Home / Berita / Nasional / Guru Bertanggung Jawab Tumbuhkan Persatuan dan Kesatuan

Guru Bertanggung Jawab Tumbuhkan Persatuan dan Kesatuan

Anggota MPR / DPR RI asal Daerah Pemilihan Kaltim – Kaltara, H Hadi Mulyadi, ketika melakukan sosialisasi  “Empat Pilar  MPR RI”  di hadapan guru-guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Jumat (15/4).
Anggota MPR / DPR RI asal Daerah Pemilihan Kaltim – Kaltara, H Hadi Mulyadi, ketika melakukan sosialisasi “Empat Pilar MPR RI” di hadapan guru-guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Jumat (15/4).

dakwatuna.com – Para guru di berbagai tingkatan sekolah, mulai taman kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) /  sederajat, bertanggung jawab menumbuhkan persatuan dan kesatuan Indonesia di jiwa masing-masing siswa mereka.

Hal itu ditegaskan,  anggota MPR / DPR RI asal Daerah Pemilihan Kaltim – Kaltara, H Hadi Mulyadi, ketika melakukan sosialisasi  “Empat Pilar  MPR RI”,  yakni Pancasila,  Undang-Undang Dasar  1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika,  di hadapan guru-guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Jumat (15/4/2016).

“Guru harus memupuk rasa nasionalisme di hati para siswa mereka, menjaga mereka jangan sampai tercerai berai dan tetap berada dalam ikatan persatuan kesatuan Indonesia,” kata pria murah senyum,  yang popularitas dan elektabilitasnya terus menanjak sebagai calon Gubernur Kaltim 2018 – 2023 tersebut.

Menurut Hadi Mulyadi, melalui persatuan dan kesatuan Indonesia , paling tidak tiga hal yang dapat dilakukan, yakni  menjalin rasa kebersamaan dan saling melengkapi antara satu sama lain, menjalin rasa kemanusiaan dan tingginya sikap saling toleransi serta keharmonisan untuk hidup secara berdampingan dan menjalin rasa persahabatan, kekeluargaan serta sikap saling tolong menolong antar sesama dan bersikap nasionalis religius.

Ditambahkan, Bangsa Indonesia dikenal dengan keberagamannya,  mulai dari suku, ras,  agama, budaya, kebiasaan, dan bahasa, membuatnya dikenal sebagai bangsa yang majemuk, banyak corak dan memiliki latar belakang beragam.

“Banyak negara yang terpecah-pecah  karena perbedaan agama, tapi bangsa Indonesia bisa menyatukan enam agama.  Banyak negara tercerai berai  karena perbedaan suku,  namun rakyat Indonesia  mampu menyatukan lebih  400 suku bangsa.  Banyak negara  harus berpisah karena bahasa, namun  penduduk  Indonesia dapat menyatukan ratusan ragam bahasa  daerah dengan bahasa persatuan Indonesia.  Karunia Allah berupa persatuan dan kesatuan ini harus kita syukuri bersama, dengan jalan merawatnya,” kata anggota Komisi II DPR RI, yang membidangi  Pemerintahan Dalam Negeri, Otonomi Daerah, Aparatur Negara, dan Agraria tersebut.

Menurut wakil rakyat kelahiran  Samarinda, 9 Mei 1968, jebolan strata satu (S1) matematika Fakultas MIPA tahun 1995 dan magister sains (S2)  ilmu ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 2004 itu, tantangan Indonesia ke depan sangat berat, baik akibat pengaruh dari luar, maupun dinamika yang terjadi di Indonesia sendiri.

Meskipun begitu, Hadi Mulyadi mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para guru Sekolah Islam Terpadu, untuk terus menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan Indonesia, terutama di kalangan anak didik,  menjaga kekompakan dan tetap saling tolong menolong  dalam hal kebaikan, sehingga seberat apa pun tantangannya, bangsa ini dapat menghadapinya.

“Saya tak pernah bosan menyampaikan bahwa, Kebersamaan, persatuan kesatuan, semangat tolong menolong dalam hal kebaikan, merupakan modal utama bangsa kita untuk bisa maju dan jaya, dengan rakyat yang adil, makmur , sejahtera,” kata  Anggota Majelis Syuro  dan Sekretaris Lajnah Tadrib Dewan Syariah (DSP) Pusat Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Pada pertemuan tersebut Hadi Mulyadi  juga mengimbau seluruh elemen masyarakat, khususnya para guru Sekolah Islam Terpadu,  untuk terus  menjaga keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara, karena hanya dengan hidup yang aman, tanteram dan damai,  bangsa Indonesia bisa membangun secara bersama-sama, demi kejayaan Indonesia, khususnya Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara,  di masa depan.

Wakil rakyat yang mempunyai hobi menulis puisi ini juga mengingatkan, menjaga keutuhan NKRI adalah kewajiban semua warga negara.  Masalah-masalah yang menjadi faktor disintegrasi bangsa harus diselesaikan sejak  dini  oleh  seluruh komponen bangsa. Perpecahan antar suku,  masalah  narkoba, terorisme,  radikalisme dan lain sebagainya harus menjadi perhatian  serius bagi seluruh anak bangsa Indonesia, untuk dituntaskan sebaik-baiknya,   tanpa menimbulkan ekses baru dari penyelesaian masalah itu.

“Masalah lesbian, gay, biseksual dan trans gender (LGBT) juga harus menjadi perhatian kita bersama, karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama dan nilai-nilai ketimuran yang kita anut,” kata pendukung fanatik tim sepakbola asal Inggris, Arsenal dan tim sepakbola asal Spanyol, Real Madrid tersebut.  (adv/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ustadz Yusuf Supendi Meninggal Dunia

Organization