Home / Berita / Opini / Daulat

Daulat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi - (liputan6.com)
ilustrasi – (liputan6.com)

dakwatuna.com – Hari itu, 19 Mei 2014. Dua orang berbaju putih mengayuh sepedanya masing-masing. Dua buah sepeda ‘onthel’ yang nampak tua. Sama seperti kedua pengendaranya. Salah satu dari keduanya berwajah ‘alami’ untuk tidak dikatakan ‘ndeso’. Wajah tirusnya sesekali bersungging senyum menyapu ribuan manusia yang mengiringi perjalanannya. Nampak keraguan dan rasa percaya diri yang ia pupuk paksa dalam menit-menit menuju sebuah gedung di Jalan Imam Bonjol. Sesekali pandangan polosnya bersitumbuk dengan ribuan wajah penuh semangat para pengiringnya yang hampir serempak berbaju putih

Sementara di sebelahnya, lelaki yang satunya begitu gemetar dan sesekali tak mampu menjaga keseimbangannya. Untung pengawalnya dengan cekatan menjaga agar si bapak tua tak jatuh dari sepeda. Entahlah, apa ia tak bisa naik sepeda atau memang ia sudah kehilangan keseimbangannya. Tapi memang hari itu ia terlihat begitu renta. Mungkin umurnya mendekati 70 tahun. Boleh jadi, lima atau sepuluh tahun yang lalu ia dikenal sebagai lelaki yang trengginas nan tangkas. Tapi publik melihat hari itu, ia sudah nampak berbeda. Senyum khas yang penuh semangat memang masih ada. Tapi tak seperkasa dulu senyumnya. Seperti dibebani letih yang tak habis-habis.

Tiba di Kantor KPU di Jalan Imam Bonjol mereka berdua segera masuk ke ruang pendaftaran. Tanpa banyak bicara mereka menyelesaikan proses administrasi. Para pembawa warta sempat meminta salinan visi misi dan dan semua hal yang berkaitan dengan kedua orang ini. Tapi nampaknya kedua calon dan timnya enggan membagikan. Bahkan ketika diminta untuk menyampaikan secara lisan kepada yang hadir tentang visi pencalonannya, keduanya tak mau. Mereka hanya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara perhelatan.

Pemburu warta menerima dan menyiarkan dokumen visi-misi dan program kedua orang tadi sehari kemudian. Seseruput kopi kemudian dokumen itu menyebar di banyak laman. Ia terbang dan hinggap seperti burung-burung merpati. Nampak gagah rangkaian kalimatnya. Saat membacanya kalimatnya, kita seolah-olah sedang memakai baju republiken, berada di atas podium kayu setinggi dua meter dengan puluhan mikropon dan ratusan ribu massa berdiri mengepalkan tangan berteriak ‘merdeka’ dan ‘hidup rakyat Indonesia’. Semuanya seperti tak berkesudahan dari pagi hingga sore. Sebagian orang menyebutnya harapan

Bacalah sendiri kalau tak percaya. Kata-kata yang menjadi judul dokumennya begitu menghipnotis. “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”, itu kalimatnya. Begitu membacanya, ingatan kita dengan riang gembira terbang ke seorang lelaki gagah yang cara berbicaranya menjadi impian hampir seluruh pemimpin di republik ini. Tegas, lugas dan mampu menularkan nyala di dada seluruh manusia. Judul dokumen itu memang seperti menjiplak kata-kata sakti lelaki yang pada zaman keemasannya begitu disegani dunia.

Jika Soekarno -si lelaki gagah itu- menulis Ajaran Trisakti-nya  dengan bunyi; “Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan”, maka kedua orang tadi menulisnya dengan kalimat ringkas; “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”. Seperti ingin mengulangi keperkasaan masa lalu. Dan sebagian orang-orang di republik ini bersuka cita. Memori di dalam kepala tentang pemimpin yang diidam-idamkan akhirnya buncah. Walaupun sebagian orang menyebutnya polesan. Karena mata dan hati mereka berpijak pada serangkaian peristiwa dan gembar-gembor media tentang “ketenaran yang dipaksakan” atas si lelaki kurus berwajah ‘alami’ itu di hari-hari sebelumnya. Sebagian orang itu menyebutnya kepalsuan

