Aku, Tarbiyah, dan Dakwah Kampus

Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.com – Sudah sekitar tiga tahun aku masuk kampus, tinggal di dalamnya. Menjadi makhluk yang turut meramaikan kegiatan-kegiatan di dalamnya –entah itu hanya sekadar ikut-ikutan atau memang turun tangan karena sudah berpikir masak. Dalam masa tiga tahun yang terlewati, ada banyak hal baru tentang dakwah yang tidak pernah aku dapati di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Mungkin karena kompleksitas komponen dari kampus itu sendiri yang membuat dakwah di kampus terasa berkali-kali lipat menjadi lebih kompleks pula. Keheterogenan karakter setiap mahasiswanya, asal yang berbeda-beda, yang juga diiringi puncak dari perkembangan kognitif seorang manusia. Maka seseorang yang menisbatkan dirinya sebagai aktivis dakwah kampus haruslah mampu berpikir lebih kritis, juga lebih kreatif dalam menghadapi mad’u-mad’unya.

Memang begitu faktanya, pada akhirnya ada sangat banyak lini dibentuk hanya untuk menyampaikan ayat-ayat suci Alquran. Mulai dari lini yang akan sangat gamblang mengatakan halal-haram, hingga yang menyamarkannya. Ada banyak posisi yang harus diisi dari berbagai lini agar jumlah aktivis dakwah kampus yang sedikit ini mampu ‘memanjangkan’ tangannya untuk mencapai mad’u yang kelihatannya tak terjangkau bila hanya menggunakan dua tangan saja. Pada praktik lapangannya, aktivis dakwah kampus memang terlalu sibuk mengejar dan mengisi posisi ini. Sibuk memberikan pelayanan terbaik untuk ummat, meski entah niatnya masih lurus karena Allah, atau sudah bias dengan ego yang menginginkan pengakuan eksistensi semata. Di sinilah peran tarbiyah bermain.

Tarbiyah menjaga seorang aktivis dakwah kampus selama masa amanahnya di kampus. Seharusnya, dengan tarbiyah –entah itu berupa tarbiyah dzatiyah ataupun forum pekanan, mampu menjaga lurusnya niat seorang aktivis dakwah kampus dalam beramal. Pun mampu menjaga konsistensi iman seorang aktivis dakwah yang acapkali naik turun. Hanya saja, tarbiyah itu didapat jika memang seorang aktivis dakwah merasa membutuhkannya. Ia hanya mampu mengakomodasi kebutuhan tarbawi seseorang bila memang orang tersebut membutuhkannya. Hingga akhirnya ia mampu memaknai setiap proses sebagai proses tarbiyah dari Allah. Jika tidak, yang namanya forum pekanan hanyalah sebagai rutinitas atau lebih parahnya lagi hanya pengisi waktu luang. Bagaimana seorang aktivis dakwah kampus mampu menyentuh hati –paling tidak, satu mad’u jika ia saja tidak memaknai proses tarbiyah itu sendiri.

Kebutuhan. Bukan lagi hanya sebuah keinginan apalagi untung-untungan. Memaknai proses tarbiyah dan mendapatkan kepahaman akan prosesnya tidak didapat hanya karena menginginkannya, apalagi untung-untungan. Jika sudah merasa mampu memaknai proses tarbiyah –yang tentu saja, tercermin dalam akhlak (karena akhlak adalah buah dari iman), maka itu adalah sebuah nikmat tersendiri dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang haus akan hidayah. Murabbi saya selalu mengatakan bahwa memaknai, pemaknaan, memahami, dan pemahaman adalah sebuah nikmat tersendiri yang tidak semua orang dapat. Lagi-lagi, hidayah adalah privilage Allah semata. Pun pemaknaan dan pemahaman juga bisa dibilang suatu hidayah.

Dan bahwa pemaknaan juga pemahaman tidak didapat hanya dari duduk dan mendengarkan murabbi atau kajian. Ada proses berpikir di sana. Ada proses mengkontemplasikan ayat-ayat Allah di dalamnya. Di sinilah tarbiyahnya. Di sinilah yang membedakan kualitas orang perseorangan aktivis dakwah dalam berdakwah. Berbeda dalam membutuhkan, atau hanya sekadar menginginkan. (dakwatuna.com/hdn)

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Di tengah-tengah usahanya meraih gelar dokter ini turut aktif juga sebagai redaksi di Biro Informasi Media dan Opini Forsalamm UGM.
Konten Terkait
Disqus Comments Loading...