Topic
Home / Berita / Silaturahim / Diskusi Buku: Gerakan Islam Bukan Ancaman

Diskusi Buku: Gerakan Islam Bukan Ancaman

Bedah buku 8 Dekade Pergulatan Politik Ikhwanul Muslimin Menuju Kekuasaan. (rumahbukumufti.com)
Bedah buku 8 Dekade Pergulatan Politik Ikhwanul Muslimin Menuju Kekuasaan. (rumahbukumufti.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Telaah sejarah yang obyektif akan menunjukkan bahwa gerakan Islam di seluruh dunia bukan ancaman bagi identitas nasional. Simpulan itu mencuat dalam diskusi buku “8 Dekade Pergulatan Politik Ikhwanul Muslimin Menuju Kekuasaan”, yang digelar Center for Indonesian Reform di Jakarta, Senin (1/2/2016).

Penulis buku, Ahmad Dzakirin, melakukan riset sejak tahun 2009. Tapi, buku tentang kemenangan politik AKP di Turki terbit lebih dulu (2011) ketimbang buku tentang Ikhwan. “Padahal, Ikhwan dipandang sebagai inspirator bagi kemunculan Islam politik di berbagai negara, termasuk di Turki dan Indonesia,” ungkap Dzakirin, alumnus Rajaratnam School of International Studies, Singapura.

Sejak berdiri tahun 1926 di kota Ismailiyah, Mesir, Ikhwan menyatu dengan akar budaya lokal dan turut membentuk identitas nasional Mesir yang masih di bawah protektorat Inggris. “Hassan al-Banna selaku pendiri Ikhwan dikenal sebagai guru dan tokoh sufi, jauh dari gambaran seorang politisi atau pemimpin organisasi massa besar. Namun, citra otentik itu bergeser tatkala Ikhwan bersentuhan dengan isu kekuasaan,” ujar Dzakirin.

Ikhwan turut berperan dalam proses transformasi Mesir dari sistem Kerajaan menuju Republik. Bahkan, salah seorang pemikir Ikhwan, Sayid Qutb, diposisikan sebagai penasehat spiritual para perwira muda yang menggerakkan Revolusi 1952.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Yon Mahmudi, sepakat dengan penulis buku. “Wajah kultural gerakan Islam acap tenggelam di tengah hiruk-pikuk politik. Dalam konteks sejarah Indonesia, misalnya, Sarekat Islam berawal dari tuntutan kebebasan para pedagang Muslim, sebelum menjadi gerakan massa,” jelas Yon, Dosen FIB UI.

Sebagaimana Ikhwan di Mesir, SI telah menyulut spirit nasionalisme di Indonesia. “Sisi kultural (tasawuf) Ikhwan jarang dibahas. Dari segi ibadah dan ritual pembinaan kader Ikhwan mirip dengan Nahdlatul Ulama di Indonesia, ada wirid rabithah juga. Dari segi pemikiran dan aksi sosial Ikhwan mirip Muhammadiyah,” simpul Yon.

Direktur Eksekutif CIR, Sapto Waluyo, menyambut penerbitan buku sejarah Ikhwan oleh penulis Indonesia. Banyak asumsi negatif telah diluruskan melalui buku ini.

“Ikhwan adalah gerakan dinamik dan adaptif dengan kondisi zaman dan lingkungan. Bukan organisasi yang statik dan rigid,” catat Sapto. “Lebih penting lagi, Ikhwan menyebarkan nilai Islam lewat proses pembinaan paripurna, bukan penyebar teror, sehingga menjadi faktor integrasi bukan ancaman nasional.”

Karena itu, masyarakat tak perlu alergi dengan istilah gerakan transnasional atau ideologi teror. Kekerasan bukan berasal dari gerakan Islam otentik. (Sapto.w/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Mursyid Ikhwanul Muslimin Divonis Hukuman Seumur Hidup

Figure
Organization