Home / Berita / Opini / Cita Rasa Partai Dakwah (Refleksi Milad PKS ke-18)

Cita Rasa Partai Dakwah (Refleksi Milad PKS ke-18)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Milad PKS ke-18. (pks.id)
Logo Milad PKS ke-18. (pks.id)

dakwatuna.com – Sebuah klaim akan menuntut adanya pembuktian, baik bagi mereka yang percaya terlebih bagi yang menentang, baik yang disengaja maupun insidental. Hal ini berlaku umum, shahih fii kulli makaan, wafii kulli zamaan.

Ambil contoh, klaim Al Quran. Saat Al Quran menjelaskan bahwa tidak ada manusia dan jin yang mampu membuat semisal dengan Al Quran, maka para penyair Quraisy berupaya mematahkan klaim  tersebut. Termasuk beberapa nabi palsu juga membuat. Bait syairnya jadi, tapi kualitasnya jauh berbeda. Akhirnya mereka menyadari kebenaran klaim Al Quran tersebut.

Contoh lain, kisah Islamnya Salman Al-Farisi. Saat Rasulullah SAW tiba di Madinah, Salman Al Farisi tidak langsung beriman. Dia ingin membuktikan sifat–sifat rasul sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, yakni sifat rasul menerima hadiah dan tidak menerima sedekah. Setelah ia menyaksikan sendiri perbedaan Rasulullah dalam memperlakukan hadiah dan sedekah, barulah dia yakin dan menyatakan diri masuk Islam.

Sejak awal dideklarasikan, PKS (sebelumnya PK) menahbiskan diri sebagai partai dakwah. Isinya para aktivis dakwah, misinya berdakwah di jalur parlemen dan kebijakan umumnya adalah amar ma’ruf nahi munkar. Dalam perjalanannya, ada fase–fase pergerakan yang memiliki cita rasa khas, di antaranya:

Pertama, Oposan

Elit partai, pengurus dan kader berada dalam suasana oposisi dengan penguasa. Semangat yang dibawa adalah suasana nabi Musa melawan Firaun, framingnya hitam putih dan cenderung heroik. Kita datang, berdiri tegak di hadapan penguasa dan berteriak lantang untuk membela mereka yang tertindas dan menentang kebijakan negara yang memberatkan rakyat.

Proses advokasi dilakukan baik oleh anggota legislatif melalui sikap politiknya, para pemikir melalui tulisannya hingga para kader dan simpatisan melalui aksi demonstrasinya. Isunya khas, seperti menolak kenaikan harga BBM dan solidaritas Palestina. Harus diakui, inilah sifat genuine kader PKS yang setiap saat cenderung bersikap kritis terhadap fenomena sosial maupun kebijakan penguasa.

Kedua, Partisipatif

Sebagian elit masuk ke lingkaran kekuasaan, khususnya lingkaran istana. Beberapa pos kementerian diambil sebagai sarana melakukan proses perbaikan dari dalam, berlatih mengelola negara hingga wujud penajaman konsep untuk membuktikan jargon “Islam adalah solusi”.

Semangat yang dibawa adalah suasana Nabi Yusuf yang mampu menyelamatkan Mesir dari bencana (kemarau). Kebijakan, strategi dan program diuji agar bisa memberi dampak positif bagi bangsa. Dalam skup yang terbatas, PKS ingin mewujudkan swasembada beras, swasembada daging dll.

Tidak mudah melakukan peran partisipatif dalam pemerintahan, karena banyaknya kepentingan yang bertabrakan serta fatsun politik yang kadang membelenggu. Julukan “koalisi tidak loyal” atau “koalisi bercita rasa oposisi” sering disematkan pihak luar ke PKS. Padahal sebagai makmum, PKS juga berkewajiban mengingatkan imam jika lupa atau melakukan kesalahan.

Ketiga, Nakhoda

Ini adalah fase puncak, di mana PKS menempatkan kadernya sebagai kepala eksekutif. Semangat yang dibawa adalah suasana Nabi Sulaiman yang membawa rakyatnya (Bani Israil) ke zaman keemasan serta menebar dakwah ke penjuru dunia (negeri Saba).

Ini adalah fase di mana PKS memiliki legitimasi kuat dari rakyat untuk memimpin dan melayani bangsa, leluasa untuk menjalankan program dan kebijakan sesuai dengan ideologi perjuangan yang diyakininya. Fase ini mulai dirasakan pada skala kabupaten dan provinsi. Sedangkan pada skala nasional, kita masih menunggu kesempatan agar bisa memerintah seperti di Turki dan Arab Saudi.

Khatimah

Kita beruntung diberi banyak model  dakwah dari para nabi. Ada nabi yang hanya berdakwah di tengah umatnya saja, ada pula nabi yang dalam dakwahnya harus berinteraksi dengan kekuasaan. Tanpa bermaksud menegasikan pola dan strategi dakwah lainnya, karakter PKS umumnya terpola pada tiga model tersebut. Meskipun bisa jadi cita rasa di satu daerah tidak sama dengan di daerah lain. Atau pola pergerakan antara realitas lokal tidak sebangun dengan realitas nasional. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Milad ke 17, Salimah Kokohkan Peran untuk Kemajuan Perempuan Indonesia