Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Valentine’s Day, Hari Kasih Sayang Kok Merusak?

Valentine’s Day, Hari Kasih Sayang Kok Merusak?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Anti-Valentine-Daydakwatuna.com – Akhir-akhir ini beberapa instansi pemerintahan/pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran tentang larangan merayakan Valentine’s Day. Hal ini membuktikan bahwa dampak yang ditimbulkan dari perayaan Valentine’s Day merupakan sebuah keresahan yang dirasakan oleh banyak pihak.

14 Februari adalah puncak dari apa yang disebut dengan perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day). Perayaan yang kebanyakan dirayakan oleh kaum remaja atas dasar ikut trend tanpa didasari pemahaman yang lebih. Di kalangan remaja terkadang banyak mempersiapkan untuk merayakan Valentine’s Day ini bersama pacarnya. Di beberapa sosial media terlihat seolah-olah ketika menghadapi 14 Februari dia belum punya pacar, terlihat galaunya minta ampun. Sehingga berbagai upaya diusahakn agar bisa dapat pacar sebelum 14 Februari. Mau melampiaskan kasih sayang di tanggal 14 Februari ya?

Hari Kasih sayang, apa yang salah dengan penamaan hari ini? Apa yang salah dengan kasih sayang yang ditepatkan pada tanggal 14 Februari ini? Sehingga banyak pihak yang memperingatkan untuk tidak merayakannya.

Secara nama, kasih sayang adalah nama yang terbaik, nama yang indah dan itu adalah sebuah kefitrahan yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hari kasih sayang. Namun yang menjadi masalah dan selanjutnya menjadi keresahan di banyak pihak adalah cara pelampiasan atau pengekspresian kasih sayang itu yang salah. Pelampiasan kasih sayang di sini lebih kepada kegiatan yang mengarah kepada kerusakan remaja. Lebih khusus lagi pelampiasan kasih sayang yang dilakukan oleh kaum remaja adalah melakukan hubungan sex dengan pacarnya. Ini kah kasih sayang? Kasih sayang yang menimbulkan kerusakan.

Perayaan Valentine’s Day atau hari kasih sayang bukanlah dengan sesuatu yang terbaik. Saat ini, sepertinya Valentine’s Day adalah hari seolah-olah dihalalkannya sebuah hubungan apapun itu yang penting atas nama kasih sayang. Itulah pergaulan dunia remaja saat ini, miris ketika pacaran akhir-akhirnya melakukan free sex untuk membuktikan kasih sayang seorang perempuan kepada pacar lelakinya.

Tidak sedikit remaja khususnya remaja putri menjadi hilang masa depannya karena free sex. Ditinggal pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab setelah melakukan hubungan free sex yang sebelumnya mengatasnamakan cinta dan sayang. Depresi, stress dialami remaja putri karena harus menanggung malu karena hamil di luar nikah, atau karena aborsi.

Budaya Valentine’s Day yang merebak di kalangan pemuda kebanyakan didasari sekedar ikut-ikutan. Mereka jarang sekali mengetahui sejarah tentang Valentine’s Day, hakikat Valentine’s Day, ataupun misi di balik Valentine’s Day. Atas dasar ikut-ikutan mereka turut merayakan Valentine’s Day sama seperti apa yang dilakukan teman-teman sekitarnya atau yang mereka tonton dari media-media. Tidak ada panduan khusus dalam merayakan Valentine’s Day, yang mereka tau Valentine’s Day adalah hari untuk mengungkapkan kasih sayang terhadap orang yang ia anggap paling istimewa. Cara pengungkapannya pun bebas, mereka menganggap jika bentuk ungkapan kasih sayang itu bisa membuat bahagia satu sama lain maka hal itulah bentuk yang terbaik. Semakin berkembangnya zaman, ungkapan Valentine’s Day semakin hari semakin mengerikan bentuknya. Kalo dahulu ucapan kasih sayang sudah cukup sebagai bentuk perayaan Valentine’s Day, berbeda untuk hari ini. Kalo dahulu dengan seikat bunga sudah cukup, berbeda dengan hari ini. Artinya, tingkatan pengungkapan bentuk kasih sayang selalu berbeda-beda dari waktu ke waktu setiap moment Valentine’s Day tiba.

Saat ini, pengungkapan bentuk kasih sayang yang dilakukan oleh para remaja sudah sangat melampaui batas. Atas nama cinta, kasih sayang, Valentine’s Day, mereka mau saja dengan rela melakukan hubungan asusila yakni berhubungan badan dengan pasangannya tanpa diikat oleh pernikahan. Hubungan badan yang dilakukan tanpa ikatan pernikahan bagi kita sebagai bangsa timur sangatlah tabu, apalagi ditinjau dari sisi agama di mana Indonesia sebagai Negara mayoritas Muslim. Sangatlah tidak pantas jika kondisi ini ke depannya akan dianggap oleh para remaja sebagai hal biasa sebagai bentuk pencurahan kasih sayang satu sama lain.

Maka memang perlu dukungan dari semua pihak untuk memantau hal ini. Menyelamatkan generasi muda dari perayaan-perayaan yang malah menimbulkan kerusakan yang akhirnya menjadi keresahan bagi banyak pihak. Upaya yang dilakukan dengan memberikan himbauan untuk tidak merayakan Valentine’s Day, memantau tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat perayaan Valentine’s Day dan usaha-usaha lainnya yang dilakukan baik dari pihak pemerintah, organisasi-organisasi maupun dari orang tua orang tuanya.

Generasi muda kita adalah mereka yang lagi senang-senangnya mengikuti apa yang menjadi trend saat ini. Tanpa diberikan pemahaman, mereka akan melakukan apa saja supaya tidak dikatakan kuper, kudet, gak gaul oleh teman-teman lainnya. Budaya ikut-ikutan ini lah yang kadang tidak tersaring oleh para remaja, sehingga tidak mempertimbangkan baik buruknya setelah mereka melakukan sesuatu.

Mari sama-sama semua pihak untuk menyelamatkan generasi muda dari kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya indonesia sebagai bangsa ketimuran, apalagi tidak sesuai dengan norma agama yang kita anut. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Ketua Umum Forum Peduli Remaja Jambi (FPRJ) Kota Jambi.

Lihat Juga

41 Tahun Hari Bumi Palestina

Organization