Topic

Path Story

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (gadgetgaul.com)
Ilustrasi. (gadgetgaul.com)

dakwatuna.com – Langit Kota Makassar tampak sangat cerah dengan sedikit awan putih berderetan menghiasi birunya langit. Meski beberapa hari yang lalu hujan deras sempat mengguyur Kota Daeng ini. Mungkin sebagian dari kita sering mengeluhkan kondisi yang selalu berganti dan bergiliran ini, tanpa coba memahami lebih dalam betapa adilnya Allah SWT menjawab doa para petani yang ingin turun hujan, dan doa para pedagang kaki lima yang ingin cuaca cerah. Apapun kondisinya sejatinya harus kita syukuri sambil terus menambah kebaikan pada diri-diri kita.

Kondisi yang terus menerus berganti ini terkadang membuat penulis pribadi untuk merenung dan menuliskan renungan-renungan tersebut dalam salah satu fasilitas media sosial yaitu path. Baru saja bergabung di media sosial yang satu ini, tepatnya dua bulan yang lalu. Media Sosial yang memiliki keistimewaan, yaitu apa yang menjadi postingan kita akan terlihat orang-orang yang menyaksikannya, baik itu lagu, gambar, film, ataupun kata-kata. Sehingga secara kasat mata sang pemilik akun path bisa untuk kemudian mengetahui impact-nya. Dalam beberapa kesempatan, ketika menyaksikkan betapa militannya para aktifis dakwah, ingin rasanya mengirimkan salam kepada mereka yang betul-betul militan dengan ideologi, Iman, dan kerja-kerja dakwahnya.

Sampaikan Salam kami pada Kalian, Kalian yang terus berpayah-payah dalam proses, dan terus menjaga kemuliaannya dalam pandangan penduduk langit dan bumi. Terimalah Salamku, Kepada kalian yang terus memperbaiki diri, Sambil tak melupakan kewajiban saling menasehati, Dalam kebaikan dan kesabaran, apapun komentar orang-orang. Jawablah salamku wahai para Saudaraku. Saudaraku yang tetap menjaga prinsip hidup dan fitrah manusia, Sebab banyak orang-orang di luaran sana yang rela menjual murah prinsipnya. Rela melupakan kewajibannya, Rela merendahkan martabat dan kemuliaannya, Rela untuk tak peduli dan tak berideologi. Lalu hancur lebur tak ber-aura, Lalu luluh lantah tak memberi manfaat. Terkoyak-koyak oleh dimensi ruang, waktu, & daya.

Sungguh mereka sangat militan dan teguh dengan prinsipnya, namun jumlah mereka tentu saja sedikit. Saat sedang termenung tentang jumlah orang-orang yang menisbatkan dirinya di jalan dakwah, betapa sedikitnya mereka, betapa yang mereka hadapi adalah bukan hal yang menyenangkan, Betapa Jalan ini tak dilalui oleh banyak orang, Mungkin karena tak dipilihnya jalan ini. Betapa sunyi jalan ini, jalan yang tak seorangpun tahu apa di ujungnya. Hanya keyakinan yang menghujam nuranilah sehingga mereka memilih jalan yang penuh onak dan duri ini. Betapa Integritas mereka teruji, saat sebagian besar orang-orang terlena dengan keramaian yang sesungguhnya adalah kehampaan dan kemalangan. Betapa yang mereka sangka keramaian adalah suasana yang terbangun oleh banyaknya neonbox. Sungguh mereka akan tahu bahwa nantinya jalan selain jalan yang kami ambil adalah kegelapan tak berujung, Kelam nan suram. Jalan yang diambil oleh sedikit orang ini sungguh telah tersebar petunjuk jalannya di mana-mana. Hanya saja mungkin ego masih tinggi, mungkin syahwat masih mendominasi, mungkin Keyakinan belum sekokoh Janji, sebagaimana pemahaman belum utuh karena masih tak peduli.

