Topic
Home / Berita / Opini / Nestapa di Hari Bumi Palestina

Nestapa di Hari Bumi Palestina

Peringatan Hari Bumi di setiap tanggal 30 Maret. (eramuslim.com)
Memperingati Hari Bumi. (eramuslim.com)

dakwatuna.com – Hari bumi tak ubahnya membuka kembali luka lama yang dirasakan oleh bangsa Palestina. Bumi yang dimaksud adalah tempat tinggal. Memperingati hari bumi artinya memperingati akan tempat tinggal yang hilang. Inilah pesan yang dirasakan oleh warga Palestina setelah puluhan tahun lamanya hidup di bawah penjajahan.

Semua bermula dari pendudukan yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap tanah Palestina. Sejak orang-orang Yahudi didatangkan oleh Inggris, sejengkal demi sejengkal tanah milik para petani Palestina diambil paksa. Di saat bersamaan, kekuatan Turki Utsmani yang menjadi payung bagi Palestina melemah dan akhirnya runtuh. Pada saat itulah dengan dukungan Inggris, Zionis berani mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara bernama Israel.

Kekejaman semakin menjadi, tanah dan hasil bumi rakyat Palestina dirampas, rakyat dibantai dan diusir dari tanah kelahirannya. Berbagai bentrokan berdarah tak bisa lagi dihindari. Para petani Palestina mempertahankan tanah milik mereka, Inggris dan Zionis Israel bahu membahu memadamkan perlawanan dengan kekerasan. Ribuan nyawa rakyat tak berdosa akhirnya melayang.

Sejak awal kali penjajahan terjadi di bumi Palestina, rakyat tidak pernah gentar. Mereka mengorbankan segalanya untuk mempertahankan tanah suci warisan umat Islam itu. Rakyat Palestina lebih memilih berhadapan dengan penjajah yang bersenjata lengkap ketimbang hidup di bawah penjajahan. Harta hingga jiwa mereka korbankan demi mendapatkan kemerdekaan.

Sejengkal demi sejengkal tanah Palestina akhirnya jatuh ke tangan Zionis Israel. Tercatat sejak tahun 1948 hingga 1972 ada 1 juta hektare tanah milik rakyat Palestina yang berhasil mereka rampas. Kondisi buruk ini terus meningkat di setiap tahunnya, Israel tanpa henti memperluasan wilayah tanah jajahan mereka.

Akumulasi dari segala penderitaan ini terjadi di tahun 1976, yang kemudian mencapai klimaksnya pada hari Sabtu, 30 Maret 1976. Setelah menderita selama 28 tahun dibawah penindasan dan beragam kezaliman, rakyat Palestina bersatu padu melakukan perlawanan. Mereka menuntut dikembalikannya tanah yang dirampas. Beragam aksi dilakukan, seperti aksi mogok massal dan demonstrasi turun ke jalan.

Demonstrasi ini ternyata tidak berjalan mulus, aksi mereka ditanggapi secara brutal oleh penjajah Israel. Areal demonstrasi seketika berubah menjadi lautan darah. Timah panas tentara Israel menembus tubuh para demonstran. Sedikitnya ada 6 orang tewas dalam peristiwa naas itu, dan puluhan orang terluka serta lebih dari 300 orang ditangkap.

Solusi Untuk Palestina

Warga Palestina hingga kini masih kehilangan tanahnya. Maka tidak ada cara selain mengembalikan hak-hak mereka sebagai pemilik Palestina seutuhnya. Rakyat Palestina harus mendapatkan kembali tanah mereka yang diambil paksa Israel. Ini merupakan hal mutlak yang harus termaktub dalam poin solusi atas konflik di Palestina. Ada 2/3 dari warga Palestina dengan status terusir dari tanah kelahirannya. Tanpa syarat ini mustahil Palestina akan kembali dan keadilan dapat ditegakkan.

Naifnya saat ini penjajah Israel sudah menguasai 85% dari tanah Palestina. Artinya, pemilik asli tanah yaitu warga Palestina hanya mendapatkan sisanya yaitu 15% saja. Kondisi menyedihkan ini berlangsung hingga sekarang disaksikan jutaan pasang mata masyarakat dunia. Melihat hal ini, dimanakah mereka yang selama ini meneriakkan keadilan dan membela HAM?

Sebuah sensus yang dilakukan oleh pihak Palestina melaporkan, Palestina memiliki luas tanah 27.000 KM. persegi, dan lebih dari 85% tanah itu telah dirampas oleh penjajah Israel. Lebih tragis lagi, perluasan yang dilakukan Israel bukan hanya terkait tanah, namun juga proyek Yahudisasi yang melenyapkan identitas Arab dari tanah Palestina.

Laporan lainnya menyebutkan, jumlah rumah warga Palestina yang dihancurkan Israel sejak tahun 1967-2000 sebanyak 500 bangunan, yang dilanjutkan sejak tahun 2000-2014 sebanyak 1.324 bangunan, ini terjadi di kota Al-Quds. Dampaknya, pada masa itu ada 5.760 orang yang terusir dari tempat tinggal mereka.

Penjajah Israel juga memaksa 340 orang rakyat Palestina merobohkan sendiri rumah-rumah mereka, kondisi ini terjadi di rentang waktu tahun 2000-2014. Prosentase paling tinggi terjadi pada tahun 2010, yaitu sebanyak 70 kali aksi perobohan, yang di tahun sebelumnya sebanyak 49 kali aksi perobohan.

Jumlah titik pos militer juga terus bertambah. Terdapat 409 posko militer di Tepi Barat pada tahun 2013. Sedangkan jumlah pemukim ilegal Yahudi sebanyak 580.801 jiwa di akhir tahun 2013. Sebanyak 48,5% menempati kota Al-Quds atau sekitar 281.684 jiwa. Dengan demikian perbandingan warga di Tepi Barat ada 100 orang Palestina berbanding 21 orang Yahudi. Angka paling tinggi terjadi di kota Al-Quds, dimana 100 orang Palestina berbanding 69 orang Yahudi.

Kondisi buruk juga menimpa Jalur Gaza, khususnya paska agresi militer Israel yang dilancarkan pada tahun 2014 lalu. Tercatat 2145 orang korban tewas, terdiri dari 530 anak-anak dan 302 perempuan. Ada 11.000 orang korban luka, terdiri dari 3.303 anak-anak dan 2.101 perempuan. Terdapat 17.132 rumah, 62 masjid, 495 pabrik serta 228 lembaga sekolah yang hancur. Dan sebanyak 110.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Kondisi di atas menggambarkan potret kehidupan masyarakat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Disamping kehilangan tanah, keberadaan mereka juga terus terhimpit oleh perluasan tanah jajahan. Identitas mereka terancam dan infrastruktur terutama yang di Jalur Gaza hingga kini masih dalam kondisi hancur.

Seyogyanya hari bumi bukan sekedar menjadi peringatan akan nestapa yang dialami rakyat Palestina. Namun menjadi momen bersama memanggil nurani umat manusi agar membantu mereka; rakyat yang masih terjajah dan dirampas tanahnya, agar kembali mendapatkan haknya dan hidup merdeka layaknya kita sekarang.

 

 

 

 

Redaktur: Muh. Syarief

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Peneliti di Pusat Studi Islam Wasathiyah dan Aktivis Palestina di LSM Asia-Pacific Community For Palestine

Lihat Juga

Erdogan dan Menantu Trump Bahas Perdamaian Palestina-Israel

Figure
Organization