Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mushaf, Aku Punya Cerita Tentangnya

Mushaf, Aku Punya Cerita Tentangnya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi-Alquran (inet)
Ilustrasi-Alquran (inet)

dakwatuna.com – Tahun 2003 pertengahan aku tiba di tanah rantau, penat, macet lagi padat apalagi kalau bukan ibukota, Jakarta. Namun dari sekian banyak keluhan yang sifatnya infrastruktur, Jakarta adalah awal mula pembentukan pribadi remajaku. Usia 18 tahun dengan pengalaman super minim karena berasal dari kota asal yang jauh dan tak pernah mengecap status “rantau” sebelumnya. Kalau pulang sekolah dijemput, makan sudah tersaji, baju tercuci lalu tertumpuk manis di lemari. Kala sampai ke Jakarta semuanya sendiri dan tanpa sadar di keningku telah tertulis secara implisit sebuah kata yang selalu dinanti, “mandiri”.

Di kampung kalau hendak mengaji kami biasa menggunakan kitab Alquran yang besar dan tanpa warna-warna seperti mushaf ustmani yang kini banyak tersaji. Kertas-kertas kitab itu tidak putih namun agak kekuning-kuningan dan dibersamai dengan satu lidi untuk menunjuk huruf demi huruf serta rajutan benang tipis sebagai penanda. Tentang mushaf aku punya cerita, ya cerita yang selalu membekas apalagi setelah grup nasyid inteam merilis lagu yang berjudul “surat cinta”, tak tahan aku simpan cerita ini hanya di memori yang sangat temporer.

Perjalanan kuliah S1 di tahun 2003 mengenalkanku pada unit kegiatan mahasiswa Rohis (Rohani Islam). Kakak mentor/murabbi sekali waktu mengajakku untuk beri’tikaf di masjid besar dan indah, masjid Baitul Ihsan bertempat di distrik modern, sekitar monas, dekat patung kuda, tepatnya di dalam lingkungan bank sentral (Bank Indonesia). Masjid yang saat itu setiap bulannya melaksanakan i’tikaf bekerjasama dengan daarut tauhid, menghadirkan asatidz terbaik dan tak terasa ilmu semakin bertambah dibersamai dengan muhasabah di sepertiga malam. Di pagi nan segar, Murabbiku, sebut saja namanya Kak Ono mengajakku ke bagian belakang masjid yang disesaki oleh para jamaah yang hendak membeli buku-buku islami, mushaf, baju koko, parfum misik putih, dan kawan-kawannya. Sebuah mushaf cantik berwarna hijau muda, gagah dan antik seolah terus memanggilku. Kenapa antik?, karena ia tidak punya teman lagi alias sudah ludes terjual. Segera aku tanya pendapat kak Ono, gimana nih kak?, tinggal satu apa kita eksekusi aja? Sembari menanyakan harga dan terus berfikir, kami kehadiran seorang akhwat yang membuat kak Ono sedikit grogi, sedang aku harus segera memutuskan. Ya, kini kami kehadiran kompetitor, kata sang akhwat, “bang kalau mereka gak jadi saya mau beli mushafnya”. Tanpa jeda, aku segera memutuskan untuk membelinya, ya mushaf hijau muda itu kini milikku seutuhnya.

Hari demi hari kuhabiskan bersama mushaf ini, terutama selepas maghrib dimulai dengan matsurat sughra dan 1 halaman tilawah beserta terjemahannya. Nikmat sekali memiliki mushaf kecil, meneduhkan apalagi ketika mendapati ayat-ayat yang mengajak kita bertafakkur, seperti:

Ar-Ruum 20-25

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ [٣٠:٢٠]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [٣٠:٢١]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ [٣٠:٢٢]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ [٣٠:٢٣]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ [٣٠:٢٤]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنتُمْ تَخْرُجُونَ [٣٠:٢٥]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

Hari terus berlalu hingga 4 tahun kemudian aku lulus strata satu dan ternyata Allah swt menakdirkan satu hal yang tak pernah kubayangkan. Cerita tentang mushaf hijau muda itu seolah menarikku ke satu tempat yang bagiku tak asing, masjid Baitul Ihsan. Ya… aku diterima di salah satu perusahaan swasta (konsultan software) dan ditempatkan di satu projek jangka panjang di Bank Sentral Indonesia. Kebersamaanku bersama mushaf hijau terus berlanjut, terkadang kubuka surat-surat cinta Rabb bagi hambanya di waktu dhuhur, dan kulipatgandakan intensitasnya di bulan Ramadhan. Sampai satu ketika saat dhuha di bulan Ramadhan kutinggalkan mushaf itu di masjid. Kuselipkan ia di antara kitab-kitab alquran hasil wakaf para jamaah. Saat dzuhur, ternyata ia telah raib entah kemana. Memori itu seolah merekam lagi masa-masa tadabbur taujih Rabbani namun di saat yang sama kuberdoa agar mushaf hijau itu bermanfaat bagi pemilik barunya. Tiga tahun berlalu hingga akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studi strata dua dan tiga di negeri yang jauh lagi (luar negeri). Kini aku dibersamai oleh mushaf biru, muda warnanya dibersamai tanda-tanda waqaf yang berwarna warni untuk memudahkan aku membacanya. Rabb, satu pintaku semoga aku terus diberikan kemudahan mempelajari kalammu, sebagai insipirasi peneduh jiwaku.

#SURATCINTA

Telah kuterima surat-Mu,
Yang telah Kau utus dahulu,
Ayat-ayat cinta dari cahaya-Mu,
Menyelimuti seluruh hati ku…

Telah kuterima surat-Mu,
Yang telah Kau utus dahulu,
Berulang-ulang kali di pikiranku,
Betapa Kau mencintaiku…

Pastinya… bila kumerindu pada-Mu,
Surat-Mu kan kubaca selalu…

Kuharap Kau akan menyebut namaku,
Detik kurindu,
Saat kubaca surat-Mu…
Hidupkanlah hati ini selalu,
Dengan kalimah-Mu,
Kalimah cinta teragung…

Telah kuterima surat-Mu,
Yang telah Kau utus dahulu,
Ayat-ayat cinta dari cahaya-Mu,
Sesegar bumi surga hatiku…

Pastinya… bila kumerindu pada-Mu,
Surat-Mu kan kubaca selalu…

Kuharap Kau akan menyebut nama ku,
Detik kurindu,
Saat kubaca surat-Mu,
Hidupkanlah hatiku ini selalu,
Dengan kalimah-Mu,
Kalimah cinta teragung…

Sungguh makna cinta-Mu tiada penghujung,
Surat-Mu kan kubaca selalu…

Kuharap Kau akan menyebut namaku,
Detik kurindu,
Saat kubaca surat-Mu…
Hidupkanlah hatiku ini selalu,
Dengan kalimah-Mu,
Kalimah Cinta Teragung…

Kaohsiung, Taiwan 03 Maret 2016 bersama syair grup Nasyid Inteam “Surat Cintaku”.

(dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Apa Niatmu? Jangan “Selipkan” Niat Lain Atas Nama Al-Quran