Home / Narasi Islam / Ekonomi / Ekonomi Islam Harga Mati

Ekonomi Islam Harga Mati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ekonomi Islam - Inet (
Ekonomi Islam – Inet (

#Jilid1

dakwatuna.com – “Selama sistem yang sama masih digunakan, problem yang sekarang mengahantui peradaban manusia tak akan pernah bisa diselesaikan”

Ekonomi Islam merupakan turunan dari Islam, bukan turunan dari kegiatan ekonomi. Maka seluruh kompenen dan sistem ekonomi Islam harus berdasar pada landasan Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Islam sendiri adalah agama yang menyeluruh (Rahmatan-lilalamin) jadi sudah sepantasnya setiap sendi-sendi kehidupan harus sesuai dengan aturan Islam. Berpolitik secara Islam, belajar secara Islam, bertingkah laku secara Islam, berhukum secara Islam, berfikir secara Islam, bekerja secara Islam dan berekonomi pun harus secara Islam, intinya keseluruhan hidup kita harus secara Islam. Ya, karena Islam adalah sebuah identitas bukan hanya gelar atau nama untuk ritual belaka. Chandra Natadipurba dalam bukunya yang berjudul “Ekonomi Islam 101” mengatakan, jika seorang muslim yang pemikirannya komunis, bisnisnya kapitalis, jiwanya narsisis, politiknya oportunis dan tujuannya materialis bukanlah muslim sama sekali, sebab ia adalah pribadi yang terbelah (Split Personality).

Dalam kehidupan manusia, ekonomi adalah salah satu pilar utama dari kehidupan itu sendiri. Ekonomi yang kokoh menandakan kejayaan dan kekuatan suatu negara, sedangkan ekonomi yang lemah memperlihatkan ketidak berdayaan suatu negara. Bisa kita lihat Uni Soviet dengan paham komunisnya yang hancur dan menjadi kenangan sisa-sisa sejarah. Sistem ekonomi komunisme Uni Soviet yang gagal mempertahankan kedaulatannya dikarenakan kegagalan sistem ekonomi yang terjadi akibat kelonggaran kekuasaan para pejabat Uni Soviet yang mengakibatkan tebuka lebarnya kesempatan untuk korupsi.

Lantas, sistem ekonomi mana yang pantas diterapkan setelah tadi melihat kegagalan ekonomi komunis Uni Soviet? Benarkah ekonomi kapitalis yang sekarang ini menjadi acuan di banyak negara adalah yang pilihan yang tepat? Memang, buah dari peradaban kapitalisme banyak melahirkan perubahan-perubahan besar, seperti pesatnya teknologi dan berbagai turunanya, peningkatan standar kehidupan, perkembangan budaya dan gaya hidup serta seni yang jauh melesat dari abad-abad sebelumnya. Namun, siapakah yang merasakan itu semua? Siapa yang merasakan dan menikmati kekayaan alam? Siapa yang merasakan dan menikmati serta menguasai dunia? Apakah hanya segelintir orang di Eropa dan Amerika Utara saja? Apakah keadilan ekonomi dirasakan oleh semua kalangan?

Saat ketidakadilan dirasakan, saat manusia-manusia menjadi individualis, saat uang adalah segala-galanya, saat kejahatan menjadi hal yang biasa, prostitusi menjadi hal yang wajar, kematiaan akibat kelaparan terjadi di belahan dunia dari hulu hingga ke hilirpun sudah menjadi berita sehari-hari, pendidikan terbengkalai dan hanya segelintir orang saja yang merasakan kekayaan, disitulah keberhasilan ekonomi kapitalis yang sebenarnya. Dimana keserakahan dan memperkaya diri menjadi prinsip dan tujuan utama. Joseph A Schumpeter seorang ekonom mengatakan setiap kemajuan yang dicapai oleh sistem ekonomi kapitalis tak berarti selain dari kerusuhan dan hura-hura (turmoil).

Istilah Time is Money semakin melegenda dan mendarah daging disetiap tubuh-tubuh manusia kala ini, bak orang yang berdiri kesurupan serta gila. Padahal dalam Islam 14 abad yang lalu dengan tegasnya Allah telah memperingatkan manusia akan haram dan bahaya riba, dalam Firman-Nya : “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata nahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi milikinya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”. (QS.Al-Baqarah:275) manusia yang sudah kerasukan setan jiwanya menjadi tidak stabil karena terkendalikan. Mudah terhuyung, terpengaruh dan tidak bisa berfikir jernih karena tidak bisa mengontrol diri.

