Home / Narasi Islam / Sosial / Dari Pemuda untuk Kejayaan Peradaban

Dari Pemuda untuk Kejayaan Peradaban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (persisalamin.com)
Ilustrasi. (persisalamin.com)

dakwatuna.com –Sesungguhnya roda Islam senantiasa berputar. Adakalanya ia di atas dan adakalanya ia di bawah, lalu ia akan berputar ke atas kembali. Maka ikut berputarlah kamu, ke mana saja roda Islam itu berputar. Hingga Allah menentukan satu dari dua kebaikan: mati syahid atau kemenangan

Saat kita mendengar kata peradaban, perubahan, dan kejayaan tentu pikiran kita akan langsung mengingat sosok-sosok luar biasa penuh semangat menggelora yang tak kenal lelah dan takut. Siapakah mereka? Ya benar, mereka adalah para pemuda. Di mana jika kita menengok sejarah pastilah di situ akan termaktub perjuangan-perjuangan heroik mereka, para pemuda yang mana menjadi tulang-inti kekuatan perjuangan. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam Al-Quran yang menempatkan masa muda sebagai masa keemasan, masa kekuatan “Allah, Dia yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (QS. Ar-Ruum:54).

Dalam Surat Al-Buruj dikisahkan tentang Ashabul Ukhdud, sekelompok pemuda yang berontak melawan kekuasaan kuffar yang zhalim di tengah ketidakberdayaan masyarakat. Tertangkap bukan menjadi akhir dari perjuangan, justru di situlah puncaknya perlawanan. Ketika parit api membakar habis tubuh mereka, justru pemandangan inilah yang membakar kembali semangat keberanian dan perlawanan masyarakat yang sudah putus asa. Rakyat banyak ikut masuk ke dalam parit api, meninggalkan sang raja yang tidak berarti kekuasaannya.

Begitupun dengan kisah para nabi semasa mudanya, kepintaran dan kepribadian kuat pemuda bernama Yusuf yang mampu mengatasi krisis ekonomi di kota Mesir, keberanian pemuda bernama Musa yang mampu menumbangkan raja congkak Firaun, kejeniusan pemuda bernama Ibrahim yang mampu membuat Namrud diam malu akan kebodohannya menyembah berhala hingga lahirlah pemuda bernama Muhammad yang hidup pada masa kebodohan umat, kompleksitas problem sosial-ekonomi dan friksi politik antar kabilah yang sangat kuat. Namun ia Muhammad melawan segala problematika umat pada masa itu bukan dengan senjata, kekuasaan atau harta, melainkan dengan akhlaqul karimah, akhlak yang mulia. Ia seorang yang Ra’ufun Rahiim, sosok yang santun dan pengasih hingga mampu mengubah permusuhan menjadi persaudaraan, kebodohan menjadi kepintaran, kekafiran menuju keislaman. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At-Taubah: 128).

Begitulah pemuda, orang yang mampu mengubah zaman kezhaliman menjadi keadilan. Pemuda di manapun tempatnya merekalah pasti yang akan berteriak paling lantang dan berani saat menemui ketidakadilan. Di Hungaria, revolusi menuntut kemerdekaan, kebebasan dan pengusiran Uni Soviet dimotori oleh Dewan Mahasiswa Revolusioner. Melalui Manifesto, mereka berhasil menghimpun 100 ribu masa pada 23 Oktober 1958 di lapangan Petofi. Mahasiswa Jerman, dalam sejarahnya di abad 19, memiliki tradisi sebagai ujung tombak politik dan sebagai elit nasional. Persatuan bangsa Jerman pun dipelopori oleh tiga generasi mahasiswa Jerman yang terhimpun dalam Burschenschaften. Begitupun aksi para pemuda yang terhimpun dalam barisan mahasiswa Mesir yang melakukan demonstrasi ke Istana Abidin yang dipimpin oleh Mustafa Mukmin –Pimpinan Mahasiswa Ikhwanul Muslimin- pada 11 Februari 1946, yang mana berhasil menjatuhkan pemerintahan Perdana Menteri Naqraisy.

Di penghujung abad ke-20, gerakan-gerakan pemuda khususnya pemuda Islam menjadi sayap kekuatan pergerakan Islam (harakah Islamiyah)  juga berperan dalam menumbangkan rezim-rezim otoriter. Dengan mengusung bendera demokratisasi dan reformasi, mereka tampil sebagai kekuatan penekan yang diperhitungkan. Dengan ideologi dan fikrah Islamnya, para pemuda Islam  banyak mempengaruhi dinamika perubahan sosial dan politik di negerinya. Ini juga yang terjadi di Indonesia pada akhir tahun 90-an.

