Topic
Home / Berita / Nasional / Setelah dr Andra, Kini Rekan Kerjanya yang Meninggal di Dobo

Setelah dr Andra, Kini Rekan Kerjanya yang Meninggal di Dobo

dr. Afrianda Naufan merupakan dokter magang di wilayah kerja yang sama dengan mendiang dokter Andra. (liputan6.com)
dr. Afrianda Naufan merupakan dokter magang di wilayah kerja yang sama dengan mendiang dokter Andra. (liputan6.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Berita duka kembali datang di dunia kedokteran Indonesia. Dokter Afrianda Naufan (Nanda), seorang dokter magang di Dobo Maluku meninggal dunia karena sakit.

Nanda merupakan dokter magang di wilayah kerja yang sama dengan mendiang dokter Andra yang meninggal dunia karena sakit pada Kamis, (12/11/15) lalu di RS Cenderawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku.

Kabar duka tersebut diketahui dari status Facebook Erta Priadi Wirawijaya, seorang Cardiologist di Rumah Sakit Karisma Cimareme dan Rumah Sakit Cahya Kawaluyan, Bandung sebagaimana dilansir viva.co.id

Innaillahi Wainnaillahi Rojiun. 

Telah berpulang ke rahmatullah adik sekaligus sejawat kita dr. Afrianda Naufan (Nanda). Beliau adalah Dokter internship di Dobo Maluku, wilayah yang sama dengan wilayah kerja almarhum dr Andra yang belum lama ini meninggal saat tugas internship,” tulis Erta pada status akun Facebook pribadinya, Selasa malam, 15 Desember 2015.

Menurut Erta, Nanda mengalami demam, dehidrasi hingga akhirnya dievakuasi ke RSUD di Ambon dalam keadaan koma. Kondisi kesehatannya kian memburuk karena Nanda juga mengidap diabetes hingga akhirnya tidak tertolong. Nanda adalah putra dr. Hj Cut Diah Adivar MM, Direktur RS PTP Langsa Aceh. Almarhum datang dari Aceh ke daerah perifer Maluku untuk menuntaskan kewajiban internshipnya.

Kasus ini mirip dengan kejadian yang menimpa almarhum dr Andra yang meninggal akibat penanganan tak optimal di wilayah ini.

Menurut Erta, dokter Internship adalah dokter yang telah diangkat sumpah sehingga mereka bukan lagi mahasiswa kedokteran seperti apa yang diutarakan Menteri Kesehatan sebelumnya. Mereka ditugaskan di daerah terpencil dengan pesangon (bantuan hidup dasar) sebesar Rp2,5 juta rupiah per bulan sebelum dipotong pajak. Diluar itu, mereka harus membayar sendiri sejumlah uang untuk turut serta dalam BPJS kesehatan.

Jika dokter internship meninggal saat tugas, Kepala Opini Publik Kemenkes Anjari Umarjianto mengatakan keluarga mereka akan mendapatkan piagam dan santunan sebesar 6x gajinya atau sekitar Rp15 juta.

Dalam akunnya Erta juga mendoakan, “mari kita semua doakan agar Allah SWT menerima imannya almarhum. Tempatkan dia sebagai penghuni jannah dan keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran, ketabahan serta keikhlasan dalam menerima musibah. Selamat jalan dr Nanda semoga pengabdian mu pada negeri ini tak sia-sia.”

Selain itu, Erta juga menyampaikan harapan kepada pemerintah agar meningkatkan pelayanan publik dalam bidang kesehatan.

“Semoga pemerintah dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki fasilitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut sehingga kasusnya tidak terus terulang kembali,” tulis Erta dalam akun media sosialnya.

Sebelumnya, berita meninggalnya  Dokter muda Dionisius Giri Samudra yang tengah menjalani internship (magang) di Puskesmas Dobo, Kota Tual, Maluku Tenggara menyedot perhatian publik. Dia meninggal setelah mengalami didiagnosis mengalami infeksi campak dan radang selaput otak.

Cerita kepergian Dionisius berawal dari demam tinggi yang dialaminya. Menurut dr Martin, dokter di RSUD Cendrawasih, dr Andra, sapaan Dionisius, mengalami demam sejak pulang dari Jakarta. Sekitar dua pekan lalu, dr Andra bersama dua temannya meminta izin untuk pulang.

dr Andra pulang menuju Jakarta dan mengaku tujuannya untuk memeriksa kesehatan. Tapi tak jelas pemeriksaan kesehatan apa yang dimaksud.

“Saya tidak jelas harinya, tapi dr Andra baru tiba di Ambon ke Jakarta. Di Ambon dia bertemu dengan dua teman internship-nya asal Manado. Mereka sama-sama memang janjian di Manado,” jelas dr Martin saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (12/11/15).

Dia tak tahu berapa lama dr Andra dan dua temannya berada di Ambon. Tapi saat itu, dr Andra sudah dalam kondisi demam tinggi. Oleh dua temannya, dr Andra sudah diminta balik ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan. Namun dr Andra tak mau memilih melanjutkan perjalanan ke Dobo.

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Figure
Organization