Home / Narasi Islam / Sejarah / Zaid ibn Tsabit, Sang Penulis Wahyu dan Ahli Ilmu Waris

Zaid ibn Tsabit, Sang Penulis Wahyu dan Ahli Ilmu Waris

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Twitter)
Ilustrasi. (Twitter)

dakwatuna.com – Proses pengumpulan Alquran dalam mushaf yang kini dibaca oleh seluruh umat muslim di segala penjuru dunia tak lepas dari peran para sahabat Rasulullah. Pada masa penurunan wahyu, dua metode digunakan untuk mengumpulkan Alquran. Menjaga melalui hafalan para sahabat dan melalui tulisan.

Dalam hal penjagaan Alquran melalui tulisan, Rasulullah memiliki ‘sekretaris pribadi’ yang ditunjuk langsung oleh beliau untuk menuliskan wahyu yang turun. Salah satu dari keempat sahabat yang ditunjuk adalah Zaid ibn Tsabit, yang sekaligus ditunjuk Abu Bakar untuk menuliskan Alquran ke dalam satu mushaf. Dan yang ditunjuk Utsman untuk menuliskan Alquran ke dalam satu jenis bacaan.

Zaid ibn Tsabit terlahir dari seorang wanita bani Najjar, Nawar binti Malik ibn Shirmah ibn Malik ibn Adi ibn al-Najjar. Menjelang kelahiran Zaid, wanita ini bermimpi berdiri di sisi Ka’bah sambil menikmati kiswah sutra berwarna kuning dan hijau. Tak hanya itu, setelah melahirkan, ia melihat pancaran sinar dari bayinya yang menerangi isi rumah.

Zaid tumbuh besar bersama saudaranya, Yazid. Ia pun sangat disayangi oleh ibunya dan orang-orang di sekitarnya. Mereka berdua dididik untuk menjadi pahlawan yang kelak akan membela kaumnya–suku Khazraj, yang kala itu tak henti-hentinya berseteru dengan musuh bebuyutan mereka– suku Aus.

Sejak kecil, Zaid telah merasakan kejanggalan yang dilakukan ayahnya ketika menyembah berhala di depan rumah mereka. Apalagi ketika ayahnya tidak sengaja membentur berhala hingga jatuh berserakan. Pada usianya yang ke sepuluh tahun itulah, ayahnya pergi ke medan perang untuk melawan Suku Aus. Tanpa disangka, itulah pertemuan terakhirnya dengan sang ayah.

Sepeninggal ayahnya, Zaid menjadi salah seorang anak sengsara di bumi Yastrib. Namun ibunya senantiasa mendukung putranya, terutama untuk belajar. Nawar mengirimkan putranya untuk belajar pada seorang guru. Pertama kali ia mampu menuliskan namanya sendiri, ibunya sangat bangga dengan itu. Mereka tak pernah mengira bahwa kemampuan Zaid menulis itulah akan membawanya pada proyek besar penulisan kitab suci yang kekal sepanjang masa.

Bertahun-tahun ia belajar membaca dan menulis pada gurunya yang tak lain merupakan tetangganya sendiri. Namun, ia tak pernah belajar tentang berhala-berhala yang mereka sembah. Hingga pada suatu hari, penduduk Yastrib gembira menyambut kedatangan tamu dari Makkah. Mereka tak lain merupakan rombongan Rasulullah SAW. Kedatangan mereka membuka hati penduduk Yastrib untuk menerima cahaya Islam.

Tak terkecuali Zaid dan ibunya. Bahkan ibunya tercatat dalam jajaran muslimat generasi awal. Zaid kecil pun juga telah turut serta membantu pembangunan masjid Nabi. Dalam mempelajari Alquran pun Zaid memiliki semangat yang tinggi untuk menghafalkannya. Pada usia sebelas tahun, ia dibawa oleh pemuka Bani Najjar ke hadapan Rasulullah. Di hadapan Rasulullah Zaid kecil melafalkan surat-surat yang telah dihafalnya. Rasulullah pun menyambut dan menyalami Zaid penuh kehangatan dan kebapakan. Beliau menyimak bacaan Zaid yang dilafalkannya dengan suara merdu dan jernih.

