Home / Narasi Islam / Sosial / Rimpu, Identitas untuk Solidaritas Nasional

Rimpu, Identitas untuk Solidaritas Nasional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (multnomahathleticfoundation.com)
Ilustrasi. (multnomahathleticfoundation.com)

dakwatuna.com – Dunia tanpa sekat yang berati globalisasi, ini dimaksudkan untuk melepaskan sekat dari sebuah gaya berfikir konservatif – mempertahankan nilai sebagai identitas ketimuran. Globalisasi mengandung nilai-nilai kebaruan atau modernisme untuk mendrive system egaliterianisme sosial, budaya, gaya berpikir masyarakat barat kepada sistem timur yang sudah mapan. Globalisasi seperti jalan buntu yang memaksa orang untuk berhenti dalam situasi darurat yang mencekam dengan warna kehidupan permisif. Di situasi ini kita sulit untuk berbalik arah, sebab ada keindahan dan syahawat. Dalam situasi ini pula ada pilihan-pilihan yang diterima secara sadar dan tidak.

Menyadari bahwa masyarakat yang memiliki kesiapan psikologi dan pemikiran untuk dijajah yaitu ada pada dunia ketiga. Situasi internal sebuah bangsa itu mempengaruhi ketahanan masyarakat di dalam menerima nilai-nilai yang di sodorkan barat: Politik, ekonomi dan pendidikan menjadi faktor dominan.

Jawaban atas pertanyaan: Apa sebab tejadinya Islamisasi secara damai di bumi Nusantara? Secara sederhana dapat dimengerti bahwa itu dapat terjadi karena iklim sosial yang tenang, damai dan keberagaman membutuhkan sistem kehidupan yang mendamaikan. Itu hanya dapat di jumpai dalam Islam. Sehingga pertemuan Islam dengan subkultur masyarakat yang demikian melahirkan satu corak warna dari kumulasi dua unsur, yaitu integrasi. Dari proses pertemuan itu Islam menjadi sumber integritas nasional. Sebab Islam menjamin pluralitas tumbuh dengan baik.

Saya percaya bahwa keragaman menjadi ciri sebuah bangsa yang mampu bertumbuh secara sehat, sebab itu dapat berarti bahwa bangsa tersebut mampu megelola keragaman itu menjadi vitamin untuk menguatkan tulang sebagai penyangga bagi unsur yang berbeda–beda. Bima adalah wilayah dalam rumah besar bangsa Indnesia yang menjadi satu-kesatuan masyarakat Indonesia seluruhnya, sehingga memiliki keterkaitan dalam kultur dan budayanya, dengan keterikatan yang demikian itu menghilangkan rasa besar diri atas budaya sendiri secara berlebihan atau etnosentrisme dan primordialisme.

Secara sadar masyarakat menerima Islam sebagai identitas. Islam sebagai sebuah identitas di pahami dengan melahirkan corak warna budaya yang mengandung norma yang tinggi, tanpa menghilangkan substansi ajaranya. Rimpu adalah adat atau budaya yang dilahirkan dari proses interaksi tersebut, menggambarkan Islam dijiwai secara sadar oleh masyarakat Bima (Mbojo) sebagai pemiliknya.

Rimpu adalah memakai sarung dengan melingkarkannya pada kepala dimana yang terlihat hanya wajah dengan menggunakan sarung. kebudayaan Rimpu yang merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat Bima. Umumnya, kaum perempuan memakai rimpu untuk menutup auratnya sebagaimana ajaran Islam mengajarkan bahwa setiap kaum perempuan yang sudah aqil balik harus menutup aurat dihadapan orang yang non muhrimnya.

Secara spesifik budaya ini dapat kita jumpai di kalangan perempuan Arab dengan apa yang kita kenal dengan “Niqob” atau dalam bahasa Indonesia “Cadar”– menyadari sebagai kewajiban bagi seorang perempuan muslimah. Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama dari Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu sehingga budaya rimpu merupakan hasil dari kebudayaan kaum perempuan di Bima.

