Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / “Salam Tempel” dari Mana Hendak ke Mana

“Salam Tempel” dari Mana Hendak ke Mana

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: chietitoday.it)
Ilustrasi. (Foto: chietitoday.it)

dakwatuna.com – Salam tempel hanya bahasa yang digunakan untuk menggambarkan bahwa yang bersalaman serah terima amplop berisi uang kala bersalaman. Dulu di kampungku salam tempel hanya berlaku kala lebaran atau pun saat ada yang kembali ke kampung halaman setelah mengarungi tanah perantauan. Kini di kampung orang lain lagi, sebagaimana lain padang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Sudah teramat sering kulihat salam tempel walau bukan di dua kondisi yang saya sebutkan tadi. Lebih khususnya setiap kali ada undangan dalam suatu acara hampir semua ada salam tempelnya. Namun yang berhak mendapatkan undangan bukanlah rakyat biasa, tapi mereka yang sedikit “dilebihkan”. Di antaranya kiai, pemuka masyarakat hingga pegawai pemerintahan.

Sebagai relawan yang punya anggaran pas pasan (itu pun sumbangan dari donator) saat mengadakan acara membuat kami terkadang berfikir keras saat akan mengundang masyarakat untuk hadir. Bukannya pelit untuk salam tempel dengan undangan tapi banyak hal yang kami pertimbangkan. Satu sisi kami paham ini adat dan kebiasaan masyarakat yang sudah turun temurun entah dari bila. Sementara kami hanya orang datang dengan adat dan budaya yang berbeda, tak mungkin kami berani menentangnya. Di sisi lain akankah kebiasaan yang menurut kami kurang baik ini harus dipertahankan terus menerus ?

Berbagai alasan menjadi landasan kami untuk bersikukuh tidak mengikuti budaya tersebut. Secara sekilas saja apa yang terlintas di benak pembaca saat setiap yang kita undang harus disalam tempel? Bukankah sesungguhnya menghadiri udangan itu wajib ada nya? Lalu apakah niat seseorang menghadiri undangan tidak akan ternodai dengan adanya kebiasaan salam tempel? Kita bicara ukuran manusia biasa lho yang niatnya sangatlah rapuh. Sementara kita tahu dalam Hadits Arba’in di bahas yang paling awal adalah tentang niat “ sesungguhnya segala sesuatu tergantung kepada niat, apa yang kita dapatkan sesuai dengan yang kita niatkan”, kami khawatir dengan tradisi ini.

Landasan menjadi pokok penting dalam menjalankan dan melestarikan segala sesuatu. Bukan kami tidak mau mengikuti budaya setempat, hanya saja kami belum tahu dan belum paham apa landasannya. Dari mana budaya salam tempel ini bermula lalu hendak di bawa kemana pada akhirnya. Iya, kami tahu mungkin salah satu alasannya adalah karena menghargai mereka datang ke acara yang diadakan lama-lama kami rasa akan bermutasi menjadi kebiasaan yang sudah turun temurun, hanya sebatas itu kami rasa.

Saling menghargai tak mesti dilambangkan dengan materi. Banyak cara untuk mewujudkan semua itu. Salah satunya jika suatu saat tamu undangan yang mengadakan acara maka kita lagi yang diundang, itu kan tidak selamanya mesti pake uang. Kecil memang, tapi menurut kami dampaknya sangatlah besar. Kebiasaan seperti ini akan menyulap masyarakat menjadi kaum materialistis yang lupa hakikat kekeluargaan dan gotong royong. Sayang rasanya jika cara menghargai yang tidak biasanya itu malah merusak ciri khas masyarakat.

Semakin tinggi jabatan tamu undangan yang hadir maka semakin besar pula angka di dalam amplopnya. Salah satu contohnya misalkan ada pengawas yang datang ke sekolah pada saat ada acara perpisahan. Bukankah mengunjungi sekolah-sekolah itu adalah tugas mereka dan ada jasa yang mereka terima per bulan untuk semua itu. Lalu mengapa sekolah yang dikunjungi masih harus memikirkan amplop untuk salam tempel dengannya? Secara tidak langsung kehadirannya hanya seharga amplop kala salam tempel. Padahal sesungguhnya jauh lebih berharga dari itu.

Menurut pendapat kami tak jarang ini memberatkan yang punya undangan. Maka untuk itu sama-sama kembali ke tujuan kita menghadiri undangan tersebut. Bukankah Rasul kita yang mulia telah menjelaskan dalam Haditsnya bahwa menghadiri undangan itu wajib hukumnya? Bukankah penghargaan Allah jauh lebih berharga dari apapun. Maka kami sangat berharap tradisi salam tempel ini segera di tinggalkan. Cukup kehadiran kita dapat mengukir senyum indah di wajah orang yang mengundang kita. Semoga saja setiap usaha dan perjuangan kita menghadiri undangan itu Allah nilai sebagai ibadah dan di balasi dengan pahala yang berlipat ganda, amin yaa rabbal’aalamin. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Januarita Sasni, S.Si, SGI. Lahir di Sumatera Barat pada tanggal 25 Januari 1991. Menyelesaikan Pendidikan menengah di SMAS Terpadu Pondok Pesantren DR.M.Natsir pada tahun 2009. Menyelesaikan Perguruan Tinggi pada Jurusan Kimia Sains Universitas Negeri Padang tahun 2014. Menempuh pendidikan guru nonformal pada program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) sejak Agustus 2014 hingga Januari 2015, kemudian dilanjutkan dengan pengabdian sebagai relawan pendidikan untuk daerah marginal hingga Januari 2016. Sekarang menjadi laboran di Lab. IPA Terpadu Pondok Pesantren Daar El Qolam 3 sejak Februari 2016. Aktif di bidang Ekstrakurikuler DISCO ( Dza ‘Izza Science Community) sebagai koordinator serta pembimbing eksperiment dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah. Tergabung juga dalam jajaran redaksi Majalah Dza ‘Izza. Mencintai dunia tulis menulis dan mengarungi dunia fiksi. Pernah terlibat menjadi editor buku “Jika Aku Menjadi” yang di terbitkan oleh Mizan Store pada awal tahun 2015. Salah satu penulis buku inovasi pembelajaran berdasarkan pengalaman di daerah marginal bersama relawan SGI DD angkatan 7 lainnya. Kontributor tulisan pada media online (Dakwatuna.com) sejak 2015.

Lihat Juga

Meriahnya Wakaf Festival Patani

Figure
Organization