Topic
Home / Berita / Opini / Terorisme Harus Lenyap!

Terorisme Harus Lenyap!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ledakan di pos Polisi Jl. Thamrin dekat Sarinah Jakarta, Kamis (14/1/2016). (twitter/RRI)
Ledakan di pos Polisi Jl. Thamrin dekat Sarinah Jakarta, Kamis (14/1/2016). (twitter/RRI)

dakwatuna.com – Setelah Turki dan India, hari ini publik Indonesia dan warga dunia dibuat terbelalak. Aksi terorisme mengguncang ibukota Indonesia, Jakarta. Lokasinya tidak tanggung-tanggung, benar-benar di jantung Ibukota; kawasan Sarinah Thamrin. Sebuah tempat yang dianggap sebagai etalase wajah ibukota. Di mana di tempat itu, lokasinya berdekatan dengan beberapa perkantoran, pusat perbelanjaan, kedutaan besar dan sangat dekat jaraknya dengan Istana Negara.

Tentu saja kita berduka dan marah dengan aksi terorisme itu. Ini adalah hari yang bisa kita semati sebagai hari berkabung nasional. Terhitung korban dari masyarakat sipil yang sedang beraktivitas dan petugas kepolisian yang sedang bertugas menjaga ketertiban lalu lintas menjadi korban. Dari informasi terbaru, ada 7 (tujuh) korban meninggal -termasuk di dalamnya para pelaku- dan beberapa  yang mengalami luka.

Presiden Jokowi yang berada di Cirebon dalam segera kembali ke Jakarta untuk mendapatkan informasi dan memberikan pernyataan sebagai kepala negara. Yang saya dengar dari media, ada beberapa poin yang disampaikan oleh Presiden; mengutuk keras aksi terorisme; memerintahkan pihak keamanan untuk mengejar dan menangkap; serta menyerukan agar kita semua -warga dan negara- tidak takut atas aksi teror yang terjadi.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengungkapkan hal yang sama. Di sela-sela menjadi saksi dari persidangan korupsi Jero Wacik di Pengadilan Tipikor, JK memberi pesan yang tegas; kita tak boleh takut dan harus melawan terorisme. Sementara dari unsur partai, ada Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini yang mengeluarkan statement resmi; yang pertama, pernyataan prihatin dan duka mendalam. Yang kedua, himbauan untuk waspada dan ingatkan diri keluarga dan rekan sejawat untuk menjaga diri masing-masing.

Yang ketiga, mengutuk keras tindakan teror ini. Yang keempat, mendukung penuh aparat keamanan segera mengamankan lokasi publik. Yang kelima, mendukung penuh aparat keamanan menangkap, menindak tegas, dan menegakkan hukum seefektif mungkin atas pelaku teror. Yang keenam, meminta intelijen negara (BIN) sigap dan bekerja maksimal melakukan deteksi dini agar teror susulan tak terjadi kembali. Yang ketujuh, menyerukan agar rakyat harus mendukung penuh negara melawan teror. Yang kedelapan, mendukung agar penegak hukum mengungkap motif, pelaku, dan aktor intelektual di balik teror serta pernyataan terakhir kepada masyarakat untuk tetap tenang dan menahan diri.

Kita memang membenci aksi teror. Dan kita bangga dengan pernyataan politik dari para pengambil kebijakan politik di negeri ini, seperti Jokowi, Jusuf Kalla dan Fraksi PKS. Mereka berdiri dalam satu suara; negara tak boleh kalah melawan teror. Bahkan seluruh negara membenci aksi teror. Erdogan dalam sidang G-20 menyatakan bahwa masalah utama dunia saat ini adalah terorisme dan keadilan global. Walaupun memang ada juga negara yang melantangkan sikap melawan terorisme demi tujuan-tujuan terselubung.

Terorisme, apapun bentuknya, sangatlah kejam dan tidak berperikemanusiaan, karena penyerangan fasilitas dan kerumunan publik di manapun tempatnya telah terbukti menyebabkan korban dari masyarakat yang tidak bersalah. Juga menyebab korban pihak keamanan yang sedang bertugas melayani masyarakat. Aksi terorisme ini juga menyebabkan trauma dan ketakutan massal, menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan mengganggu situasi politik dan keamanan dalam jangka panjang.

