Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Bagi Kami, Pendidikan Kalian Tidak Kalah Penting

Bagi Kami, Pendidikan Kalian Tidak Kalah Penting

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Google Plus)
Ilustrasi. (Google Plus)

dakwatuna.com – Tak bisa dipungkiri, setiap orang tua menginginkan kehidupan yang paling layak bagi buah hatinya, dan setiap manusia pasti mengidamkan kehidupan yang normal seperti halnya khalayak ramai. Namun, harapan itu penuh dengan tantangan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Kondisi yang mungkin memaksakan mereka berada di kelompok yang teralienasi di antara teman-teman sebayanya.

Tulisan ini berawal dari pertemuan saya dengan seorang anak penyandang gangguan penglihatan, bernama Duygu, dalam suatu kunjungan ke sebuah museum sains pekan lalu bersama dua pembimbingnya. Disana penulis banyak bertanya tentang seberapa penting pendidikan serta perrmasalah yang dihadapi anak-anak difabel. ‘Aku sama seperti yang lain, aku juga butuh pendidikan, dan aku tak mau dikasihani!’ jelas Duygu, seolah jawaban ini menjadi pernyataan tegas bahwa pendidikan tidak hanya diperuntukan bagi mereka yang sehat fisik dan mental. Walaupun setiap harinya mereka harus bergulat dengan segala keterbatasan yang telah dititipkan Tuhan, tetapi semangat untuk belajar yang berkobar tak kalah dengan murid-murid normal lainnya. Terbukti, seorang siswa cerdas bernama Muhammad Amantullah yang tanpa tangan dan separo kaki mampu menandingi siswa normal di sekolahnya, SMA gresik. Ya, ia belajar di sekolah umum, dan berhasil menempati deretan 10 besar selama dua tahun.

Sejatinya, pendidikan menjadi dasar untuk menaikkan martabat seseorang dalam bermasyarakat, dan setiap warga Indonesia tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan (difabel) dijamin haknya atas pelayanan pendidikan sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 (1). Namun, rakyat indonesia belum benar-benar bisa memaknai keberagaman sehingga menimbulkan sekat di dunia pendidikan baik itu dari segi ras, agama, maupun perbedaan kualitas fisik dan mental dari siswa didik. Di sinilah awal terintisnya permasalahan pendidikan bagi anak-anak difabel. Memang benar bahwa Sekolah Luar Biasa (SLB) merupakan fasilitas pendidikan yang telah disediakan bagi ABK. Akan tetapi, tanpa disadari sistem ini menjadi penghalang antara interaksi ABK dengan anak-anak normal lainnya. Sehingga, timbulah kecanggungan dalam diri kelompok difabel, dan mereka merasa tidak bisa beintegrasi di kehidupan sosial dengan kondisi kehidupan mereka yang sangat berbeda.

Bisa dikatakan program sekolah inklusif, di mana peserta didik yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental diizinkan untuk belajar di kelas umum, menghadapi beberapa kendala karena sesuai Peraturan Menteri Nomor 22 Tahun 2006 bahwa tidak semua ABK layak untuk bersekolah di sekolah inklusif, dan di sinilah terlihat peran penting SLB sebagai fasilitator pendidikan yang wajib memberikan pelayanan maksimal bagi peserta didiknya. Memandang lebih jauh, ada hal penting yang harus ditelaah di sini, yaitu intensifitas komunikasi antara SLB dan sekolah umum. Hal ini sangatlah perlu untuk diperhatikan, karena dengan adanya interaksi antara kedua instansi ini, sekolah yang menyelenggarai pendidikan inklusif dapat mencari patokan dan rujukan bahan pengajaran bagi anak difabel yang ditampungnya. Selain itu, adanya kunjungan rutin antara kedua instansi dirasakan perlu, karena di samping meningkatkan hubungan sosial antara anak difabel dan anak non-difabel, tetapi juga bisa menjadi pemicu semangat belajar bagi ABK. Dengan harapan tembok eklusifme di dunia pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dapat dirobohkan seiring kuatnya komunikasi antara peserta didik yang berkebutukan khusus dan normal.

Menapaki permasalahan selanjutnya di dunia pendidikan ABK, dengan mudah dijumpai bahwa tenaga pendidik sangatlah minim bagi anak difabel. Jurusan pendidikan luar biasa di negeri zamrud khatulistiwa ini bisa jadi hanya dipandang sebagai jurusan buangan bagi mereka yang tidak diterima di jurusan yang mereka inginkan sebenarnya, sedangkan di negeri yang penulis tinggali ini, banyak calon mahasiswa baru yang antusias untuk bisa lulus di jurusan ini dengan alih mau mengedepankan bangsa karena mereka yakin anak difabel memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan. Sudah menjadi dasar bahwa guru adalah tokoh utama dalam prosess belajar mengajar, oleh karena itu calon guru di SLB atau pun sekolah inklusif perlu digambleng sejak dini agar terbiasa dan bisa membaca sisi kehidupan anak difabel. Bagi para pengajar ABK, tak hanya usaha yang ekstra, namun juga diperlukan kesabaran yang tinggi agar mampu mengasuh anak didik mereka secara komprehensif.

Kelayakan pendidikan ABK adalah keniscayaan yang harus kita capai. Penulis berharap semua lapisan masyarakat dapat memberikan sikap positif kepada mereka yang memiliki ketidaksempurnaan fisik maupun mental, dan pemerintah sepenuhnya mendukung sarana dan prasarana program-program berkaitan dengan pengembangan potensi ABK demi menyongsong kehidupan yang lebih layak bagi mereka. Kalau bicara secara umum, falisilitas bagi penyandang disabilitas sungguh memprihatinkan. Tak ada penanda jalan untuk tunanetra, tak ada kartu khusus bagi mereka yang bisa lebih memudahkan mereka dalam berbagai hal, sulit menemukan huruf Braille di tempat-tempat umum, bahkan jalan landai pun jarang dijumpai. Apakah di dunia penddidikan akan terus memiliki nasib yang sama? Inilah saatnya kita bangsa indonesia untuk lebih memperhatikan pendidikan anak-anak difabel. Sama seperti kebanyakan orang, mereka juga haus akan ilmu!

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswi Indonesia yang sedang kuliah di Turki jurusan Matematika.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik