Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Pernah Bosan Membela Palestina

Jangan Pernah Bosan Membela Palestina

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (act.id)
Ilustrasi (act.id)

dakwatuna.com – Ini sebuah perumpamaan. Kita adalah seorang penduduk di sebuah desa yang permai, kemudian kita membangun masjid yang indah agar kita bisa tenang beribadah. Kepala desa dan para tokoh masyarakatpun ikut andil dalam pembangunan masjid itu, sehingga seakan-akan masjid impian itu mendapatkan sebuah kehormatan karena dibangun para sesepuh desa. Akhirnya, selesai juga masjid impian kita, berdiri tegak di tengah desa, setiap hari kita mengujunginya, sembari mengajak sanak keluarga mengaji di serambinya.

Namun tiba-tiba tanpa permisi, ada sekelompok orang tak dikenal masuk tanpa izin ke desa. Mereka datang dengan tidak sopan, bergerombol sembari bersikap angkuh terhadap penduduk desa, termasuk pada kita. Pada awalnya kita memakluminya, mungkin mereka sedang mencari tempat persinggahan sejenak sebelum meneruskan perjalanan menuju tujuan mereka. Kita berprasangka baik, sudah itu saja.

Hari pertama di desa itu, mereka masuk ke rumah-rumah penduduk, menuntut minta disediakan kamar dan bahkan beberapa keluarga yang lama menetap di sana mereka usir seketika. Sungguh aneh dan tak masuk akal, apa hak mereka? Lagi-lagi mereka berbuat ulah, melempari anak-anak yang baru pulang dari sekolah dengan kerikil hingga mereka berdarah. Namun ketika kita berniat mengusir karena keonarannya, seorang pejabat yang berkedudukan tinggi malah menyuruh kita membagi tempat dengan mereka. Enak saja! Tapi bagaimana lagi, ia punya jabatan tinggi yang tak bisa dilawan. Kita terdiam, kita terzalimi.

Ternyata esoknya lagi orang-orang asing itu membuat kerusuhan besar! Mereka datang dengan traktor, sembari membawa alat-alat penghancur, datang ke masjid yang telah kita bangun, kemudian merobohkannya?! Ketika kita hendak melawan, mereka menembakkan peluru ke anak-anak kita, merobohkan pula rumah dan hunian kita, mengusir banyak keluarga. Apa-apaan ini? Orang asing tiba-tiba datang merusak kedamaian desamu, mengambil segala sesuatu yang bernilai bagimu, dan ketika kau ingin melawan, mereka mengadu ke pejabat tinggi di sana, yang kemudian menyuruhmu untuk berbagi tempat dengan mereka?

Pedih? Sedih? Masjid impianmu yang indah mereka robohkan!

Kira-kira begitulah perumpamaan sederhana yang belum cukup untuk mewakili kekalutan yang terjadi di Palestina. Bayangkan, jika masjid di desamu yang dirobohkan kau saja marah melawan, bagaimana dengan masjid suci ketiga di bumi, yang dibangun oleh para nabi, dijadikan tempat tinggal oleh para rasul, kini berusaha dihancurkan oleh orang asing bernama penjajah zionis Israel? Betapa pedih rasanya.

Maka itu, wajarlah jika seorang ibu tua berkata tegas di hadapan wartawan ketika ditanya, “kenapa ibu tidak pindah saja ke negeri lain yang lebih aman?”, dan ia menjawab, “jiwa kami tidak sebanding dengan kesucian masjid Al-Aqsha! Kami mewakili seluruh dunia Islam bertahan di sini agar kalian tak mendapat dosa besar karena melalaikannya!”

“Kenapa jauh-jauh memikirkan Palestina? Negeri kita saja sedang carut marut!”, kata sebagian orang. Jawabannya adalah; permasalahan Palestina bukan tentang persoalan kemanusiaan saja, di sana sepotong akidah kita berdiri. Membela Palestina adalah membela akidah, menelantarkannya adalah mengiris-iris akidah kita hingga rapuh. Lagipula, sejatinya Palestina ibarat satu saklar raksasa, yang apabila ia berada dalam kedamaian, maka damailah seluruh penjuru bumi, dan apabila ia gelap dalam kezaliman, maka seperti itu pula keadaan bumi. “Palestina itu, jika ia jaya, jayalah kaum muslimin. Jika ia terlantar, terlantarlah kaum Muslimin”, kata Syaikh Ali Muqbil, Pakar Kepalestinaan masyhur.

“Bukannya ketika Palestina merdeka, berarti kiamat makin dekat? Kenapa kita repot memperjuangkannya? Kau mau menyegerakan kiamat?!”, kata sebagian orang yang lain. Jawabannya adalah; mau kau perjuangkan atau kau telantarkan, Palestina akan tetap jaya di waktunya nanti. Yang jadi masalah adalah, bukan Palestina yang butuh kita, tapi kita yang butuh keberkahannya. Di saat-saat terlantarnya kini, apakah kita berusaha menjadi penolongnya? Atau hanya repot memprotes dan mengurung diri dari kepedulian padanya? Semuanya memiliki ganjarannya masing-masing.

“Yahudi terlalu kuat, mereka terlanjur sudah menguasai dunia”, kata sebagian yang lain. Kata siapa mereka begitu kuat? Bukankah Allah sendiri menyifati mereka dengan selemah-lemahnya kekuatan? “Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” (QS Al-Hasyr : 14).

“Jangan menolong Palestina, nanti kita dituduh kaum ekstremis”, pula kata orang lain. Jika mereka sebut pejuang Palestina sebagai kaum ekstremis, bagaimana dengan Umar bin Khattab yang mencurahkan perhatian besarnya untuk membebaskan Palestina? Bagaimana pula dengan Shalahuddin Al-Ayyubi yang bahkan sampai tak tersenyum, “Bagaimana aku bisa tersenyum, sementara Al-Quds terjajah?”, bukankah mereka menjadi pahlawan besar di zamannya hingga kini? Bahkan Rasulullah telah menunjukkan sebuah pesan penting untuk diingat, “Akan ada sekelompok dari Ummatku yang tetap kokoh dalam kebenaran, bersikap tegas pada musuh mereka. Mereka takkan menyerah pada musuh mereka. “Dimana mereka wahai Rasulallah?”, tanya sahabat. “Di Baitul Maqdis, dan di sekitar Baitul Maqdis”, jawab beliau bijaksana.

Dengan atau tanpa kita, Palestina telah digariskan Allah kembali merdeka. Yang jadi pertanyaan bagi kita adalah; Akankah nama kita tertulis di langit sebagai hamba yang memperjuangkannya? Atau terlantar sebagai penonton yang pandai berkomentar sampai berbusa-busa, kemudian hanya memandang terpaku ketika ia telah terbebas? Naudzubillah min dzalik. Jangan pernah bosan membela Palestina, baik dengan doa, harta, fikiran dan raga. Wallahu A’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir | Alumni SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang | Alumni Ponpes Husnul Khotimah Kuningan

Lihat Juga

Netanyahu Rayakan ‘Rekonsiliasi Arab’ dengan Rampas Rumah Palestina dan Tutup Masjidil Aqsha

Organization