Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dari Masjid untuk Negeri Tercinta

Dari Masjid untuk Negeri Tercinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (bangsaonline.com)
Ilustrasi. (bangsaonline.com)

dakwatuna.com – Mushalla yang sangat sederhana, merupakan mushalla yang berdiri di lingkungan salah satu instansi pemerintah provinsi setempat namun jama’ah nya bukan hanya para pegawai kantor instansi tersebut namun juga masyarakat di sekitarnya. Mushalla yang sangat bersejarah, menurut cerita Kepala Kantor, dulunya sebelum menjadi Mushalla lokasi pendiriannya itu adalah kantin dan tempat orang-orang berjudi. Butuh perjuangan yang panjang sehingga Mushalla Assakinah berdiri kokoh di ujung jalan. Ya, nama Mushalla itu adalah Mushalla Assakinah. Mushalla yang penuh kenangan dan sejarah bagi beberapa alumni remaja masjidnya.

Engkau akan menyaksikan di Mushalla ini seorang ayah penuh wibawa memaksa anaknya untuk ikut ke Mushalla melaksanakan Shalat berjamaah, tak jarang sang anak sering menolak untuk memenuhi ajakan ayahnya. Di beberapa kesempatan juga, ketika sang ayah berhasil mengajak sang anak ke Mushalla, sesampainya di Mushalla sang anak hanya bermain ketika Khatib naik ke mimbar lalu berkhutbah. Tak jarang sang anak sering mendapat punishment dari sang ayah ketika selesai shalat atau sesampainya di rumah. Tak lain dan tak bukan maksud sang ayah adalah baik, ingin mendidik anaknya agar sering berinteraksi dengan tempat paling mulia dibandingkan dengan tempat keramaian yang lain. Belakangan sang anak yang mulai beranjak dewasa memahami maksud sang ayah.

Engkau juga akan mendengar kisah mencengangkan tentang Mushalla ini, Mushalla ini sendiri terletak di Jalan Anoa yang menurut para penduduk Kota Palu, di 1990an daerah ini adalah daerah yang cukup rawan karena seringnya tawuran antar anak muda. Sebuah fenomena yang bertolak belakang dengan peran para pemuda yang seharusnya turut menjadi iron stock pembangun peradaban bangsa, malah disibukkan oleh hal-hal yang kontraproduktif seperti tawuran. Meskipun seperti itu adanya, sekelompok bocah-bocah ingusan yang mulai tumbuh dewasa, seumuran anak SMP (Sekolah Menengah Pertama) kiranya, mulai tertarik menjadi pengurus remaja masjid. Sampai kemudian sekitar Tahun 2005 datang seorang pencerah membuka Majelis Tarbiyah di Mushalla Assakinah. Sebuah majelis yang menghantarkan beberapa anak-anak muda remaja masjid menjadi memahami Islam secara utuh, Islam yang tidak terbatas pada ibadah ritual semata, namun mengajarkan Islam yang universal.

Engkau yang membaca tulisan ini juga akan kuceritakan tentang kisah masa lalu seorang pemuda seumuran anak SMA (Sekolah Menengah Atas) yang merasa gelisah dengan ibadah-ibadah ritualnya, ini juga salah satu kisah di Mushalla Assakinah. Lima waktu sehari semalam dikerjakan sang pemuda ini dengan rutin di Mushalla Assakinah. Ditemani beberapa pengurus remaja masjid lainnya, mereka membaca AlQuran setiap harinya hingga mengalami kemajuan yang signifikan hafalan Quran para pemuda ini. Terlebih lagi ketika memasuki Bulan Ramadhan, semakin rajin ke Mushalla, berbuka puasa dan makan sahur bersama, menambah kekeluargaan dan persaudaraan sesama remaja masjid.