Dalam bukunya “Satanice Finance” DR. Ahmad Riawan Amin mengatakan, ekonomi kapitalis yang dimotori riba sebagai dasarnya hanya tinggal menunggu waktu kapan meledak dikarenakan pertumbuhan semu yang tercipta dari ekonomi tersebut. Uncertainty menjadi bagian yang pasti, bunga (interest) adalah semacam charge yang wajar hingga semua manusia lupa bahkan merasa nyaman akan penjajahan dan perampokan yang sedang dilakukan para setan. Bunga sendiri tidak berdiri dengan sedirinya, melainkan ia adalah salah satu instrumen dari sistem moneter dimana transaksi manusia yang biasanya dilakukan dengan logam berharga, lalu diganti dengan secarik kertas yang tiada harganya. Inilah awal revolusi yang pada akhirnya menjanjikan kejayaan dan kemenanagn para setan, hingga lahirlah bunga yang sudah jelas dilarang oleh semua agama samawi.

Bagaimana, apakah ekonomi kapitalis yang menjadi kiblat perekonomian dunia saat ini memberikan keadilan? Saya berikan analogi yang lagi-lagi saya kutip dari DR. Ahmad Riawan Amin karena memang analogi sederhana yang membuat saya menjadi faham dan terbuka akan busuknya ekonomi kapitalis. Dalam bukunya, diceritakan ada 2 pulau yang kehidupannya makmur, damai, dan senang tolong menolong, sumber daya alam mereka luas dan indah. Bedanya pulau A sebut saja pulau Aya lebih maju dan modern, mereka juga dianugerahi tambang emas sehingga hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbol harta kekayaan, selain itu emas juga berfungsi sebagai alat transaksi di Pulau Aya karena diarasa jual-beli menjadi sederhana dan simpel. Sedangkan Pulau B sebut saja Pulau Baya mereka cenderung lebih sederhana dibandingkan Pulau Aya dan alat jenis transaksi mereka masih menggunakan sistem barter, tapi sekali lagi itu semua tidak menjadi maslaah bagi mereka karena kehidupan yang cukup dan tentram.

Hingga suatu hari datanglah 2 orang asing berbenampilan perlente ke Pulau Aya. Mereka bercerita telah melanglang buana dari pulau satu ke pulau lainnya dengan memperlihatkan koin-koin emas asing sebagai bukti yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perlawatan. Namun, ada satu hal yang paling menarik dan baru dilihat oleh orang-orang pulau Aya, kedua orang siang itu menyebutnya sebagai uang. Mereka mengatakan bahwa uang jauh lebih efisien ketimbnag emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas itu sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibandingkan dengan tempat tinggal mereka. Mendengar kisah itu akhirnya penduduk Pulau Aya merasa tertarik dan bersedia untuk memakai uang sebagai alat transaksinya. Bermodal dengan mesin pencetak uang dan kata-kata manisnya kedua orang asing itu memulai sejarah perampokan dan penghancuran mental besar-besaran, lalu setan pun tertawa senang.

Berdirilah Bank untuk menyimpan deposit koin emas penduduk yang menganggur (idle). Lalu uang deposan ini-sebagai taktik- bisa dipinjamkan kepada penduduk pulau yang memerlukan. Dengan demikian terlihat kesan bahwa sumber daya yang ada menjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produktif. Kemudian dibukalah Bank secara resmi, hampir semua penduduk pulau menyimpan koin emas di Bank. Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan –dan Bank yang dimotori oleh 2 orang asing itu menerima 100.000 koin emas-. Tak terasa penduduk pulau merasa menikmati uang kertas, hingga akhirnya uang kertas menjadi mata uang dominan. Kenapa mereka begitu? Karena selain lebih memudahkan transaksi, mereka juga dengan mudah menukarkan uang kertas mereka dengan koin emas yang mereka simpan di Bank jika mereka memerlukan, yang akhirnya penduduk pulau tidak khawatir dengan uang kertas miliknya.