Inspirasi pun muncul saat sedang rapat bersama para Aktivis gerakan, bahwa butuh kemampuan manajerial yang baik dan pandangan visioner di samping keyakinan mendalam yang dimiliki oleh para engineer gerakan. Saat Para Pemuda Engineer Gerakan Berkumpul, Engkau akan melihat pembicaraan yang jauh melampaui kekinian dan kedisinian tetapi masih Realistis untuk di capai. Engkau akan melihat ide-ide segar nan cemerlang membawa semangat perbaikan di sektor Kampus. Engkau akan melihat tatapan mata penuh keyakinan bahwa kondisi yang serba rapuh ini perlahan bisa berubah dengan langkah-langkah yang progresif. Sungguh Kebaikan pun mesti terpola dengan rapi dan ter-manajemen dengan baik.

Sebagian besar engineer gerakan ini adalah pemuda, pemuda yang berapi-api dan penuh gejolak. Gejolak Pemuda takkan bisa kau tahan sebab ia adalah fitrah manusia. Takkan bisa kau bendung sebab ia bagai air yang terus menerus mengalir. Takkan bisa kau hempas sebab arus mustahil untuk kau lawan arahnya. Yang bisa kau lakukan adalah mengarahkannya menjadi potensi gerakan, menjaganya agar tak keluar jalur, lalu memanfaatkannya menjadi energi perubahan. Itulah gejolak Pemuda! Gemuruhnya begitu kencang, lebih kencang dari deru angin. Terkadang ia harus menyembunyikannya seperti senyapnya hutan. Gejolaknya begitu besar, seakan-akan bisa menggerakkan gunung, menghantar gelombang dan menjelajahi arus, menebar jutaan rasa di seantero bumi. Namun bagi mereka yang tak mampu mengendalikannya, bersiaplah kemudi tak terarah, fokus terpecah, dan idealisme mencair. Untukmu Para Pemuda yang sedang bergejolak.

Tandas kah Kakimu Wahai Pemuda? Nyaman kah Rebahanmu Wahai Pemuda? Sungguh lawanmu saat ini bukan sepasukan musuh yang memenuhi Jerusalem. Bukan tembok kokoh Konstantinia. Bukan sang pembantai Vlad The Dracul. Bukan pula Imperium Agresif ala Romawi. Tetapi yang menjadi lawanmu saat ini Wahai Pemuda, adalah Hawa Nafsumu.. Sungguh Setan yang melenakan dalam buaian maksiat lebih berbahaya dari Setan yang tampil menakuti.

Sulit bukan bila Engkau ingin bandingkan Tinta Emas para ‘Ulama & Darah para Syuhada? Dataran Rumania menyimpan sejarah kelam Vlad The Dracul dan Ekspansi Mulia Muhammad Al-Fatih. Gelombang Laut menjadi saksi sombongnya Fir’aun & Mulianya Musa. Pantai Selatan Jawa menjadi saksi kebohongan propaganda Penjajah tentang keangkeran pantai & Betapa Heroiknya Syaikh Diponegoro, sosok ‘Ulama & ‘Umara. Sungguh semuanya akan Bersaksi, termasuk Bumi yang kau pijaki. Tentang Kehinaanmu atau Kemuliaanmu.

Saat Orang-orang tertidur lalu engkau bangkit menggagas Ide & menjadi Inisiator. Saat para pemuda parlente hulu hilir di taman hiburan, engkau manifestasikan waktu untuk mewujudkan Gagasan besarmu. Saat mereka sedang terkurung dalam rutinitas monoton nan nyaman, engkau menggebrak comfort zone lalu mencipta narasi Pemuda. Bangkitlah untuk Rabbmu..!!! Bangkitlah untuk Bangsamu..!!! Bangkitlah untuk Kehormatanmu..!!!