Hati menjadi semakin tenang, aktifitas sehari-hari menjadi semakin terasa baik, hal ini yang kemudian dirasakan oleh sang pemuda yang masih mencari jati diri ini. Hingga suatu hari sang pemuda yang awal interaksinya di masjid adalah karena paksaan orang tuanya ini merasa bahwa pribadi yang shaleh saja belumlah cukup. Bila diri sendiri saja yang berubah, maka sungguh ini bukanlah sesuatu yang ideal. Pikiran-pikiran semacam ini terus menggelayuti benak sang pemuda. Perubahan diri sendiri menjadi lebih baik tentunya adalah sesuatu yang baik, tapi pasti ada yang lebih baik, pasti ada sesuatu yang dilakukan agar sesuatunya menjadi lebih baik dan berdampak baik pada lingkungan sekitar. Maka pribadi-pribadi yang menjadi baik ini harus diperbanyak, perubahan diri menjadi sesuatu yang lebih baik mesti ditularkan kepada orang banyak yang mungkin sampai hari ini masih kebingungan mencari hidayah. Pribadi-pribadi yang baik harus berkumpul lalu berjuang bersama, mulai muncul kesadaran akan amal jama’i meskipun masih sedikit. Setelah sempat di kecewakan oleh perilaku para remaja masjid tempat pemuda ini bersekolah, ia ingin mencari sesuatu yang baru, something new, something different. Setelah tak di beri kesempatan berkontribusi di remaja masjid sekolah, ia ingin mencari sebuah wadah untuk berhimpun di tempat lain, dengan segmentasi bukan lagi dakwah di sekolah. Ya! Pemuda ini mulai haus akan gerakan, mulai gelisah karena tak berjuang. Maka pikirnya sesuatu yang dapat mengakomodir semangatnya ini pasti ada di kampus. Ya! Di Kampus!

Sang pemuda kemudian mendapat kesempatan untuk mengecap pendidikan, jurusan Akuntansi di Universitas Tadulako. Awalnya, dalam proses Orientasi Akademik di Kampus tersebut, muncul semacam gejolak karena berbedanya ekspektasi dan realitas yang dihadapi sang pemuda. Sebuah perguruan tinggi negeri dengan kumpulan para intelektual muda, proses orientasinya sedikit jauh dari kenyataan yang dibayangkan sang pemuda. Namun, bagai oase di tengah pada pasir, bagai cahaya pencerah yang muncul di tengah bumi kaktus, tiba saat sebuah lembaga kemahasiswaan presentase di hadapan para mahasiswa baru angkatan 2009. Sebuah lembaga yang bernama Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM) Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako. Sebuah lembaga dakwah fakultas yang menjadikan Mushalla sebagai basis pergerakannya. Inilah saat yang tepat pikir sang pemuda, inilah sebuah wadah perjuangan yang kelak bisa merubah bangsa ini, sebuah gerakan dakwah berbasiskan Mushalla. Kelak bangsa ini akan tercerahkan, di mulai dari tempat mulia bernama Masjid dan Mushalla.

Hingga waktu berjalan begitu singkat, sang pemuda tadi menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di sebuah yayasan. Sang pemuda sangat bersyukur sampai saat dirinya mendapatkan pekerjaan, proses tarbiyah masih terus diikutinya. Apalah arti seorang individu, sehebat apapun ia bila tidak beramal jama’i maka sesungguhnya perjuangannya akan terasa hambar. Dakwah secara berjama’ah inilah yang kemudian menjadi sarana Allah SWT untuk memuliakan para pejuang dakwah. Sekalipun seorang pejuang dakwah merasa memiliki kemampuan dan kapasitas yang hebat, ia pun harus menyadari bahwa segala sesuatunya adalah atas kehendak dan pemberian Allah SWT. Kapan Allah SWT ingin memuliakan seseorang maka tak ada yang bisa menahannya, kapan Allah SWT ingin menghinakan seseorang maka tak ada satu pun kekuatan di jagad semesta ini yang bisa menahannya.

