Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Fenomena Satu Malam

Fenomena Satu Malam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (legend.az)

dakwatuna.com – Bagaimana perayaan tahun baru di kotamu yang baru saja berlalu? Meriahkah? Penuh pendar-pendar cahaya kembang api, ataukah bising yang menderu akibat mercon yang disulut korek api? Ah… Nampaknya hiruk pikuk tahunan ini akan selalu diulang dan diulang lagi dari tahun ke tahun. Lalu, apa bedanya tahun – tahun yang sudah terlewat dan tahun ini?

Bioskop ramai dijejali pasangan muda – mudi, rela merogoh kocek demi menyambut malam pergantian yang katanya spesial. Mall penuh sesak dengan orang – orang yang ingin memanjakan mata serta memenuhi selera, belanja. Apa lagi? Rumah-rumah, gang- gang kecil, kost – kostan, dipenuhi kumpulan orang yang sibuk menghabiskan waktu, rela menahan kantuk, menanti denting jam tepat pukul 12 malam diisi dengan kegiatan makan – makan, bakar – bakar jagung, ayam, ikan, karaokean mungkin ? Hehehe… Oh iya, bagaimana keadaan alun – alun kota? Bejubel orang menonton konser musik, atau mungkin mengikuti tabligh atau pengajian akhir tahun ? Ah…malam hari di 31 Desember, tanggal yang dikata istimewa, selalu ada aja hiburannya. 1 malam yang penuh fenomena. Kerumunan orang menikmati hiburan yang mereka ciptakan sendiri tiap tahunnya. Hingga, peristiwa ini menjadi sebuah kebiasaan, melebihi adat, dimana apabila kita tidak merayakan momentum ini serasa ‘ih.. Kok gak afdhol yaa…, masa sih… gak gaul banget?’. Apa benar begitu rasanya?

Bagi saya yang masuk bukan pada golongan penikmat suasana gemerlap tahun baru, semua hiburan yang disajikan di malam akhir taun itu biasa saja. Juga bagi kalian yang tak sempat ikut nimbrung di acara yang sudah lewat itu, tidak perlu juga merasa kecewa. Bukankah semua kemeriahan di tahun baru itu bisa kita adakan kapan saja kalau kita butuh dan ingin? Bukankah kita bisa merasakannya tahun depan lagi (karena memang, acara malam tahun baruan dari masa ke masa memang demikian adanya?). InsyaAllah, merayakan tahun baru dengan cara yang demikian bukan satu – satunya hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan kegembiraan. Malah, dengan perayaan yang demikian, takutnya kita terjerumus pada kegembiraan semu. Coba dirunut, siapa yang rela begadang hingga dini hari, lalu ketinggalan Subuh di pagi hari ? Siapa yang terlanjur menggelontorkan sejumlah rupiah untuk pesta kembang api dan pesta pora, lalu begitu hari berganti pagi kepusingan karena semalaman sudah tanpa sadar menghabiskan uang yang dicomot sana – sini dari anggaran lain? Ah.. belum lagi harus rela menguras tenaga untuk beres – beres segala perlengkapan, hingga mulut kita mengucap keluhan dan hati yang menggerutu. Kalau sudah begitu, pertanyaannya adalah, ini kah cara kita menjemput kebahagiaan? Lalu, apa makna tahun baru bagimu?

Saya… bukan bermaksud tidak menyetujui, menolak, menghujat mereka yang merayakan agenda tahunan perayaan malam tahun baru, hanya saja, saya sebagai manusia merasa sayang pada sesama manusia, melalui tulisan inilah, semoga rasa sayang ini bisa tersebar ke banyak orang.

Mungkin ini bisa menjadi sentilan reflektif untuk kita semua…

Sudah masuk 2016, apa yang sudah kita perbuat, apa yang sudah kita beri, apa yang sudah kita bagi ? Untuk sesama, saudara kita, keluarga kita, dan lingkungan sekitar kita?

Pencapaian kita. Prestasi apa yang telah kita persembahkan, usaha terbaik kita. Sudah dimana posisi kita meraih taqwa di hadapan Maha Pemberi Hidup?

Hingga, pertanyaan bagi setiap orang, yang mesti dijawab dengan kejernihan akal dan hati, “siapa sebenarnya saya?”.

2016, penuh harapan kebaikan. Semoga besarnya kesyukuran tidak hanya berakhir di lisan. Semoga, dikaruniai kemampuan untuk terus berbuat dan berbagi. Semoga berkah, rahmat, ketenangan hati selalu menyelimuti. Aamiin.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Alhamdulillah sempat bergabung dengan divisi pendidikan di Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (SGI-DD) sebagai relawan guru untuk wilayah penempatan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (2014-2016) Saat ini menjadi bagian di School of Life Rumah Cahaya (Alam-Montessori-Islami)

Lihat Juga

Keberagaman untuk Bersatu