Secara umum, proses kebangkitan negara atau Islam sendiri sejak abad 20 Masehi dimotori oleh kaum muda muslim. Dalam kitabnya “Ummatuna Bainal-Qarnain” Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa di antara fenomena kebangkitan Islam adalah kembalinya para pemuda kepada ajaran Islam dan mereka meramaikan kembali masjid-masjid, serta semaraknya kaum muda muslimah dalam mengenakan jilbab. Di sinilah titik poin kelemahan para pemuda saat ini. mereka lebih memilih meramaikan tempat-tempat hiburan, cafe-cafe, studio musik dan tempat lainnya selain masjid. Para pemudinya lebih memilih mempertontonkan aurat dibanding dengan menutupnya yang padahal hijab akan membuat mereka terjaga kehormatannya. Akhlak yang semakin terkikis, keberanian yang menciut dan intelektualitas yang rendah membuat para pemuda muslim saat ini begitu terlena dan berleha serta tidak peka akan keadaan umat saat ini.

Tentu saja ini fenomena ini tidak boleh terjadi terus menerus atau kehancuran umat di depan mata. Akhirnya, kita sebagai seorang pemuda yang sadar akan tanggung jawab dan beban moral yang diberikan, kita harus bisa memperbaiki diri dan mengajak kembali para pemuda-pemudi muslim untuk berada dalam koridor yang benar sesuai syariah.

Kenapa pemuda menjadi ujung tombak kebangkitan? Kenapa pemuda menjadi ujung tombak kejayaan? Jawabannya, karena di dalam diri para pemuda terhimpun unsur-unsur penting yang dibutuhkan umat, yaitu:

1. Kekuatan dan kapasitas pemuda (Quwwatus-syabaab)

Perjuangan dan pergerakan ini membutuhkan kekuatan dan intelektualitas yang dimilik para pemuda. Para pemuda yang mampu terlibat dalam berbagai sektor perjuangan, sektor pembebasan dan kemerdekaan dari berbagai penindasan dan kezhaliman, sektor pemikiran dan opini yang di sekarang ini banyak di racuni oleh virus-virus pemikiran yang menyesatkan (ghazwul-fikri) dan perang budaya yang pun kini menjadi hal yang biasa dan wajar saat mengikuti budaya-budaya barat yang kurang dan tidak baik. Di sinilah kekuatan pemuda harus dipancarkan, kekuatan tauhid, moral dan intelektualnya untuk mendorong perubahan di berbagai bidang.

2. Memberi tanpa berpihak (‘atho bilaa tahazzub)

Pandangan yang jauh ke depan membuat mereka akan bersikap objektif dan jauh dari hal-hal yang bersifat kepentingan sesaat. Sehingga perjuangan dan perubahan yang dimotori pelajar dan mahasiswa akan selalu terjaga idealisme, keaslian dan kejujurannya.

3. Kelompok yang selalu bergerak (Qaumun ‘amaliyyun)

Dengan wawasan dan kepeduliannya, mereka adalah kaum yang dinamis dan progresif. Perubahan membutuhkan proses yang panjang dan semangat para pemuda yang menggelora apalagi jika melihat ketidakadilan akan memacu diri mereka agar selalu bergerak dan berjuang menyuarakan kebenaran. Masyarakat dengan persoalannya yang kompleks sering kali tidak mampu berjuang dalam tempo yang lama. Sedangkan para pemuda yang komunitasnya selalu diperbaharui setiap tahun- adalah kekuatan yang mampu melakukan pergerakan dan perubahan secara continue.

4. Universal (‘alamiyyah)

Kesamaan status sosial sebagai pemuda (pelajar, mahasiswa), membuat mereka jauh dari fanatisme kedaerahan atau ras. Mereka bisa bertemu dan berhimpun bersama atas nama pemuda muslim, pemuda Indonesia atau organisasi-organisasi lainnya.

Hal-hal itulah yang membuat pemuda dibebani tugas lebih secara moral, dan tentu saja itu semua akan tercapai jika para pemuda memiliki akhlak yang mulia, akhlak yang baik dan senantiasa kembali kepada syariah Islam. Jangan heran jika suatu saat keadilan akan kembali berjaya oleh pemuda-pemuda yang memiliki militansi yang tinggi, semangat juang yang menggelora dibarengi dengan aqidah dan akhlak yang benar dan lurus.

Teriakan dalam hati kita masing-masing, jika ada 1000 pemuda yang berjuang untuk kebanaran pastikan salah satu di antaranya adalah aku, jika ada 100 pemuda yang berjuang untuk kebenaran maka pastikan salah satunya adalah aku dan jika tidak ada pemuda yang berjuang untuk kebenaran maka pastikan dan saksikan aku telah mati untuk membela kebenaran itu. Wahai para pemuda, pastikan kita adalah salah satu pencetak solusi sejarah kejayaan peradaban, bukan malah menjadi masalah dalam sejarah peradaban. Semua pilihan ada ditangan kita. Bergerak atau tergantikan! (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Manusia sederhana yang lahir di Brebes 16 Desember 1995. sekarang menempuh kuliah di STEI SEBI Semester 6. Ingin tetap menulis hingga akhir hayat.

Lihat Juga

Menjadi Calon Ibu Peradaban yang Bijak dalam Penggunaan Media Sosial