Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Manisnya Web Bombastis dan Hambarnya Web Resmi

Manisnya Web Bombastis dan Hambarnya Web Resmi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - (independent.mk)
Ilustrasi – (independent.mk)

dakwatuna.com – “Akh, baiknya kita akhiri saja perdebatan ini.”

“Kau takut? Atau kau sudah tak mampu lagi menghadapi argumentasiku?”

“Aku rasa perdebatan ini lebih banyak mudharatnya. Saat kita memulai perjalanan ini untuk sebuah cita yang sama, tentang dakwah, terbayangkah jika kemudian kita akan berantem sendiri seperti ini?”

“Makanya, untuk dakwah, kebenaran harus disampaikan.”

“Mungkin kita perlu untuk lebih mendinginkan kepala. Kita lanjutkan diskusi di email saja, agar kita punya lebih banyak waktu untuk mencerna. Ingat pesan guru kita, engkau sebarkan pandanganmu dalam satu tulisan, adalah lebih bermanfaat bagimu, daripada berdebat selama satu bulan penuh.”

***

Saudaraku, yang kita capai sejengkal demi sejengkal, dengan cucuran keringat, kemudian luluh lantak dalam sekejap. Hanya tersapu oleh selentikan-selentikan kecil, selebihnya tangan-tangan kita sendiri yang merobohkannya. Masing-masing dari kita saling menghancurkan satu sama lain. Begitulah yang menimpa dakwah ini, dan terulang kembali untuk kesekian kalinya.

Aku sibuk membuat argumentasi untuk mematahkanmu, demikian pula engkau. Sedang semua itu tak sedikit pun merubah pendirian kita masing-masing. Masing-masing kita mencari pembenaran sendiri-sendiri. Yang kita dapatkan hanyalah perdebatan tiada ujung yang makin membuat jarak antara kita, bahkan menjadikan kita berhadap-hadapan bagai dua orang musuh. Agenda dakwah kitalah yang menjadi korbannya. Kalah jadi abu, menang jadi arang.

Sama seperti ketika sebelumnya, kita terjebak pada permusuhan dengan mereka yang sebenarnya adalah obyek dakwah kita. Ketika dakwah ini bertransformasi menjadi bully-membully, mencaci dan mencela, serta mengumbar meme-meme yang berisi aib dan umpatan. Semua itu kita nikmati tanpa sadar, bahkan kita lakukan atas nama dakwah. Tapi sama, semua itu tak lantas membuat obyek dakwah kita menjadi insyaf.

Konten-konten bombastis yang bertebaran, yang bersumber dari web tak resmi itu memang manis, bahkan seolah menjadi pembela dakwah. Tanpa kita sadari bahkan konten-konten negatif itu merekalah sendiri yang membuatnya, dan di balik konten-konten itu ada agenda tersembunyi mereka. Konten tentang partai terkorup, merekalah yang membuatnya, melemparkannya, dan kita dengan antusias menyebarkannya. Banyak informasi yang bercampur baur dengan hoak dan fitnah dan kita menyebarkannya tanpa pikir panjang bahwa ia adalah jebakan. Untuk kesekian kalinya mereka berhasil mem-PHP kita.

Sampai aku merasa tak nyaman dengan itu semua. Aku hanya sedikit dari yang menginginkan dakwah kita berjalan dengan santun dan simpatik, menjaga kesabaran atas sepahit apapun yang mereka timpakan. Tapi jangankan engkau, aku pun malas membuka web resmi yang isinya datar-datar saja. Konten-konten negatif itu memang lebih manis.

Aku sempat membuat analog ini untukmu. Aku membuat analogi antara situs-situs yang bombastis dengan situs resmi yang datar dengan makanan sehat yang tidak menggunakan bahan-bahan tambahan, tentunya akan cenderung terasa hambar. Tetapi makanan yang diberi berbagai bahan tambahan, di balik kelezatannya, ada bahan-bahan yang sebenarnya kita tahu itu ada tidak baiknya. Ternyata persoalan ini tak sesederhana itu. Tipu daya ini terlalu pelik untuk dimengerti.