Waktu berjalan semakin cepat, dan bagi yang tak pandai memanfaatkan waktu tersebut sungguh merugilah ia. Konsep tentang membangun dan mencerahkan bangsa dimulai dari Masjid pun terjawab dengan diadakannya Musyawarah Kerja Nasional Jaringan Pemuda & Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) di Bandung pada akhir Bulan Februari Tahun 2016. Sebuah gerakan yang ingin mengembalikan kejayaan masjid, dirangkaikan dengan launching gerakan nasional ayo ke masjid dan Aplikasi Ayo ke Masjid, bertempat di Masjid Trans Studio Bandung. Konsep tentang pembangunan untuk negeri tercinta ini di mulai dari masjid pun bukan omong kosong belaka. Dijelaskan secara mendetail dalam acara Mukernas JPRMI 2016 ini.

Dalam kesempatan ini pula sang pemuda mendengar tentang urgensi dakwah para pemuda Masjid dari Seorang Akademisi Alumni Waseda University & Takushoku University Tokyo. Beliau menyatakan bahwa beliau melihat sekelompok pemuda yang begitu unik, di saat anak muda yang lain sibuk di kerumunan orang banyak, di saat anak muda yang lain berkumpul di tempat keramaian, di saat anak muda yang lain berkumpul di mall, mereka yang begitu unik ini aktif mengurusi masjid. Semoga Allah SWT memberikan energi kepada mereka para pemuda yang aktif mengurusi masjid, berkhidmat untuk umat ini. Beliau juga bercerita kisah para pemuda yang beruzlah dalam gua, lantas ketika terbangun ah ah harus kondisi sosial sudah berubah drastis. Para Pemuda Kahfi ini menjadi teladan untuk beruzlah, dengan konteks yang berbeda, maka simbolisasi uzlah ini harus terus dilakukan dan dalam hal ini proses Tarbiyah harus terus terjadi sebagai wujud uzlah.

Jika dilihat dari karakteristiknya, maka para pemuda masjidlah yang kemudian cocok dengan proses tarbiyah yang dimaksud, bagaimana tidak hati para pemuda masjid ini terus menerus terpaut di masjid lima kali setiap harinya. Para pemuda masjid yang terbiasa dengan kondisi keshalehan dan kebaikan akan cenderung untuk terus berproses menjadi lebih baik. Para pemuda masjid harus terus berupaya menciptakan dominasi Ilahiyah diatas kondisi jahiliyah. Tentunya kondisi ini membuat kita nyaman, tetapi kondisi demikian bukan berarti untuk terus menerus berada di dalam masjid, perlu kita ketahui bersama masjid adalah basis gerakan agar kondisi Ilahiyah tersebar kepada masyarakat, maka kita akan mendapati proses islah pada masyarakat.

Mungkin ini adalah sekelumit kisah yang bila engkau berkenan membacanya maka penulis akan sangat bersyukur. Penulis hanya ingin berbagi kisah yang mungkin dapat menginspirasi kita semua tentang betapa pentingnya kita sebagai umat islam untuk senantiasa memakmurkan masjid sepanjang hidup, sekuat tenaga. Kejayaan Masjid di masa lalu adalah salah satu bukti bahwa proses tersebut akan berulang lagi di zaman kita hidup sekarang. Bahwa Masjid bukan hanya sekadar tempat ibadah ritual semata, tetapi juga menjadi pusat peradaban, sehingga kegiatan produktif seperti diskusi-diskusi dan kajian-kajian akan semakin sering di lakukan untuk memakmurkan masjid. Di masa yang akan datang, takkan ada lagi orang tua yang memarahi secara berlebihan anak-anak yang bermain di dalam masjid, namun diarahkan dengan pengajaran yang baik, agar generasi muda penerus bangsa ini adalah para pemuda yang hatinya selalu terpaut di masjid. Membawa anak-anak kecil kemasjid adalah salah satu wujud upaya untuk membiasakan anak-anak kecil berinteraksi dengan masjid. Dan kelak, bukan tidak mungkin para pemimpin bangsa ini adalah orang-orang yang berasal dari para remaja-remaja masjid, para pemuda-pemuda yang hatinya selalu terpaut di masjid, sehingga masjid juga menjadi tempat pengkaderan pemimpin masa depan bangsa ini, dari masjid untuk negeri tercinta, sebuah negeri yang dilimpahi keberkahan oleh Allah SWT. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, insyaaAllah. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization