Home / Narasi Islam / Sosial / Fenomena LGBT di Dunia Kampus dan Solusinya

Fenomena LGBT di Dunia Kampus dan Solusinya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Haramnya LGBT (inet)
Haramnya LGBT (inet)

dakwatuna.com – Akhir-akhir ini LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) menjadi sorotan publik. Masyarakat, terutama orang-orang yang meyakini LGBT adalah sesuatu yang tidak benar seolah kebakaran jenggot, baik itu karena menyudutkan menyalahkan atau berusaha mencari solusi untuk orang-orang yang ‘merasa’ dirinya bagian dari LGBT. Lantas, pertanyaan mendasarnya adalah, apakah LGBT adalah sebuah kelainan? Ataukah keturunan/gen? Ataukah sesuatu yang normal?

Jika dilihat dari teori psikologi, suatu hal disebut kelainan jika memenuhi 4 hal, yaitu terjadi pada individu sehingga menyebabkan personal stress, terdapat kerusakan/kelainan dalam diri baik fisik maupun mental, mengganggu kehidupan sehari-hari sehingga tidak bisa bekerja atau melakukan kegiatan yang bermanfaat, dan menyimpang norma-norma sosial yang ada di masyarakat (Stein, et al, 2010).

Untuk mendiagnosis apakah seseorang punya kelainan mental atau tidak, psikolog dan psikiatri menggunakan panduan DSM (Diagnostics and Statistical Manual for Mental Disorder) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association. DSM tersebut ada 5. Pada DSM 1 dan 2, LGBT ternyata masih dianggap sebagai kelainan jiwa/mental, namun mulai dari DSM ketiga, LGBT sudah tidak dianggap sebagai kelainan jiwa/mental karena sudah tidak memenuhi keempat hal yang disebut kelainan.

Hamid Zarkashi, seorang Psikolog Muslim dari Sudan, mengatakan bahwa LGBT bukan karena gen dan hormon, tapi karena kumpulan dari pengaruh sosial/lingkungan.

Lantas, bagaimana jika dilihat dari pandangan Islam? Berikut adalah beberapa ayat Allah yang dengan indah dan logis mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat : 13)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً  وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa : 1)

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl : 72)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 71)

Di antara ayat-ayat tersebut yang telah Allah sebutkan, tentu Islam tidak membenarkan hubungan sesama jenis, yaitu LGBT. Namun, apakah lantas orang Islam harus membenci orang-orang yang melakukan LGBT? Jawabannya adalah TIDAK. Islam memang tidak membenarkan LGBT tapi bukan berarti Islam mengajarkan umatnya untuk membenci orang-orang yang melakukan LGBT. Islam mengajarkan untuk bersikap lemah lembut terhadap sesama. Firman Allah dalam Alquran.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَفَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْلَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا

عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّاللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran : 159)

Melihat kondisi tersebut, maka kita sebagai umat Islam harus berhimpun bersama mencari solusi terbaik dari permasalahan ini. Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut :

  1. Tidak menganggap bahwa LGBT adalah sebuah penyakit yang harus dijauhi.
  2. Membuat situasi yang kondusif sehingga orang-orang yang merasa dirinya termasuk LGBT bisa bercerita karena terkadang mereka bingung mau menceritakan kepada siapa sehingga setelah itu mereka bisa tetap mendapatkan pendampingan. Salah satu hal konkret yang bisa dilakukan adalah dengan membuat peer counselor di mana kita bisa menjadi sahabat bercerita bagi saudara-saudara kita yang memiliki permasalahan LGBT sehingga perlahan kita bisa membantu jalan keluar dari permasalahan tersebut.
  3. Mendukung pemerintah membuat regulasi bertahap. Seperti layaknya khamr yang yang dulu pada zaman Rasulullah mengalami beberapa tahapan, mulai dari dihalalkannya khamr hingga diharamkannya khamr. Regulasi terkait LGBT ataupun penyimpangan seksual lain juga harus diberikan regulasi, namun ini harus dilakukan secara bertahap supaya orang-orang yang melakukan penyimpangan seksual tersebut tidak merasa dianggap sebagai musuh oleh negara sendiri.
  4. Menguatkan media. Saat ini media sudah menjadi guardian of value yang bisa menanamkan kepercayaan kepada masyarakat tentang sebuah isu. Media perlu dikondisikan agar tidak berisi tentang pengecaman terhadap orang-orang LGBT atau berisi tentang hal-hal negatif terkait orang-orang LGBT yang akhirnya bisa meresahkan masyarakat dan justru menanamkan kebencian dalam diri masyarakat kepada orang-orang LGBT.

Dari keempat opsional solusi tersebut, diharapkan fenomana LGBT mulai berkurang hingga lenyap dari bumi. Orang-orang yang LGBT butuh untuk didampingi dan perlahan ditunjukkan jalan kebaikan karena bisa jadi mereka bahkan tidak mengetahui atau menyadari bahwa tindakan mereka adalah salah. Sebagai sesama manusia, kita harus bisa membuat keadaan sosial/lingkungan tempat tinggal menjadi kondusif sehingga bisa meminimalisasi kecendurangan orang menjadi LGBT. Semoga Allah melindungi kita dan selalu menunjukkan jalan kebaikan untuk kita. Wallahu ‘alam bishawab. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa FKM UI.

Lihat Juga

Azyumardi Azra Dukung KAMMI Masuk Kampus Guna Melawan Radikalisme

Organization