Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menghargai Proses

Menghargai Proses

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (vikasacharya.wordpress.com)
Ilustrasi. (vikasacharya.wordpress.com)

dakwatuna.com – Tiga orang pemuda mendatangi masjid. Padahal sebelumnya mereka sering berada di pinggiran jalan atau nongkrong di pos ronda. Mengobrol atau main gitar menghabiskan waktu. Kadang-kadang menggoda cewek-cewek yang lewat. Mungkin mereka sudah bosan dengan rutinitas sebelumnya, atau ingin merasakan nuansa berbeda, atau mereka beranjak ingin bertobat. Petang itu mereka melangkah mantap ke masjid, ingin melaksanakan shalat magrib. Namanya anak muda yang baru hendak tobat, mereka ke masjid dengan pakaian ala kadarnya. Memakai celana jeans dan kaos. Tapi setidaknya sudah menutupi aurat.

Tapi di masjid mereka mendapatkan sambutan yang tidak ramah dari jamaah. Terutama para orang tua yang memandang mereka dengan tatapan aneh. Salah satunya menyeletuk, “Itu mau ke masjid apa mau dolan (main)? ” ujarnya. Sebab terlalu banyak pandangan yang menyudutkan, akhirnya mereka tidak jadi ikut shalat magrib. Mereka keluar dari masjid dan kembali ke habitat sebelumnya untuk kembali meneruskan rutinitas mereka yaitu nongkrong di pinggir jalan.

Begitulah. Mungkin banyak orang yang menjadi jahat kembali karena tidak mendapat kesempatan untuk menjadi baik. Andai saja orang tua di masjid itu mau bersabar dan tidak berkomentar sinis kepada para anak muda itu, mungkin mereka jadi shalat dan masih betah berada di masjid. Tidak menutup kemungkinan mereka akan terus membenahi diri hingga menjadi sama dengan orang tua yang beribadah dengan optimal. Seandainya para orang tua mau bersabar dengan proses yang dilakukan anak muda, mungkin mereka masih sering ke masjid.

Begitulah. Betapa kita sering tidak menghargai proses yang sudah dilakukan orang lain. Bahwa menjadi baik memang butuh proses yang tidak mudah dan perjuangan yang tidak ringan. Setidaknya hargailah iktikad (kemauan) untuk berubah.

Jika kita tidak mampu memberi apresiasi, setidaknya kita tidak mencela. Toh bukan kita juga yang membawa mereka ke arah kebaikan. Kita hanya perlu merespon dengan baik proses yang mereka lakukan. Namanya anak muda. Belum bisa konsisten dan total beribadah layaknya orang tua yang sudah lama makan asam garam kehidupan. Dan akhirnya yang kita dapatkan atas ketidaksabaran kita adalah redupnya semangat yang sudah mulai menyala. Mereka kembali ke jalan dan melakukan rutinitas yang tidak lebih baik.

Dalam dunia kepenulisan bisa terjadi hal seperti ini. Tidak jarang penulis senior memandang rendah sebuah karya yang dihasilkan penulis pemula. Padahal tidak ada namanya penulis senior tanpa didahului menjadi penulis pemula. Penulis senior hendaknya tidak meremehkan karya penulis pemula, toh karya mereka waktu dulu juga tidak beda jauh.

Mari meneladani Rasulullah SAW yang sangat menghargai sekecil apapun karya para sahabat. Rasulullah SAW tidak serta merta mengharamkan khamar (miras). Berangsur-angsur Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya dan masyarakat meninggalkan khamar. Awalnya Rasulullah SAW melarang minum khamar pada saat akan melaksanakan shalat. Setelah itu berangsur-angsur Rasulullah SAW mengharamkan khamar dalam kondisi apapun.

Memberikan kesan positif kepada individu yang melakukan sebuah proses adalah lebih bijak. Alangkah bijaksana jika kita memberikan apresiasi dan motivasi kepada mereka yang sudah menghasilkan karya. Terbaik menurutnya, bukan menurut kita, meskipun kita mampu menghasilkan karya yang lebih bagus darinya.

Bahwa sebuah karya harus bagus dan berkualitas itu memang benar adanya. Tapi semua ada prosesnya. Tidak serta merta sebuah pekerjaan menghasilkan karya luar biasa. Apa jadinya dunia literasi kita jika diisi oleh kritik merendahkan dari para penulis senior. Mungkin tidak ada lagi kaderisasi atau munculnya penulis-penulis muda di ranah kepenulisan ini.

Orang hebat tidak akan mengecilkan orang kecil. Justru dia akan membesarkan orang kecil. Penulis yang hebat tidak akan memandang remeh penulis pemula. Penulis karbitan-lah yang memandang remeh pada penulis pemula. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Karena Dirimu Begitu Berharga

Figure
Organization