Engkau Sekualitas Perjuanganmu, di sebuah Pelatihan, ditanyakan kepada seluruh peserta tentang apa cita-cita perjuangan, tak jarang banyak yang kebingungan dan langsung menentukan cita perjuangan saat itu juga. Apakah Perjuanganmu ingin mendapatkan Perempuan yang cantik? Perjuanganmu untuk meraih jabatan tertinggi? Perjuanganmu untuk menempati kursi DPR di Senayan? Perjuanganmu untuk peradaban jangka panjang? Atau perjuanganmu untuk membumikan Alquran? Dari sekian banyak orientasi perjuangan, penulis mengagumi salah satu Gerakan pembaharu, gerakan moderat nan komprehensif, yang mempunyai jargon “Allahu Ghayatuna”

Jangan lupa bahwa dalam kehidupan kita, suatu saat kita berada di titik terendah. Berada di titik terendah. Kesana kita semua kan menuju. Bagi yang sedang Berada di Puncak ketinggian bersiaplah akan celaan dan hinaan. Berada di Titik Terendah, mungkin bagi mereka yang selalu mendongak ke langit ini akan jadi sedikit lucu dan tak terpikirkan.

Engkau sedang merendah, saat wajah engkau sungkurkan di ujung sujudmu.. Memang engkau makhluk rendah, yang tak bisa berbuat apa-apa tanpa kuasaNya. Maka Saksikanlah Orang-orang yang senang merendah, mereka akan tampak membahana dan berdigjaya di Bumi, dan sedang didoakan Ikan di Laut dan Burung di langit. Sedang dibicarakan oleh para Penduduk Langit. Meski senyap menyergap mereka. Tenang, stabil, seperti tanpa ambisi. Namun dinamis ketika bergerak, mendobrak batas kemampuannya, diawali dengan Sujud.

Jangan Keluhkan Tentang Derasnya Hujan. Sebab setiap Tetesnya Allah Maha Tahu. Jangan keluhkan bertubi-tubinya kemalangan. Sebab, apakah itu Ujian, Rahmat, Laknat, engkau tak tahu. Sungguh lebih baik bagimu merangkak menuju Masjid dari pada Pulas terbenam dalam nyamannya kasur.

Zaman semakin mengekang, dan engkau kan merasa kerasnya bebatuan, cadas nan tajam. Semakin sulit berpegang pada prinsip kebenaran, karena mereka ingin Imanmu padam. Lalu engkau kan merasa panasnya bara api di tangan lalu kau genggam. Mereka akan terus mengungkit masa-masa kelam. Sampai-sampai membuatmu naik pitam. Tetapi jangan menyerah, jaga Ia, semai dengan tazkirah tak temaram. Teguhlah, bila perlu gigit Ia dengan gigi geraham.

Para Nabi, Shiddiqin, dan Para Syuhada Iri pada Mereka. Mereka bermandikan Cahaya di atas mimbar-mimbar Cahaya. Siapakah Mereka? Mereka yang saling Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

Ngobrol-ngobrol Penuh Gizi & Manfaat di salah satu sudut Jl. Sungai Saddang salah seorang Kepala Bank Syariah. Bagian yang paling menarik adalah Beliau yang sebelumnya adalah Karyawan di salah satu Bank Konvensional lalu hijrah ke Bank Syariah. Proses Hijrah yang tidak mudah menurut Beliau. Ada-ada saja Rintangan bila ingin semakin mendekat pada Allah. Dalam relung hati, masih menyimpan optimisme dan harapan untuk Bangsa ini. Bangsa yang sangat mendambakan curahan Rahmat. Dimulai dengan diri sendiri, lalu berjuang untuk hal-hal yang substantif. Bagi penulis pribadi, istilah Khilafah atau Demokrasi tak jadi soal. Yang paling penting adalah Cahaya Allah menyebar dan menembus segala sesuatunya. Menyinari & membimbing semua ideologi, mencerahkan Bangsa Indonesia & seluruh aspek kehidupannya. Itulah Cahaya di atas segala Cahaya.

Itulah sekelumit renungan yang sempat kami tuliskan di akun path kami. Semoga bermanfaat. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Ada Dakwah di Dalam Film End Game?

Figure
Organization