Home / Berita / Opini / Babak Baru Hubungan Saudi – Iran

Babak Baru Hubungan Saudi – Iran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (bloombergview.com)
Ilustrasi. (bloombergview.com)

dakwatuna.com – Semenjak Saudi mencanangkan operasi Decisive Storm/ عَاصِفَةُ الْحَزْم (badai penghancur) kepada sekte syiah Hutsi di Yaman, eskalasi hubungan antara Saudi dengan Iran terus memburuk. Pasalnya, dalam konflik Saudi – Syiah Hutsi ini, Iran berperan sebagai backbone utama Syiah Hutsi yang telah melakukan kudeta di Yaman.

Konflik secara tidak langsung antara Saudi dengan Iran ini tidak hanya di Yaman, tapi juga terjadi di Suriah, di mana Saudi lebih mendukung Bashar Al Assad agar lengser keprabon, namun sebaliknya Iran habis-habisan mendukung Bashar Al Assad, pemimpin negara penganut sekte Syiah Alawi Nushairiyah.

Eskalasi ini menemui titik puncak ketika Saudi memantik trigger, yaitu mengeksekusi mati Nimr Al Nimr selaku penganut syiah yang berusaha memberontak di Saudi. Patut diketahui, Al Nimr ini adalah warga Saudi yang telah mengenyam pendidikan di Iran, yang membuat gerakan protes kepada pemerintah di daerah timur Saudi.

Eksekusi mati ulama syiah Nimr ini membuat Iran marah, kantor kedutaan Saudi di Teheran tak selamat dari amukan massa  syiah. Praktis, sebuah keputusan tepat diambil Arab Saudi melalui menteri Luar Negerinya Adel bin Ahmed Al Jubeir, Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Mulai 4 Januari 2015, dalam 48 jam ke depan, Iran harus menarik warga diplomatiknya dari Saudi, dengan sebelumnya Saudi pun menarik warga diplomatiknya dari Iran.

Bagaimanapun, Saudi berhak menghukum warganya sesuai dengan konstitusi negaranya tanpa campur tangan dari negara lain. Oleh karena itu, respons berlebihan Iran dengan merusak kantor kedutaan Arab Saudi tidak bisa diterima, selain itu juga bertentangan dengan konvensi internasional.

Babak baru (pemutusan hubungan diplomatik) di tengah ketegangan antara Saudi dan Iran ini makin memanaskan suhu politik di regional timur tengah, di kala perang melawan syiah Hutsi di Yaman, dan perang antara Mujahidin pembebas Suriah dengan Bashar Assad masih berlangsung.

Dari babak baru ini, ada beberapa kemungkinan yang dapat kita perkirakan :

Pertama, Saudi membutuhkan penguatan koalisi yang telah dibangun akhir-akhir ini, kita ketahui Saudi menginisiasi koalisi militer 34 negara muslim yang notabene sunni. Penguatan koalisi ini dibutuhkan untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan peningkatan eskalasi dari poros Iran, setidaknya dalam bentuk psy-war. 

Dalam beberapa jam setelah Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, sebagai rasa solidaritas, Sudan juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Bahrain menuduh Iran dibalik unjuk rasa kaum syiah di negara nya plus menutup kantor kedubes Iran di Bahrain. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UAE) telah men-downgrade hubungan politiknya dengan Iran. [1]

Kedua, Iran akan terus berjuang agar program nuklir nya berhasil. Jika hal ini telah berhasil, maka nuklir akan menjadi bargain Iran kepada Saudi dalam psy-war.

Ketiga, perang harga minyak dunia kemungkinan masih terus terjadi. Setidaknya seperti yang diungkapkan menteri perminyakan Saudi Ali Naimi [1], perang harga minyak dapat terjadi satu tahun hingga tiga tahun. Meskipun anggaran Saudi juga ikut “berdarah – darah” hingga mau tidak mau menaikkan harga minyak dalam negeri nya sebesar40%. [3]

Dengan kondisi hubungan yang memburuk, Saudi bisa terus memukul harga dengan terus membanjiri pasar dengan minyak nya. Sebuah kondisi yang kurang menguntungkan bagi Iran dan Rusia yang berdiri berseberangan dengan Saudi dalam konflik Suriah.

Keempat, akan semakin alotnya operasi menumpas syiah Hutsi, karena Iran akan sangat mungkin terus mem-backup segala kebutuhan persenjataan dan logistik sekte ini di Yaman.

Kelima, kemungkinan kontak senjata secara langsung antara Saudi dengan Iran masih cukup jauh. Butuh effort dan trigger yang lebih bagi kedua negara untuk kontak senjata langsung (perang teluk jilid 4). Apalagi Iran masih terseok seok berjuang dengan program nuklir nya.

Untuk memulihkan hubungan diplomatik antara Saudi dan Iran, dibutuhkan kompromi dari kedua belah pihak, atau dibutuhkan sebuah perjanjian rekonsiliasi. Iran harus meminta maaf atas insiden yang terjadi atas perusakan kantor kedutaan Arab Saudi dan atau berupa klausul yang disepakati oleh kedua belah pihak.

[1] http://www.aljazeera.com/news/2016/01/allies-saudi-arabia-showdown-iran-160104130416688.html

[2]. http://nasional.sindonews.com/read/949287/149/minyak-senjata-ampuh-pertarungan-politik-dunia-1421033572

[3]. http://www.aljazeera.com/news/2015/12/saudi-arabia-hikes-petrol-prices-40-pump-151228154350415.html

 

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Telecommunication Engineer Saudi Telecom Company (STC). Lulusan Teknik Elektro Universitas Indonesia. Aktif di kegiatan sosial, politik, dan dakwah di masyakat. Pemerhati Politik Timur Tengah.

Lihat Juga

Trump Batalkan Rencana Gempur Iran Secara Mendadak

Organization