Ketika usianya menginjak tiga belas tahun, perang berkecamuk di medan Badar. Kala itu Zaid memiliki keinginan untuk turut berjihad, namun ia dilarang oleh Rasulullah karena belum memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk berjihad. Begitu pula pada tahun berikutnya ketika perang kembali berkecamuk di bukit Uhud, Rasulullah masih melarang Zaid. Akhirnya selama menunggu medan tempur berikutnya, ia mengerahkan dan melipat gandakan tenaganya untuk menuntut ilmu dan menghafalkan Alquran. Barulah pada usianya yang ke lima belas tahun, Zaid diizinkan Rasulullah turut membantu menggali parit pada perang Khandaq.

Kecerdasan dan ketelitian Zaid, menjadikannya mendapat kepercayaan dari Rasulullah untuk menjadi salah seorang pencatat wahyu. Setiap ada ayat Alquran yang turun, beliau mendiktekannya kepada Zaid yang lalu dicatat di atas lempengan batu, pelepah pohon kurma, atau lembaran kulit. Catatan-catatan inilah yang kelak akan menjadi rujukan resmi proyek kodifikasi Alquran. Sementara itu, Rasulullah juga membuat perjanjian dan kesepakatan dengan pihak Yahudi. Kaum Yahudi dikenal telah memalsukan dan mengubah kitab mereka. Untuk itu, Rasulullah meminta Zaid untuk mempelajari Bahasa Suryani dan Ibrani. Hanya dalam jangka lima belas hari, Zaid telah menguasai dua bahasa tersebut.

Zaid terus mendampingi Rasulullah untuk mempelajari dan mencatat ayat-ayat Alquran. Ia juga mendapat penghormatan dan dimuliakan. Ia alim dan termasuk juru fatwa yang menguasai fikih dan syariah. Ia sebanding dengan pembesar-pembesar sahabat-sahabat yang lain, seperti Ubay ibn Ka’ab, Mu’adz ibn Jabal, dan Abdullah ibn Mas’ud. Bahkan Nabi pernah bersabda, “Orang yang paling ahli faraid di antara kalian adalah Zaid ibn Tsabit.”

Begitu pula pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-shiddiq. Perang Yamamah yang menyebabkan banyak penghafal syahid, menggerakkan hati Umar bin Khattab untuk mengusulkan penulisan Alquran pada sang khalifah. Dalam hal ini, Zaid ibn Tsabit lah yang bertanggung jawab atas proyek penghimpunan Alquran pada masa khalifah Abu Bakar ini. Begitu pula pada masa Utsman ibn Affan. Semakin meluasnya wilayah pemerintahan Islam berdampak pada pemeluk Islam yang tidak hanya berasal dari bangsa Arab. Hal ini menyebabkan timbulnya perbedaan bacaan Alquran di kalangan umat Islam. Atas usulan Hudzaifah, khalifah Utsman bin Affan memerintahkan untuk menuliskan naskah Alquran ke dalam satu bacaan. Naskah tersebut ditulis dalam beberapa eksemplar lalu dikirim ke beberapa daerah kekuasaan Islam. Dan Zaid ibn Tsabit termasuk salah seorang yang bertanggung jawab dalam proyek penulisan naskah tersebut . Naskah yang kini dibaca kaum muslim seluruh dunia.

Zaid meninggal dunia pada 45 H. Tak ada yang tak berduka dengan kepergian beliau. Banyak orang berkata mengenai sosok yang satu ini, “Zaid ibn Tsabit unggul dalam dua cabang: Alquran dan faraid.” Sementara, Abdullah ibn Abbas pun berkomentar “Aku bersumpah demi Allah, kita telah kehilangan seorang ulama besar.” (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini berdomisili di PP An-Najwah Bokoharjo Prambanan Sleman DIY. Penulis aktif dalam redaksi majalah dan buletin sejak madrasah aliyah di MA NU Banat Kudus dan Ponpes Yanaabiul Ulum Warrohmah Kudus.

Lihat Juga

Kesaksian Warga Desa Kamboja Hempaskan Megaproyek Cina (Bagian 1)

Organization