Home / Narasi Islam / Ekonomi / Inovasi Kepedulian dalam Bentuk Sosial Ekonomi

Inovasi Kepedulian dalam Bentuk Sosial Ekonomi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi - (vk.com)
ilustrasi – (vk.com)

dakwatuna.com – Perkembangan zaman diiringi oleh dampak positif dan negatif. Dampak positif di mana semakin maju dan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun semakin terlihat kesenjangan sosial antar individu. Dapat diambil contoh, perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih seperti handphone merupakan sebuah inovasi terbaru yang diciptakan. Tentunya munculnya inovasi–inovasi tersebut membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif dari munculnya handphone adalah mempermudah setiap individu untuk berkomunikasi tanpa ada batasan ruang dan waktu. Di mana pun dan kapan pun setiap orang dapat dengan mudah menghubungi rekannya. Namun selain dampak positif tersebut, munculnya handphone yang semakin canggih juga menimbulkan kesenjangan sosial. Salah satunya adalah membuat tingkat kepedulian antar sesama menjadi menurun. Setiap orang disibukkan dengan dirinya sendiri. Bahkan yang dekat terasa sangat jauh, meskipun yang jauh dapat menjadi dekat. Sehingga kepedulian antar sesama semakin menurun.

Selain perkembangan teknologi yang semakin pesat, perlu kita tengok pula keadaan perekonomian Indonesia. Diresmikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada bulan Desember 2015 merupakan salah satu pintu untuk masuknya orang-orang asing ke Indonesia. Sehingga, persaingan masyarakat Indonesia semakin meningkat. Masyarakat bukan hanya bersaing dengan sesama pribumi, namun juga bersaing dengan orang asing yang akan masuk ke Indonesia. Siap atau tidak siap masyarakat Indonesia harus menghadapi keadaan ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,51 juta orang atau 11,13% per September 2015. Apakah kepedulian harus menunggu masalah datang pada bangsa yang kita cintai? Apakah harus menunggu orang-orang asing menguasai Indonesia dan kita hanya terdiam melihat masyarakat Indonesia menengah ke bawah yang tak berdaya menghadapi keadaan persaingan ini? Jawabannya adalah TIDAK.

Melihat sosok seorang wanita yang bernama ibu Titiek Kancaniati yang merupakan perintis kampung wisata Tegalwaru yang terletak di daerah Bogor sebagai seorang yang memiliki kepedualian kepada masyarakat. Seorang wanita yang dapat dijadikan contoh sebagai seorang yang memiliki kepedulian kepada masyarakat dengan memajukan potensi daerah dan memberikan alternatif solusi permasalahan sosial ekonomi yang ada. Kepedulian yang ditunjukkan oleh ibu Titiek di mana beliau membagikan ilmu dan menolong orang-orang yang tidak mampu menjadi mandiri dengan memberikan pelatihan-pelatihan dan lain sebagainya, merupakan suatu inovasi untuk peduli kepada masyarakat. Hal tersebut juga merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat menengah ke bawah dan langkah mengatasi kemiskinan yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Inovasi dalam kepedulian dapat ditunjukkan dalam bentuk sosial ekonomi, yaitu di mana kita peduli dengan keadaan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan ilmu-ilmu sosial sebagai bentuk kepedulian. Inovasi kepedulian tersebut perlu ditiru dan dikembangkan khususnya bagi para pelopor ekonomi syariah. Sebab berbicara ekonomi syariah maka berbicara sektor riil, bagaimana cara menumbuhkan kepedulian untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat menengah ke bawah dengan sektor riil. Bukan hanya memberi, tetapi membimbing masyarakat menjadi lebih mandiri. Jika setiap masyarakat Indonesia mampu untuk peduli kepada sesama yaitu menolong masyarakat yang kurang mampu dengan cara memberikan ide-ide kreatif serta bimbingan dalam meningkatkan taraf perekonomian masyarakat, maka tingkat kemiskinan dan pengangguran dapat diminimalisir. Sebab berbicara peduli bukan hanya saja berbicara bagaimana cara memberi, namun bagaimana cara memberikan nilai tambah (value added) kepada seseorang sehingga menjadi lebih baik dalam menjalani hidup ini. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi STEI SEBI dan penerima manfaat BEASTUDI Ekonomi Syariah Dompet Dhuafa. Memiliki hoby memasak dan suka merangkai kata.

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial