Home / Berita / Internasional / Amerika / Seorang Mahasiswi Diusir dari Pesawat Hanya Karena Bicara Bahasa Arab

Seorang Mahasiswi Diusir dari Pesawat Hanya Karena Bicara Bahasa Arab

Islamofobia
Southwest Airlines Boeing 737 MAX 8. (thepointsguy.com)

dakwatuna.com – Los Angeles.  Kisah Islamofobia di pesawat kembali terjadi di Amerika Serikat. Kali ini dialami Seorang mahasiswi yang diusir dari pesawat Southwest Airlines setelah berbicara bahasa Arab. Seperti dilaporkan Independent, Senin (18/4/2016), maskapai memutuskan untuk mengeluarkannya dari pesawat karena penumpang lain merasa terancam.

Mahasiswa bernama Khairuldeen Makhzoomi (26 tahun) itu terdengar berbicara dalam bahasa Arab sebelum pesawat lepas landas. Makhzoomi adalah mahasiswa Universitas California, Berkeley. Ia masuk AS sebagai pengungsi dari Irak pada 2010 lalu.

Makhzoomi saat itu berada di pesawat untuk menerbangan dari Los Angeles ke Oakland. Sebelum pesawat terbang, ia menelpon pamannya di Baghdad untuk bercerita soal acara yang ia datangi hari sebelumnya. Acara itu menghadirkan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon.

“Saya sangat bersemangat dengan acaranya, jadi saya menghubungi paman untuk bercerita soal itu,” kata Makhzoomi dilansir republika.co.id. Di akhir percakapan mereka, Makhzoomi mengucapkan ‘Insya Allah’ sebagai ucapan sebelum menutup telepon.

Penumpang di dekat Makhzoomi menganggap ucapan itu sebagai sesuatu yang mungkin mengancam. Penumpang perempuan itu kemudian pindah ke depan. “Ia terus memandangi saya dan saya tidak tahu apa yang salah, tapi kemudian saya sadar dan berharap ia tidak melaporkan,” kata Makhzoomi.

Sayang perempuan itu ternyata memberitahu staf pesawat bahwa Makhzoomi mengatakan kata syahid. Staf kemudian mendatanginya dan bertanya kenapa ia berbicara demikian. Makhzoomi mengatakan staf itu berbicara pada seakan ia binatang.

“Saya katakan padanya, beginilah Islamofobia di AS,” katanya. Makhzoomi kemudian dikawal personil keamanan keluar pesawat dan bandara. Tiga agen FBI dipanggil oleh otoritas keamanan bandara dan menginterogasi Makhzoomi di ruangan khusus.

FBI menanyainya soal keluarga, khususnya ayahnya, Khalid Makhzoom. Ia adalah mantan diplomat Iran yang dikirim ke penjara Abu Ghuraib oleh Saddam Hussein. Ayahnya itu kemudian dieksekusi oleh rezim.

FBI mengonfirmasi kemudian Makhzoomi tidak berbahaya. Sementara Southwest Airline menolak berkomentar soal penanganan pada karyawannya. “Kami menyesali pengalaman tidak positif yang dihadapi pelanggan di pesawat kami. Southwest tidak sama sekali menoleransi diskriminasi dalam bentuk apa pun,” kata mereka dalam pernyataan.

Makhzoomi hanya ingin maskapai ini minta maaf atas perlakukan yang diterimanya. Menurut Makhzoomi, ia dan keluarganya sudah cukup sabar juga menganggap ini sebagai kenangan buruk. “Jika mereka minta maaf, mungkin ini akan mengajarkan pada mereka untuk memperlakukan orang sama rata,” katanya.

Kisah Islamofobia di pesawat tercatat sering terjadi di AS. Seorang wanita muslim bernama Kameelah Rasheed dicegat saat hendak naik pesawat dan ditanyai selama lebih dari dua jam oleh agen FBI di Bandara Internasional Liberty Newark, membuat rencana liburannya ke Istanbul batal.

Wanita 30 tahun lulusan Standford University yang kini menjadi seniman dan redaktur kontributor di The New Inquiry ini mengaku awalnya diperbolehkan naik ke pesawat United Airlines setelah melalui pemeriksaan keamanan dan menjawab beberapa pertanyaan petugas. Namun sesaat sebelum pesawat lepas landas, dia diminta turun dan diinterogasi oleh agen FBI.

Telepon dan paspornya wanita kulit hitam ini disita dan dicecar pertanyaan seperti: “Kenapa terbang? Di mana tinggal di Istanbul? Dari mana uang untuk berlibur? Berapa harga tiket pesawat?”

Rasheed mengatakan, dia adalah satu-satunya penumpang yang memiliki identitas seorang Muslim, yaitu berjilbab. “Ini adalah upaya untuk mempermalukan dan mendiskriminasikan saya,” kata Rasheed, dikutip dari cnnindonesia.com

Menurut Rasheed, kejadian Paris tidak meningkatkan Islamofobia di AS. Islamofobia di negara ini, kata dia, memang sudah sedari dulu tinggi. “Saya tidak mengira ada peningkatan Islamofobia usai serangan Paris. Saya kira Islamofobia tidak pernah hilang, bahkan menjadi lebih legal,” kata Rasheed. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Referendum Mesir, Cara As-Sisi Untuk Berkuasa Hingga 2030

Organization