Topic
Home / Berita / Nasional / HNW: Dialog Antaragama Harus Pengaruhi Pengambil Kebijakan

HNW: Dialog Antaragama Harus Pengaruhi Pengambil Kebijakan

Hidayat Nur Wahid ketika berbicara di forum KAICIID di Wina, Austria, Selasa (12/4/2016).
Hidayat Nur Wahid ketika berbicara di forum KAICIID di Wina, Austria, Selasa (12/4/2016).

dakwatuna.com – Wina.  Dialog antaragama dinilai baru sebatas dilakukan oleh para pemimpin agama, dan kurang memengaruhi para elite pengambil kebijakan. Akibatnya, konflik antar pemeluk agama masih terus terjadi.

Demikian dikemukakan oleh Hidayat Nur Wahid, dalam Sidang Dewan Penasehat KAICIID, International Center for Interreligious Dialogue, pada Selasa (12/4/2016), di Wina, Austria. Dalam forum tersebut, Hidayat juga dikukuhkan sebagai penasehat KAICIID yang berpusat di Wina, Austria.

Hidayat juga mendukung upaya KAICIID untuk memosisikan dirinya seperti ‘PBBnya agama-agama’ atau yang diistilahkan sebagai ‘United Religions for Peace’. Hidayat menilai, inisiatif melakukan dialog antar pemimpin agama sudah banyak dilakukan, namun efektivitasnya masih perlu banyak ditingkatkan.

“Para pemuka agama harus lebih komprehensif dalam melihat penyebab konflik ini. Tidak hanya secara kultural, namun juga secara struktural,” jelasnya.

Dalam forum yang dihadiri oleh para pemimpin beragam agama dari seluruh dunia tersebut, Hidayat menyorot politik luar negeri semaunya sendiri yang dilakukan oleh negara-negara adidaya terhadap negara yang lebih lemah.

“Persoalan struktural ini adalah termasuk adanya state terrorism, yang melahirkan trauma berbasis sentimen ras dan agama,” tandasnya.

Hidayat menegaskan bahwa interreligious dialogue harus berusaha mempengaruhi pusat-pusat kekuatan dunia, agar mereka tidak menjadikan isu kemanusiaan dan agama sebatas komoditas politik.

“Inilah yang dimaksud dengan dialog antar-agama yang lebih efektif,” tegas Hidayat.

Sebagai Penasehat KAICIID International Dialogue Center, Hidayat merekomendasikan agar para pemuka agama lebih berani untuk memengaruhi pusat-pusat kekuasaan dunia, agar tidak melakukan kesewenang-wenangan yang melahirkan sentimen antar ras dan agama.

Pandangan Hidayat tersebut banyak mendapat respons positif dari para pemuka agama lainnya. Karena diakui, bahwa politik luar negeri dari negara adidaya yang semaunya sendiri tersebut telah melahirkan efek domino yang juga merusak tatanan sosial di negaranya sendiri.

KAICIID sendiri adalah pusat dialog antar peradaban yang disupervisi secara multi-lateral oleh Pemerintah Austria, Saudi Arabia, Spanyol, dan Vatikan dan didukung oleh para pemimpin agama dari seluruh dunia. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Grand Launching SALAM Teknologi Solusi Aman Covid-19 untuk Masjid

Figure
Organization