Energi. Agar ia tak digunakan untuk mencela menara gading, menghina keadaan, mengumpat kekalutan. Lebih baik ku simpan ia untuk menulis narasi negeri. Negeri yang katanya sepenggal Firdaus di muka bumi. Narasi Negeri indah belasan ribu Pulau dan Jutaan Nyiur Melambai.. Namun sayang Nusantara masih harus menjadi konsumen dan belum juga beralih menjadi produsen. Namun sayang Ibu Pertiwi masih harus menjadi Sapi Perah Negara Adidaya, namun sayang Ibu Pertiwi masih bersedih karena tirani. Untuk itu kutulislah Narasi Negeri ini, berharap bahwa ia juga menjadi solusi dari berbagai permasalahan pelik negeri ini.

Plato telah menuliskan semua ciri-cirinya di dalam Timaeus dan Critias, bahwa tanah itulah yang memenuhi semua persyaratan tentang surga dunia di zaman lampau bernama Atlantis. Tidak ada satu pun wilayah di dunia ini yang memiliki banyak keistimewaan sebagaimana negeri itu. Negara Kepulauan terbesar di dunia, kurang lebih 17.000 pulau, terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia, di apit Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, dilintasi garis ekuator, dan bagian bawah tanahnya adalah pertemuan dari empat lempeng tektonik paling aktif di dunia. Semua itu menyebabkan tanahnya amat subur, bumi serta lautannya sangat kaya raya, mengandung berbagai bahan tambang emas, perak, minyak dan gas bumi, timah, nikel, tembaga, dan hasil bumi lainnya. Di lautan, triliunan ikan berenang bebas, butiran mutiara menghampar luas bagaikan pasir di dasar samudera, belum lagi flora dan faunanya yang sangat melimpah. Dan iklimnya hanya terdiri dari dua musim, kemarau dan penghujan, sehingga semua tumbuhan bisa hidup subur dan semua penduduknya bisa bekerja sepanjang tahun tanpa harus berdiam diri sebagaimana halnya penduduk Eropa dan Amerika yang harus beristirahat panjang di Musim Salju. Terdengar bagai surga bukan? Ya, sepenggal surga di muka bumi ini.

Dalam salah satu tulisan Prof. DR. H. Priyatna Abdurrasyid, Ph.D. yang berjudul “Benua Atlantis Itu (Ternyata) Indonesia”, bahwa ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatau, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Indonesia sungguh tanah yang sangat makmur, sumber daya alamnya melimpah ruah namun tak termanfaatkan dengan baik. Mungkin sudah saatnya energi untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan perlahan kita pindahkan sebagian pada energi untuk belajar. Belajar untuk mengelola sumber daya alam di negeri sendiri, belajar meningkatkan kapasistas diri, belajar perihal community development dan youth empowerment. Agar lahir insan-insan yang berkualitas, berdaya guna, menjadi penggerak di daerah tempat tinggalnya. Sekolah kepemimpinan, rumah kepemimpinan, dan pemuda penggerak desa mungkin bisa menjadi alternatif program community development dan youth empowerment. Kelak Indonesia akan menghadapi third wave atau gelombang ketiga Indonesia, di mana Indonesia akan menyemai bonus demografi penduduk yang sebagian besarnya adalah pemuda. Maka dengan banyaknya jumlah pemuda ini, sangat diharapkan meningkatnya produktifitas ekonomi di Indonesia bahkan akan sangat mungkin berpengaruh di dunia global. Maka mulai dari sekarang seharusnya semua unsur berbangsa dan bernegara sudah harus mempersiapkan dan membentuk pemuda-pemuda yang produktif. Saat ini mungkin produk-produk masih di dominasi oleh produk-produk luar negeri, namun dengan kehadiran para pemuda produktif ini akan lahir produk-produk lokal yang berdaya saing global. Dari pada melakukan boikot terhadap produk, alangkah baiknya mencipta produk.

Narasi negeriku yang kedua ini akan terus kutulis kelanjutannya, sebagaimana ide yang tak pernah habis untuk membangun negeri, karena rasa peduli saja tak akan cukup tanpa aksi, maka ide sebrilian apapun tak akan ada artinya tanpa gerakan yang nyata. Ku tuliskan ide-ide ini sebab aku ingin ia mewujud nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap realitas yang terjadi di alam kenyataan, sebelumnya merupakan sebuah realitas di alam pemikiran. Benua Atlantis yang konon dulunya adalah pusat peradaban dunia, lalu di masa kini beberapa ilmuan mengemukakan Indonesia ternyata adalah Atlantis, maka tak muluk-muluk bila Indonesia juga harus berupaya menjadi pemain global. Mungkin ada yang perlu diperbaiki terkait foreign assertive policy Indonesia yang masih abu-abu. Agar upaya mendukung kemerdekaan Palestina tidak hanya sekedar pernyataan saja, agar Indonesia juga berperan dalam isu-isu kemanusiaan di dunia Internasional.

