Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menemukan Kebahagiaan

Menemukan Kebahagiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Banyak di antara kita yang mengira bahwa bahagia itu dengan memiliki harta yang melimpah, mobil yang banyak, atau kasur yang empuk. Walau mungkin itu bisa saja benar, tapi sejatinya belum tentu.

Allah senantiasa mengingatkan kita dalam surat cintaNya “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (Q.S. Al-Fajr: 15). “Dan nanti, ketika Allah menguji dengan kekurangan rezeki, mereka berkata : “Tuhanku menghinakanku””. (Q.S. Al-Fajr: 16)

Apakah kita akan beriman bila doa kita dikabul seketika, dan kita tidak beriman bila doa kita belum dikabulkan? Bukankah kita tidak boleh mengira-ngira Allah dengan perkiraan kita? Kita hanya makhluk-Nya yang lemah.

Allah pun telah menegaskan jangan sampai harta yang kita miliki hari ini melalaikan kita dari mengingat-Nya. Karena orang – orang seperti itulah orang yang merugi. Kita pun menyepakati bersama bahwa hidup di dunia ini hakikatnya hanyalah sementara. Karena perhiasan, kemewahan, bermegah-megah dalam banyak hal, nyatanya hanya kesenangan sesaat yang menipu. Kita tidak bisa mengalami kesenangan itu selamanya bukan? Karena masing-masing dari kita tentu akan kembali kepada-Nya.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan”. (Q.S. Al-Anbiya: 35)

Jadi, makna kebahagian itu sebenarnya apa?

Allah Yang Maha Pengasih, telah memberi tahu kita dalam ayat-Nya :

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. An-Nahl: 97)

Agar memiliki kehidupan yang baik, syaratnya yaitu beriman, dan beramal shalih. Ali bin Abu Thalib, Ibnu Abbas dan lainnya menafsirkan kehidupan yang baik itu adalah sikap merasa cukup.

Seperti seseorang yang bekerja sebagai bawahan, dengan gaji pas – pasan, tetapi mensyukuri banyak hal, ikhlas terhadap rezeki dari-Nya, dan lapang menghadapi berbagai ujian dari-Nya. Sungguh sebenarnya ia telah kaya.

Tetapi seseorang yang bekerja dengan pangkat tinggi, gaji selangit, namun selalu merasa serba kekurangan, tidak bersyukur, iri hati. Sungguh ia seorang yang miskin.

Maka benar kiranya, ungkapan dari Ibnul Jauzy, “Barangsiapa merasa cukup, maka indah hidupnya. Barangsiapa merasa tamak, panjang gundahnya.” Mari pemahaman kebahagian kita hari ini diperbarui dengan penuh kesyukuran atas nikmat yang diberikan-Nya. Semoga kita menjadi hamba-hambanya yang bahagia. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Kelahiran kota Sumedang dan tinggal di Sumedang pula, anak bungsu dari tiga bersaudara. Seorang mahasiswa di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran angkatan 2011, dan salah satu perintis usaha Kedai Salwa yang bergerak di bidang kuliner, sebagai desain visual kreatif. Bercita cita sebagai technopreneur dan social preneur. Pernah mengabdi di KAMMI komisariat M. Natsir Unpad sebagai humas, di FKDF (Forum Komunikasi Dakwah Islam Fakultas) UNPAD sebagai kepala departement kaderisasi, dan ketua DKM An Nahl Fakultas Peternakan UNPAD. Selain kuliah dan liqa, sedang disibukan dengan aktifitas menulis, baik itu menulis skripsi, menulis artikel, atau menulis proposal nikah.

Lihat Juga

Bahagia itu Bernama Keluarga

Organization