Kita tentu saja ikut bangga dengan pihak kepolisian dan unsur keamanan lainnya yang telah melumpuhkan aksi terorisme ini dengan cepat. Juga bangga dengan masyarakat  dan media yang ikut membantu memberikan info dengan bantuan teknologi informasi dan menjadi viral. Di sisi yang lain, penulis juga melihat bahwa aksi terorisme yang berada tepat di jantung ibukota, merupakan sinyal daruratnya kondisi keamanan negara serta menggambarkan kondisi  BIN (Badan Intelijen Negara) yang tidak mampu menangkap sinyal lebih awal dari aksi terorisme.

Berbagai spekulasi motif yang muncul dari aksi terorisme saya kira tidak perlu menjadi pembicaraan utama. Yang jelas, kita harus memperjelas posisi pikiran dan pandangan kita bahwa aksi terorisme ini bukanlah bagian dari ajaran Islam. Karena Islam mengajarkan tentang perlindungan hak, jiwa dan kehormatan rakyat, serta keamanan dan kedamaian hidup warga negara. Islam juga mengajarkan cara-cara damai dalam menyampaikan pendapat atau dalam rangka membumikan nilai Islami sebagai peri-kehidupan seluruh warga negara.

Justru, aksi terorisme-lah yang mencoreng wajah Islam yang benar. Terorisme, siapapun pelakunya bukanlah representasi dari ajaran Islam. Bahkan boleh jadi -dan ini bisa menjadi keyakinan kita- terorisme adalah aksi yang memang sengaja dilakukan untuk merusak wajah Islam. Makanya, pada saat aksi teror di Turki terjadi, ulama besar dunia dan Ketua Ikatan Ulama Internasional Dr. Yusuf Qaradhawi mengirimkan doa dari Qatar khusus untuk Turki yang kemudian oleh publik Indonesia digubah dengan menambahkan kata ‘Indonesia’ ;

اللهم احفظ تركيا و إندونيسيا المسلمتان من شر الأشرار، وكيد الفجار، ورد سهام المتآمرين عليهما إلى نحورهم، واشغلهم بأنفسهم، وقنا شرهم بما شئت وكيف شئتئت

“Ya Allah, jagalah Turki dan Indonesia, dua negeri muslim dari kejahatan pihak-pihak yang jahat. Jaga Turki dan Indonesia dari konspirasi pihak yang busuk. Kembalikan makar mereka menimpa muka mereka sendiri. Sibukkan pihak yang zalim dengan sesama pihak zalim dan keluarkan kami dengan selamat

Karena aksi teror ini bagian dari rekayasa oknum yang mengatasnamakan Islam, maka kita tidak boleh menyematkan predikat Islam dalam aksi mereka. Tapi di sisi yang lain kita juga meminta media untuk tidak gampang menuduh organisasi Islam dan tokohnya sebagai teroris; seperti yang terjadi pada Wahdah Islamiyah di Makassar. Dan kita wajib memperingatkan agar pihak keamanan (Kepolisian atau Densus atau BIN) agar tidak menggunakan peristiwa teror ini sebagai jalan pembuka untuk memberangus aktivis Islam yang murni berdakwah menyebarkan kebaikan.

Mari kita bergandeng-tangan. Kita tak boleh takut dan kalah pada teror. Kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa, selalu kedepankan sikap toleransi dan kecintaan kita pada saudara sebangsa. Mari bersama kita jadikan Indonesia seperti taman kehidupan yang indah. Tak ada lagi terorisme, tak ada lagi kekerasan. Dan kita harus tetap fokus pada agenda besar nasional seperti nasionalisasi Freeport dan masalah Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terjadi pada salah satu anggota DPR Komisi V dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Anggota Keluarga Alumni KAMMI.

Lihat Juga

Lenyapnya Keimanan

Figure
Organization