Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Taman Surga Mulai Sepi

Taman Surga Mulai Sepi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

MASJIDdakwatuna.com – Kehidupan yang serba modern pada saat ini seringkali disalahgunakan sebagian orang. Sejak dahulu masyarakat Minangkabau menjadi kebiasaan untuk menyemarakkan surau-surau, masjid-masjid. Bahkan surau dan masjid menjadi salah satu tempat aktivitas yang terutama untuk menyebarkan agama Islam dan menambah ilmu pengetahuan lainnya. Bahkan tidak sedikit kita lihat para pahlawan yang sangat tersohor pada masa penjajahan berasal dari orang-orang yang memang biasa menuntut ilmu di surau dan masjid.

Hari ini sangat miris kita dengar kabar-kabar yang sangat menyayat hati. Banyak surau-surau yang sudah tinggal karena dikabarkan semakin hari jamaah dan bahkan murid-muridnya mulai berkurang. Hingga tidak satupun yang hadir kembali ke rumah Allah Swt yang agung itu, terkadang jamaah sekarang ini lebih banyak dan menyemarakan rumah Allah pada waktu bulan Ramadhan saja. Akan tetapi setelah habis bulan Ramadhan jamaah yang datang ke rumah Allah kurang berkurang dan bisa dihitung jari.

Jika aktivitas yang kita lakukan sehari-hari membuat kita tidak sempat datang ke rumah Allah lagi, maka itu akan sangat merugilah kita. Karena apapun aktivitas kita, siapapun kita, yang lebih penting adalah keimanan yang ada dalam dada kita. Jangan sampai kita disibukkan dengan kehidupan yang yang fana ini, Allah mengajarkan kepada kita untuk menyeimbangi kehidupan dunia dan akhirat. Bukan mendalukan kehidupan dunia saja dan bukan juga mendahulukan kehidupan akhirat semata.

Keutamaan dalam shalat itu ada tiga dan pahalanya pun dilipatgandakan oleh Allah Swt jika kita lakukan. Keutamaan yang pertama; shalat di awal waktu, kedua, shalat berjamaah dan ketiga shalat di masjid atau surau. Jika ketiga hal itu telah kita lakukan dan kita jalankan insya Allah akan memberikan pahala yang lebih kepada hambanya. Namun kemajuan zaman menjadi kemunduran umat untuk meningkatkan ibadahnya bahkan menjadi kejatuhan akhlak para generasi Islam ke depannya.

Shalat yang lima waktu menjadi sangat sulit untuk dilakukan dan paling tidak untuk shalat Maghrib, Isya, dan Subuh saja tidak seberapa yang menjalankannya. Bahkan jamaah yang hadir ke masjid dan surau itu hanya orang itu ke itu saja. Jika dibandingkan jamaah yang hadir lebih banyak tiang-tiang penyangga bangunan yang lebih banyak daripada jamaah yang hadir. Bahkan terkadang tidak jarang yang menjadi makmumnya hanyalah tiang-tiang penyangga yang selalu setia menjadi makmum yang tidak pernah absen untuk melakukan shalat berjamaah setiap saat.

Bagaimana tidak jika orang tua saja tidak pernah mengajarkan shalat berjamaah kepada anaknya dan bahkan tidak pernah shalat. Tentunya berdampak kepada anaknya yang mengikuti apa yang diajarkan ibunya untuk mendirikan shalat lima waktu, apalagi shalat berjamaah setiap waktu. Surau-surau yang megah didirikan tentu saja untuk melakukan aktivitas keagamaan dan tentunya melaksanakan shalat berjamaah setiap hari. Namun surau-surau dan masjid-masjid yang indah itu karena sudah lama tidak dipakai dan menjadi sepi bahkan tidak terawat dari semak belikar yang menutupi sebagian surau.

Tidak heran dan sudah menjadi kebiasaan para generasi umat pada saat ini, seperti pacaran, berkelahi, ugal-ugalan. Lebih sering kita lihat mereka berada di tempat-tempat wisata dan tempat sepi untuk mengisi waktu dengan pasangannnya daripada memakmurkan masjid dan surau. Bahkan peran orang tua di rumah tidak pernah mengontrol anaknya untuk mendirikan shalat, apalagi shalat berjamaah di sana.

Bahkan tidak aneh kita dengar berita-berita yang menyemparkan generasi mudah sekarang ini. Hamil di luar nikah, pelecehan seksual, perkelahian, dan lain-lain sebagainya. Semua itu tidak ada uluran tangan orang tua untuk mendidik anaknya menjadi pribadi Islam dan lebih memberikan kebebasan yang tidak bertanggungjawab kepada anaknya.

Jika seperti ini terus maka sepuluh tahun, dua puluh tahun ke depan generasi Islam itu akan semakin tidak memiliki akhlak Islam. Walaupun jumlahnya semakin banyak setiap tahun, namun dari segi kualitas serta akhlak Islam sangatlah jauh dari yang diharapkan. Taman sorga yang menjadi rumah Allah Swt menjadi ditinggalkan dan menjadi sepi dari generasi-generasi penerus Islam. Bahkan pada saat sekarang ini kita hanya melihat para bidadari-bidadari senja yang menghiasi surau dan masjid setiap hari. Walaupun mereka salah satu dari anggota camat (calon mati) namun mereka sadar untuk melakukan shalat berjamaah dan memperbanyak amal. Tidak tertutup kemungkinan bahwa yang meninggal dahulu bukan hanya golongan tua saja, namun anak-anak, remaja dan dewasa juga akan meninggal. Bahkan beribadah kepada Allah itu bukan hanya dipenghujng umur kita saja, namun di mulai dari dini yaitu dari anak-anak dan sampai ajal menjemput kita.

Marilah kita makmurkan dan kita hiruk pikukkan surau dan masjid dengan suara azan yang menggema, dengan lantunan suara-suara para semangat penuntut ilmu keislaman yang lebih mendalam. Jika kita andalkan ilmu agama di sekolah-sekolah saja tidak akan merubah akhlak dan tingkah laku kita, serta hanya sedikit dalam seminggu untuk masalah agama Islam. Di surau dan masjidlah tempat untuk menambah ilmu agama kita dan menjadikan kita pribadi yang baik berguna bagi agama, bangsa, dan negara. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Alumni IAIN Batusangkar Jurusan Ekonomi Syariah (Akuntansi Syariah) tamatan tahun 2015. Sangat senang menulis dan membaca serta sudah empat buku yang sudah dibuat namun belum pernah diterbitkan kepada penerbit di antaranya: The Moment of October (Kisah Persahabatan Sejati) 2014,Ungkapan Hati (Kumpulan Puisi) 2014,I Look For Falah (Kumpulan Cerpen) 2015,Cinta Tak Bertuan di Kota Budaya 2014. Selain itu juga senang menulis artikel dan sebagainya.

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial

Figure
Organization