Kita dan obyek dakwah didesain untuk saling bermusuhan, dan kita mau. Islamis dan Nasionalis dibenturkan untuk menjadi musuh satu sama lain, saling membully, menyerang, berada dalam suasana saling membenci, saling mencaci, dan kita menikmati permusuhan ini. Sedang mereka mengambil keuntungannya.

Konten-konten negatif yang kita sebar itu juga tak menggoyahkan sedikitpun kekuatan lawan-lawan politik kita. Sikap kritis kita tak mengurangi sedikitpun kekuasaan mereka. Bahkan itu adalah tipu daya mereka, dan akhirnya menjadi bumerang bagi kita sendiri, akhirnya kita sendiri yang berantem. Ukhuwah yang semula teramat kokoh, seperti tak kan pernah pudar, kemudian bisa terkoyak.

Ketika Islamis dan Nasionalis berbenturan, justru membuat mereka makin jauh dari agenda dakwah kita, bahkan menimbulkan sikap antipati dan permusuhan terhadapnya. Sekaligus menjadikan mereka makin dekat kepada kepentingan sekuleris, liberalis dan aliran-aliran sempalan. Ini menjadi pukulan telak bagi dakwah ini, menjadikan dakwah ini kian terisolir.

Sejak kecil kita diberi pelajaran tentang divide et impera, tapi ketika ia datang dalam bentuk yang berbeda, kita terjebak, kita tak mampu lagi mengenalinya. Kita hanya membalas serangan dengan serangan, hinaan dengan hinaan, kezhaliman dengan kezhaliman, pendek sekali pikiran kita. Tanpa kita bisa berpikir lebih jauh bahwa di balik semua itu ada tangan lain yang bermain. Bukan hanya menimpa bangsa kita, bahkan hingga pada gejolak Arab Spring, Islamis dan Nasionalis, reformis dan status quo, dikondisikan untuk berbenturan. Akhirnya kita berpayah menghancurkan sebuah tiran, tapi hanya untuk memberi jalan bagi tiran lain yang lebih buruk, dan kita hanya menikmati kekalahan demi kekalahan.

Kita hidup di masa akhir dunia yang penuh fitnah, para pendahulu kita amat takut jika berjumpa dengan masa seperti ini, ketika fitnah datang bergelombang seperti potongan-potongan malam, gelap, hitam tak lagi tampak hitam dan putih tak lagi tampak putih. Sangat rumitnya hingga kita yang mengalaminya sendiri sampai tak menyadari lagi kehadirannya.

Begitulah fitnah ini teramat dahsyat, bukan hanya lemahnya kita yang membuat barisan kita roboh, tetapi juga kekuatan kita yang kemudian menimpa satu sama lain. Bukan hanya bungkam dan takutnya kita yang menjadi tiket gratis bagi mereka, tapi keberanian dan kekritisan kita menjadi sarana yang bisa dimanfaatkan oleh mereka. Bukan hanya pragmatisme dan oportunisme kita, tetapi idealisme dan militansi kita, mereka olah dan tunggangi. Bahkan semangat jihad kita, mereka tak perlu bersusah payah memadamkannya, bahkan mereka memerlukannya, menghidupkannya, untuk menungganginya.

Begitulah tipu daya zaman ini, ketika kita harus keluar dari satu tipu daya untuk terjerembab pada tipu daya yang lain. Ketika kita harus keluar dari satu jalan, untuk terjebak pada kebuntuan jalan lain. Manisnya adalah umpan, pahitnya adalah racun. Kebebasannya, otoriternya, sama-sama menghancurkan. Hingga kita tak mungkin luput darinya. Ia tidak hanya menghadang kita dari depan, tapi juga menghantam dari belakang. Ia tidak hanya menghampiri kita dari kiri, tapi juga menimpa dari kanan kita. Namun masih ada atas untuk kita menengadahkan tangan, dan ada bawah untuk kita bersujud.

Saudaraku, jika perpisahan ini harus terjadi, ada yang tak boleh kita lupakan dari guru kita. Jika kita berada di dalam prinsip yang sama, sejauh apapun jarak memisahkan, suatu saat nanti pasti kita akan bertemu. Namun, jika ada di antara kita yang berkhianat, sedekat apapun kita, suatu saat nanti pasti akan berhadap-hadapan. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Manisnya Ramadhan

Organization