Hingga pada suatu hari 2 orang asing itu mencetak uang kertas lebih banyak hingga 900.000. dalam kalkulasinya jumlah keseluruhan uang yang beredar menjadi 1000.000, yang padahal emas yang dikumpulakn hanya 100.000. Benar, mereka menciptakan uang dari kekosongan (Creating money from nothing). Mereka pinjamkan uang 900.000 itu kepada penduduk yang membutuhkan dengan tambahan kutipan 15%, sehingga jika ada penduduk yang meminjam uang 1000 lembar diakhir tahun mereka harus membayar sebesar 1150 uang kertas, dimaan 150 nya adalah charge dari layanan yang diberikan. Setelah waktu bergulir penduduk pulau merasakan harga-harga kebutuhan barang dan jasa menjadi naik, mereka tidak tahu penyebabnya dan akhirnya mereka meminjam uang dari Bank hingga kebanyakan dari mereka gagal bayar. Perlu diketahui, penduduk pulau bukan orang yang pemalas apalagi pengangguran, tapi meskipun mereka telah bekerja keras, mereka masih tidak bisa melunasi utang berikut bunganya. Kenapa? Lihatlah, uang yang dipinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15%, berarti senilai 135.000 atau jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal, jumlah uang yang beredar hanya 1000.000 (100.000 diberikan sebagai ganti 100.000 koin emas, ditambah uang baru cetak).

Dari sinilah watak bisnis yang awalnya kekeluargaan menjadi individual kompetitif, kehidupan yang harmonis dan suka tolong menolong perlahan luntur. Masing-masing penduduk-apalagi yang berutang- harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Sisi kehidupan yang akrab perlahan menjadi individual, masing-masing terbebani untuk berusaha keras demi memenuhi kebutuhan pribadi. Dhuuarrr, bom waktu telah meledak, setan tertawa keras. Ekonomi kapitalis berhasil merengut semua bahagia, merengut kekeluargaan, merengut segalanya. Bagaimana dengan pulau Baya? Mereka pun sama, merasakan kesulitan yang lebih parah dikarenakan tidak punya koin-koin emas seperti pulau Aya, akhirnya seluruh kekayaan mereka-tanah dan ladang- berpindah kepemilikan kepada 2 orang asing itu dan mereka hanya cukup puas menjadi pesuruh diatas tanah sendiri, belum lagi utang yang harus mereka bayar. Ya, lengkap sudah kehancuran mereka, lagi-lagi setan tertawa puas. Begitulah ekonomi kapitalis yang memang sekarangpun kita masih merasakannya.

Lalu bagaimana dengan ekonomi Islam? Seperti yang sudah dijelaskan di awal, ekonomi Islam berpegang teguh kepada Alquran dan As-Sunnah. Dimana kesejahteraan manusia dan kemaslahatan adalah tujuan utama ekonomi Islam. Dalam Islam sistem ekonomi riil yang menjadi hal pokok, bukan sistem moneter. Inilah doktrin-doktrik ekonomi Islam yang mana menjauhkan manusia dari keserakahan :

  1. Kehidupan dunia hanya permainan belaka
  2. Harta adalah milik Allah
  3. Harta bukan tujuan utama bagi manusia
  4. Kepemilikan individu atas harta dilindungi
  5. Tidak boleh memakan harta dengan jalan yang bathil
  6. Keadilan distribusi harta
  7. Penguasa berhak mengelola harta milik umum dan digunakan seadil-adilnya untuk kepentingan orang banyak
  8. Harta yang menganggur harus diberdayakan
  9. Tenaga kerja harus diperhatikan hak-haknya
  10. Tidka boleh bermegah-megahan dalam menghabiskan harta

Itulah beberapa doktrin Islam terkait ekonomi Islam, yang insyaallah akan saya tuliskan dalam tulisan selanjutnya. Yakinlah, bahwa hukum Allah adalah hukum yang benar, tidak ada salah dan keraguan di dalamnya. Karena inilah hal yang paling dasar yang harus dimiliki seorang muslim, di mana kepercayaan kepada Allah melebihi kepercayaan kepada apapun. Bahwa selalu ada hikmah dan kemaslahatan dalam setiap hukum-hukum Islam, bukan hanya untuk umat Islam saja, tapi untuk seluruh umat manusia karena Islam adalah agama yang Rahmatan-lil’alamin.

Jika ekonomi Islam tidak ditegakan dan diterapkan, tentu saja bersiap akan kehancuran dan keberkuasaan segelintir orang yang tidak berprikemanusiian. Ekonomi Islam adalah harga mati. Yakinkan, dan pastikan kita adalah salah satu dari pejuang ekonomi Islam itu, hingga pada saat Allah menanyakan di mana posisi kita saat carut marut kedzaliman yang bersumber dari ekonomi merajalela, kita tahu di mana posisi kita.

Ekonom Rabbani, BISA! (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Manusia sederhana yang lahir di Brebes 16 Desember 1995. sekarang menempuh kuliah di STEI SEBI Semester 6. Ingin tetap menulis hingga akhir hayat.

Lihat Juga

Din: Koalisi Rusia-Dunia Islam Solusi Masalah Peradaban