Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Seuntai Harapan

Seuntai Harapan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (digipraim.com)
Ilustrasi. (digipraim.com)

dakwatuna.com – Tiada yang mampu menandingi kebahagiaan para pengabdi, tengok Uwais Al-Qarni, ia disanjung Rasul, penuh berkah, namanya harum di langit. Di zamannya ada Sa’id bin Musayyib, seorang ulama besar, banyak meriwayatkan hadits, selama kurang lebih 40 tahun ia selalu berjamaah di masjid dan datang sebelum adzan berkumandang, namun di masanya ketulusan Uwais justru mengalahkannya dan ulama lain semisal Hasan Al Bashri.

Tiada pula yang mampu menyaingi penderitaan para pelaku pencitraan, tengok pula Karun, ia sukses dengan tumpukan materi, memiliki status sosial, pujaan khalayak, banyak orang begitu berharap nasibnya dan anak keturunannya seperti Karun. Namun hidupnya penuh kebanggaan yang akhirnya menenggelamkannya.

Tiada yang mampu menyamai kebahagiaan orang yang pandai bersabar, ia bukan dengan kata-kata, bukan pula mengelus dada, kemudian duduk manis sembari menghela nafas. Tengoklah  Uwais yang bersabar dengan penyakit (kusta)nya, hidupnya amat sangat sederhana, masyarakat mengolok-olok, meremehkan, sampai menganggapnya gila dan cemooh lainnya. Namun sekelas Umar bin Khatab, seorang calon penghuni surga tak segan dan tak malu untuk meminta doa darinya.

Bahagia itu memancar, ia bagaikan rembulan yang menerangi gelap malam, lebih terang dari gugusan bintang yang menghiasi indahnya langit dari tujuh lapisan. Bahagia juga menular. Tengoklah Uwais al Qarni yang begitu bahagia dengan kesehariannya, hidup dan mati tanpa popularitas, ia lebih memilih menjadi rakyat jelata, menolak tawaran dari sang khalifah Umar untuk mendapat jaminan, wajahnya selalu menghadap ke langit, penuh harap, rindu dan cinta akan sang pencipta dan baginda Nabi Muhammad, kendati hidup semasa, takdir tak mempertemukannya, namun hatinya selalu terpaut dengan Rasul.

Bahagia bukanlah persepsi banyak orang, bukan pula dengan banyaknya materi, persepsi bisa salah, materi bisa habis, seiring dengan banyaknya kesalahan dan habisnya materi, maka bahagia itupun lambat laun akan sirna.

Bahagia adalah suasana hati, ia akan terus memancar dan menularkan kepada siapa saja yang melihatnya, orang yang berbahagia, ia akan sangat mudah membahagiakan orang lain, usah tanya kenapa Anda suka dengan dia, apa yang membuat Anda tertarik dengannya, apa kelebihannya, dia kan begini, begitu dan rasa penasaran lainnya!

Sekali-kali tidak, Anda tidak akan menemukan alasan, kenapa orang-orang yang berbahagia bisa menularkan kebahagiaannya dengan sangat mudah, hanya dengan menatap, berteman ataupun sekedar bertegur sapa. Hal itu adalah anugerah terbesar dari Allah Ta’ala, ketenangan yang bersemai di dalam dirinya, bisa menjadi penawar bagi jiwa-jiwa yang gelisah, melapangkan setiap dada yang sempit dan menjadi cahaya bagi kehidupan yang penuh kegelapan.

Bersabarlah sebagai seorang pengabdi,
Bersabarlah atas segala ujian yang menimpa tanpa banyak berkeluh kesah,
Bersabarlah untuk tidak bermaksiat kepada Allah Ta’ala,
Bersabarlah untuk tetap berada dalam ketaatan.

Dahsyatnya kehidupan di hari pembalasan, cukup menjadi pelajaran bagi kita semua, tiada ikatan nasab antara kita dan keluarga, tiada pula saling bertanya, walau sekedar menanyakan kabar.

Semua akan menunggu rapor masing-masing, matahari didekatkan, panasnya akan membuat manusia banjir keringat, hingga pada suatu waktu, penduduk yang ada di padang mahsyar merasa jenuh, bosan dengan ketidaknyamanan dan ketidakpastian.

Berharap cepat diadakan persidangan, untuk diputus apakah ia masuk ke dalam neraka atau menjadi penghuni surga, pada waktu manusia sudah benar-benar tak kuasa melawan kebosanan dan kekawatirannya. Hanya Nabi Muhammad yang kelak bisa memberi Syafaat.

Pada akhirnya sidangpun diputuskan setelah munajat dan sujud penghambaan beliau kepada Rabb semesta alam yang menguasai hari pembalasan, inilah bentuk syafaat Nabi kita.

Di antara kita, ada yang berjalan melewati sirat laksana purnama secepat kilatan cahaya, pancaran terangnya bintang, menunggangi kuda, berlari hingga ada yang berjalan merangkak, kemudian jatuh ke dalam neraka.

Pada hari itu semua manusia diperlihatkan tentang pedih dan panas membara neraka, kemudian Allah Ta’ala akan menyelamatkan pribadi-pribadi yang bertakwa, bersabar, ikhlas, bersyukur dan tidak sombong atau berbangga diri. Ketahuilah kesombongan manusia hanya akan membuatnya terhalang dari mencium aroma wangi surga, sedikitpun ia takkan merasakan keindahan surga.

“Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong “. (QS. Ghafir: 75-76)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi jalan kita dengan menjadikan pribadi-pribadi yang cepat bertaubat, memberi hidayah serta taufiknya. Yaa Rabbana. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Sepuluh Panggilan dari Surga