Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Perjuangan SGI XVI di Ibu Kota Jakarta

Perjuangan SGI XVI di Ibu Kota Jakarta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (merdeka.com)
Ilustrasi. (merdeka.com)

dakwatuna.com – Setelah diterimanya sebagai guru pendamping didaerah penempatan kami sedikit  menghela nafas. Karena dengan keadaan tersebut kami akan menjalankan program selama satu tahun. Perjuangan awal yang kami lakukan adalah melakukan koordinasi dengan beberapa tokoh setempat. Tokoh tersebut antara lain RW, RT, Tokoh Pendidikan, Tokoh Agama, Staf dan Pemuda karang taruna yang menjadi penguat kita dalam berjuang. Perjuangan kita memang sedikit berbeda dengan teman-teman SGI XVI lainnya karena kami ditugaskan untuk membuat sekolah urban yang memiliki khas tersendiri. Kekhasan tersebut dilihat dari berbedanya degan sekolah non formal lain yang kebanyakan sudah ada. Sekolah urban yang kami buat di sini adalah bentuk sekolah non formal yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. Sehingga perjalanan membuat sekolah tersebut tidak dengan cepat kita lakukan, butuh waktu dan proses yang panjang. Pengumpulan data, target guru sebagai pengajar, kurikulum yang sesuai kebutuhan dan perlengkapan administrasi juga menjadi bahan pertimbangan dan jalan kita dalam membuat sekolah non formal.

Start perjuangan di Ibu Kota Jakarta tepatnya di Mangga dua Selatan RW 08 adalah bersama warga menyiapkan segala keperluan pendirian sekolah non formal. Keperluan tersebut dimulai dengan targetan bulan Februari ini adalah didapat data dari warga RW 08 sebanyak 13 RT. Data didapat dengan melakukan wawancara partisipatory warga dengan kunjungan ke rumah warga. Data yang didapat berupa data anak, kondisi ekonomi keluarga, sosial, dan alasan anak tidak melanjutkan sekolah bagi yang terputus sekolahnya. Data akan diperoleh dengan pembagian kuesioner dengan instrumen yang dibuat sebelumnya. Di samping pengumpulan data kita juga melakukan pengaktifan kembali madrasah yang masih vakum karena bangunan yang baru selesai direnovasi. Aktifnya madrasah tersebut diawali dengan pembentukan kepengurusan bersama warga. Sementara kita melakukan pendataan juga dilakukan pada anak kecil seusia PAUD dan SD. Pendataan dilakukan untuk menjadi murid madrasah dan PAUD.

Kegiatan yang akan dijalankan di Madrasah antara lain pembelajaran yang masih dasar seperti iqra, wudhu, dan shalat. Berjalanya madrasah akan dilakukan koordinasi dengan pemilik yayasan, pemilik tanah wakaf dan DKM. Program selanjutnya di awal Maret adalah inisiasi pembentukan PAUD, program tersebut akan dilaksanakan dengan kerja sama dengan ibu PKK setempat dengan memanfaatkan posyandu yang ada. Sehingga fokus kerja kita adalah menjalankan pendataan 13 RT di RW 08 dengan home visit dan pendataan lain RW dengan pemberian formulir dan brosur terkait sekolah non formal nantinya. Melakukan assesor dan pembentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Melakukan koordinasi dengan tokoh masyarakat dan pembimbing dari SLI dan SGI Dompet-Dhuafa. Pengaktifan kembali Madrasah Diniyah dengan kerja sama tokoh terkait dan pembentukan PAUD dengan posyandu yang ada di tempat. Sekolah non formal nantinya akan berbeda dengan sekolah non formal yang sudah ada dan akan terbentuk pula paket B yang memiliki kurikulum wajib dan kurikulum khas. Sehingga nantinya akan terbentuk sekolah yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Semoga ini menjadi start perjuangan kita untuk pejuang SGI XVI di Ibu Kota. Akan banyak perjuangan yang dilalui melalui program sekolah guru Indonesia di Ibu Kota Jakarta. Menjadi satu kepastian yang baik ketika kita memiliki niatan baik untuk bangsa ini. Ketika kita meyakini kita mampu membagikan sedikit ilmu yang kita peroleh dan selalu belajar maka akan mendapat kemudahan. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Seorang guru konsultan bagi masyarakat marginal Dompet Dhuafa. Guru di sini diperoleh dengan bergabung di Sekolah Guru Indonesia milik Dompet Dhuafa. Selama satu tahun mengabdi sebagai guru konsultan di Mangga Dua Selatan (Jakarta Pusat). Kegiatan yang dilakukan di sini adalah bersama warga membangun sebuah sekolah non formal yang dipertuntukkan bagi anak-anak yang putus sekolah dan menginisiasi pembentukan PAUD serta sekolah Paket B. Selain kegiatan di atas juga bersama tokoh masyarakat mengaktifkan kembali Madrasah Diniyah yang menjadi tiang pembentukan akhlaq bagi generasi muda di Mangga Dua Selatan (Jakarta Pusat).

Lihat Juga

Halal Bihalal Salimah bersama Majelis Taklim dan Aa Gym

Figure
Organization