Di kalangan masyarakat Bima membiasakan istilah Rimpu ini dalam dua keadaan: Pertama, untuk perempuan perawan ketika mereka hendak keluar dari rumah untuk sebuah keperluan yang mendesak menutupi tubuh dengan sarung lalu dililitkan di kepala, sehingga yang terlihat hanya kedua mata, persis seperti perempuan memakai cadar. Rimpu semacam ini di kenal dengan rimpu To’I (kecil). Kedua, Apa yang disebut orang Bima dengan Rimpu Na’e (besar), yaitu pakaian yang lazim dikenakan oleh perempuan yang telah bersuami, ibu-ibu atau nenek-nenek. Cara memakai Rimpu ini persis sama dengan cara pertama, hanya saja wajah dapat terlihat, hampir sama dengan perempuan Jilbaber yang kita kenal di kota-kota besar.

Gaya adat yang telah dikembangkan oleh masyarakat Bima tersebut menandakan kemajuan berfikir suatu masyarakat. Kesadaran perempuan untuk menjaga harga diri, keluarga merupakan naluri dasar seorang perempuan. Di masyarakar Bima jika seorang perempuan perawan keluar rumah dengan wajah tebuka atau sekadar memakai rimpu Na’e yang umumnya dipakai oleh perempuan bersuami adalah aib, padahal itu masih menutup aurat, tetapi dipandang sebagai pelanggaran norma sosial, bagaimana dengan perempuan-perempuan zaman sekarang – pamer aurat kesana-kemari.

Dalam kurun waktu dua puluh tahun yang lalu adat ini masih dijalankan oleh masyarakat Bima, meskipun sudah mulai pupus. Sekarang kita masuk di era globalisasi ditandai dengan degradasi moral masyarakat. Meski secara materi berlimpah, kemudahan-kemudahan dalam mengakses informasi, transportasi udara, darat dan laut mengalami kemajuan pesat. Nilai kebaruan inilah sebenarnya yang menjadi alasan dunia barat untuk memaksa masuk di dunia muslim. Nilai-nilai ini adalah local wisdom (kearifan lolak) yang tiada tergantikan, tapi kita telah menukar identitas kita dengan nilai yang baru ini – sebuah harga yang murah.

Sekarang, di generasi ketiga Indonesia mengalami split identity bagi anak-anak muda yang beranjak dewasa, karena mereka generasi labil yang mengikuti tren yang didrive oleh media-media mainsteam. Kasus-kasus pembunuhan, narkoba, aborsi dan sederet perilaku dekonstruktif lainya yang setiap hari disuguhkan memenuhi lembaran berita harian, online oleh media mainsteam untuk menciptakan rasa pesimisme, apatisme generasi labil ini. Media mainstream setelah menyasar generasi labil ini, aktifis liberal masuk ke kampus-kampus untuk merusak orientasi mahasiswa yang kesadaranya terhadap identitas sangat rendah, tapi di saat yang sama mereka ada keinginan membuncah untuk menemukan jati dirinya. Akibat terlalu aktif mengkonsumsi informasi publik yang akhirnya merusak konsentrasi untuk menemukan jati diri itu.

Di situ ada pula mahasiswa yang sesungguhnya sadar tentang jati diri dan sudah mulai menata bentuk afiliasinya kepada gerakan Islam, untuk memperkuat benteng ketahananya mereka inisiatif melingkar. Kelompok ini pula yang paling mendominasi proses perubahan di kampus-kampus, sehingga kaum lliberal merasa kewalahan menghadapinya, sehingga mereka menciptakan isu-isu yang merusak moral seperti gerakan LGBT dll.

Globalisasi menerobos masuk menembus sekat-sekat geografis dengan peluru modernisme menyasar setiap anti mainstream untuk dieksekusi sebagai teroris. Bukan berarti modernisme semata sesuatu yang buruk, tetapi kita terlanjur menerima ini tanpa syarat yang sebetulnya masyarakat kita tidak siap dengan keilmuan, dampaknya adalah kelatahan. Tingkat peradaban yang tinggi dengan mengintegrasi kemajuan materi sebagai modernisme dengan religiusitas.

Rimpu – untuk menata kehidupan bernegara yang berkemajuan kita musti mulai menyadari pentingnya identitas keislaman disadari secara individu ke tatanan kehidupan sosial yang lebih beradab. Dimulai dengan kesaran menutup aurat dan menumbuhkan rasa malu yang kuat bagi perempuan muslimah, sebagaimana pesan budaya Rimpu di atas. Perempuan juga sebagai jantung rumah tangga harus mampu merasakan perubahan pada perilaku generasi sebagai salah satu tanggung jawabnya sebagai ibu. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 1,50 out of 10)
Loading...

Lihat Juga

Komnas HAM Minta Negara Jelaskan ke Publik Identitas Presiden Jokowi