Wahai para pemuda, melalui narasi negeriku ini aku ingin mengajakmu untuk bersama-sama peduli dan berkontribusi untuk bangsa ini. Dimulai dari pemuda, dimulai dari diri sendiri, setidaknya ada tiga nilai yang ingin aku sampaikan padamu, nilai yang harus dimiliki oleh pemuda sepertiku, pemuda sepertimu, dan pemuda lainnya, nilai-nilai itu adalah Patriotik, Kreatif, dan Setiakawan. Nilai pertama adalah patriotik. Mengapa harus patriotik? Sebuah bangsa yang besar tentu akan sangat menghargai jasa para founding father negerinya, yang otomatis juga takkan melupakan sejarah perjuangan bangsanya. Tentu kita tak boleh melupakan Indonesia sebagai sebuah Negara Kesatuan yang melakukan quantum jump perjuangan kemerdekaannya pada deklarasi sumpah pemuda tertanggal 28 Oktober 1928. Sebuah peristiwa klaim para perwakilan pemuda nusantara, terdiri dari Jong Java, Jong Soematra, Pemoeda Indonesia Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batakabond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, dan Perhimpoenan Peladjara Indonesia. Mengikrarkan dan mengklaim tumpah darah tanah Indonesia, berbangsa satu Bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Sebuah peristiwa besar yang berawal dari mindset besar para pemuda.

Para pemuda Indonesia juga patut berbangga dengan seorang Sudirman yang juga seorang santri, anggota hizbul wathan Muhammadiyah. Masuk tentara dan jadi Jenderal pada usia 27 tahun. Taktik perang Gerilya yang menyejarah telah mengajarkan kepada kita tentang perjuangan seorang Jenderal Sudirman meskipun saat itu kondisinya sedang sakit dan ditandu oleh para tentaranya. Nilai patriotik ini tidak boleh hilang terkikis zaman. Justru di tengah zaman ketidakpercayaan ini nilai patriotik harus dibangkitkan kembali bila ingin menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh di dunia, tentunya bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

Nilai kedua adalah kreatif, nilai kreatif juga menjadi hal yang penting untuk dibangun oleh para pemuda bangsa ini. Di tengah arus globalisasi yang segala sesuatunya menjadi serba instan dan cepat, di saat perekonomian sektor online juga turut berpengaruh, maka yang dibutuhkan oleh para pemuda adalah daya cipta dan daya kreasi yang harus semakin menguat. Fenomena generasi gelombang ketiga Indonesia yang dimana kecenderungan generasi ini adalah berwirausaha, maka untuk membangun jiwa entrepreneurship yang kokoh dimulai dari meningkatkan kreatifitas dalam mencipta dan memasarkan produk, kelak industri ekonomi kreatif juga akan mengambil peran penting apabila dikorelasikan dengan fenomena bonus demografi di Indonesia.

Nilai ketiga adalah setiakawan, beragamnya latar belakang suku, budaya, dan sosial para pemuda Indonesia tentunya membutuhkan model kepemimpinan yang tidak biasa. Potensi konflik karena kondisi yang heterogen ini tentunya perlu sebuah gagasan yang dapat mensinergikannya. Potensi konflik ini tentunya bila dikelola dengan baik maka dapat berubah menjadi potensi pembangun peradaban yang besar. Setiakawan menjadi kunci sinergitas untuk menghimpun potensi-potensi para pemuda Indonesia. Bukan hal yang tidak mungkin semangat kesetiakawanan ini dihidupkan kembali di zaman sekarang, seperti apa yang pernah dilakukan di masa lalu pada 28 Oktober 1928, peristiwa yang kita kenal bersama dengan sebutan Sumpah Pemuda, sebuah kongres yang pertama kalinya nama “Indonesia” disebut dalam forum umum.

Narasi negeriku belum selesai sampai disini, masih akan terus kutulis kegelisahan tentang zaman, kerisauan tentang realitas, kegamangan berpikir soal peradaban dan sistem politik dan pemerintahan, yang masih menjadikan pembangunan fisik sebagai prioritas dari pada pembangunan jiwa. Sungguh saat ini pembangunan jiwa juga turut mendapat perhatian, seperti character building, people and youth empowerment, yang pada intinya mengubah secara perlahan pola pikir yang kontraproduktif. Agar kelak negeri ini tak sekedar menyanjung para atlet-atlet muda yang berprestasi di bidang olahraga, tetapi juga mengapresiasi para pemikir dan penemu. Agar kelak negeri ini juga turut memperhatikan gagasan besar para pemuda dan kebijaksanaan kaum tua, seperti kita ketahui bersama kebijaksanaan kaum tua dan semangat para pemudalah yang mengantarkan bangsa ini menuju proklamasi kemerdekaan. Agar kelak bangsa ini juga turut mengambil peran dalam pentas global, berpengaruh di dunia Internasional. Agar kelak negeri ini tak hanya sekedar produktif dan memiliki pengaruh, yang paling penting adalah keberkahan. Sebuah negeri yang diduga Atlantis di zaman dulu, sebuah negeri bagai sepenggal surga, sebuah negeri yang dilimpahi keberkahan, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, InsyaaAllah. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Cerita Arah Baru Turki

Figure
Organization