Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar dari Obito

Belajar dari Obito

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (multnomahathleticfoundation.com)
Ilustrasi. (multnomahathleticfoundation.com)

dakwatuna.com – Hari ini sambil menunggu asistensi yang datang telat untuk mengajar, saya ingin sedikit menuliskan satu kisah pagi yang bisa kita ambil pelajaran berharganya. Judulnya memang saya ambil dari film Naruto karena salah satu tokoh yang ada pada tulisan ini tidak pernah terlewat dalam menonton setiap episodenya. Namun, tidak pernah mengambil pelajaran-pelajaran darinya. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi kita semua, khususnya bagi diri saya pribadi untuk menjadi seorang yang bisa terus menjadi #TemanBaik (Konco Sing Apik)

Dalam film Naruto, ada salah satu tokoh Antagonist yang sangat berperan dalam terlaksananya perang aliansi Shinobi. Nama tokoh tersebut adalah Obito, seorang ninja muda dari Desa Konoha (Desa tempat tinggal Naruto) yang disangka mati saat menyelamatkan teman kelompoknya (Rin dan Kakashi). Ia diperalat oleh seorang yang bernama “Madara” (Tokoh Antagonis) menjadi sebuah kunci untuk membangkitkan dirinya dan memicu perang aliansi Shinobi. Walaupun menjadi tokoh Antagonist, ada satu quote yang menurut saya harus kita benar-benar pahami. Quote itu adalah “Seseorang yang tidak mempedulikan temannya lebih buruk dari sampah”. Mengingat quote tersebut, pagi ini saya mengalami kasus yang substansinya sama. Semoga ini terjadi pada diri kita

Pagi ini saya kembali tidur ba’da WBS (Waktu Berkah Subuh yang merupakan agenda harian PPSDMS). Tidak terasa saya bangun pukul 07.47 WIB. Kondisi tadi pagi saya sangat merasa kelelahan (tidak biasanya) karena dua hari sebelumnya saya bermain futsal karena saking excitednya memainkan hobby tersebut. Di waktu yang sama, teman saya pun akan berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Saya pikir mungkin saya bisa berjalan bareng sambil menikmati suasana persawahan sepanjang jalan asrama ke kampus. Namun harapan saya di awal sama sekali berbeda dengan realitas. teman saya yang bernama alias “Uzumaki” berkata “Saya duluan karena ini sudah telat”. Hati saya tertegun ketika mendengar kalimat tersebut. Dengan hati sedikit kecewa saya akhirnya berjalan ke kampus sendirian.

Nilai yang bisa kita ambil dari kisah pagi ini adalah percuma kita mendapat prestasi-prestasi, nilai akademik yang sangat tinggi, foundering organisasi-organisasi, menjadi peserta terbaik kalau di dalam diri kita tidak pernah ada yang namanya “Social acceptable”. Bahkan permasalahan utama di negeri yang sangat kita cintai ini bukanlah masalah ekonomi atau lainnya, melainkan masalah sosial. Pertanyaannya, jika ada seorang teman dengan satu kaki “Pincang” yang mengajak bergerak bersama di saat deadline, Apa yang akan kita pilih? Membersamainya dan menerobos ketelatan atau meninggalkannya yang penting dirinya selamat. Silahkan memilih kebersamaan atau ke-egoisan. Itu yang akan menentukan kesuksesan kita nanti. Karena pilihan bukan ada di tangan kita, tapi di hati kita. So, pilihlah dengan bijak.

“The world does not need more successful people. The Planet desperately needs more peacemakers, healers, restores, storytellers, and lovers of all kind.” (Dalai Lama). (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Lahir dari keluarga yang sederhana. Mencoba meraih mimpi dengan meniti ilmu di Kampus Rakyat Institut Pertanian Bogor. Saat ini sosok Ryan Frizky sedang duduk di semester tujuh jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Beberapa pengalaman yang dipunyai oleh seorang Ryan adalah founder Inspiranessia, Desain Untuk Negeri, Kita Gerak, dan CEO Baju Gue Halal. Sekarang Ryan sedang aktif menjadi seorang peserta dua beasiswa yakni Bidik Misi IPB dan Rumah Kepemimpinan PPSDMS. Ryan aktif di organisasi dan kepanitiaan serta tak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang dai produktif. Ryan bercita-cita menjadi seorang ustadz yang juga merupakan CEO sebuah E-Commerce makanan halal tingkat internarsional.

Lihat Juga

Menjadi Calon Ibu Peradaban yang Bijak dalam Penggunaan Media Sosial