Tapi tak berhenti sampai di judul dokumen saja. Demi meyakinkan pemilik suara, kedua lelaki itu menuangkan pokok-pokok pikiran dan mimpi-mimpi ketika dipercaya negeri ini dalam 41 halaman visi misi dan program aksi. Semua problem bernegara kita seolah tuntas dalam rangkaian kata-kata memukau. Di awal mula dokumen mereka memulai cerita tentang negara kita yang tak kunjung menyelesaikan cita-cita luhur kemerdekaan; “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Semua masalah kebangsaan kita -masih menurut kedua lelaki ini- dikarenakan tiga hal; yang pertama, merosotnya kewibawaan negara; yang kedua, melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional; dan yang ketiga, merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Seperti judul dokumen yang mereka buat. Kesannya jadi seperti permainan kata-kata. Tapi tak apa-apa. Toh, harapan kita masih dikuatkan dengan banyaknya misi dan program aksi yang tertulis dan merupakan janji mereka

Tercatatlah tujuh tawaran misi dan kontrak besar yang merupakan terjemahan visi kedua orang tadi. Pertama, mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan. Kedua, mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis berlandaskan negara hukum. Ketiga, mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim. Keempat, mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera. Kelima, mewujudkan bangsa yang berdaya saing. Keenam, mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional. Dan ketujuh, mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam budaya. Ke tujuh misi itu kemudian dirangkup dalam sembilan program aksi. Kita mengenalnya dengan Nawa Cita.

Hari-hari berlalu setelah takdir kemenangan yang mengantarkan keduanya ke istana. Di awal-awal kita diselimuti bahagia. Tapi semakin hari, rakyat semakin gelisah. Bayang-bayang tentang kegagahan Trisakti Soekarno yang tersematkan dalam janji 41 halaman dokumen visi misi dan program aksi ternyata kian kabur. Nawa Cita yang dulu dibawa kemana-mana dan diperbincangkan banyak ahli di negeri ini sebagai sebuah dokumen cita-cita kedaulatan, kemandirian dan kepribadian bangsa yang mendekati genuinitas perasan keringat dan airmata rakyat, kini seperti palsu sepalsu-palsunya.

Cita pertama bagian terakhir yang terpatri di halaman 6 dan 14 dokumen program aksi, mereka khianati sendiri ketika membuat kebijakan untuk lebih banyak mengimpor alat pertahanan dari luar tinimbang memberdayakan industri dalam negeri. Begitu juga era kegaduhan Polri yang justru gebyar-gebyarnya malah semakin meriah di pemerintahan mereka. Seperti tak percaya mereka menulis program aksi nan manis tentang kepolisian dan sinergitas dengan lembaga yang lain yang tertuang di halaman 15 dan 24.

Mereka juga terkesan mengkhianati ucapan dan janji dalam halaman 13 dokumen program aksi mereka sendiri yang mereka tuliskan untuk segera berperan dalam resolusi konflik di dunia. Nyatanya mereka diam seribu bahasa dalam berbagai peristiwa yang mengancam demokrasi dan kemanusiaan, seperti di Mesir, Suriah dan Palestina. Cita kedua yang tertulis di halaman 7 dokumennya; membentuk tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya, langsung diingkari sendiri dengan gemuk kompisisi kabinet dan tak jelasnya beberapa nomenklatur kementrian, hanya demi menyembuhkan dahaga pengusungnya yang lama absen dari kursi kekuasaan

Cita kedua yang salah satu derivasinya akan memperkuat lembaga intelejen yang profesional-pun akhirnya tak terpenuhi. Setelah beberapa kali kita kecolongan mengantisipasi konflik di dalam negeri. Cita ketujuh yang tertulis dalam halaman 10 menjadi demikian absurd ketika salah satu menterinya mulai menjaminkan dan menjaja saham bank kita pada asing. Program aksi bidang ekonomi untuk memperkuat pengelolaan kawasan kehutanan di halaman 36 menjadi tak lagi berguna ketika secara serempak dan sistematis kita menyaksikan pembakaran lahan hutan untuk perkebunan di ribuan titik di Indonesia yang mengakibatkan jutaan orang yang terpapar asap kahutla pada saat itu pasti akan mendapatkan penyakit sekitar paru-paru dan pernapasan dalam puluhan tahun kemudian

Begitu juga dengan janji kepada para pemuda untuk memastikan masa depan mereka bebas dari pengaruh pornografi, miras dan penyakit seks menular. Seolah-olah janji hanya tinggal janji ketika mereka berdua tak punya pendirian jelas soal pengaturan peredaran miras dan tak mampu berbuat banyak menghadang derasnya jutaan rayuan pornogragrafi di dunia maya

Dan akhirnya, momentum pembuktian cita-cita kedaulatan dan kemandirian bangsa akan diuji di hari ini. Program aksi kemandirian ekonomi khususnya dalam  pengelolaan sumber daya alam di halaman 33 yang tertulis jelas bahwa mereka ingin melakukan re-negosiasi kontrak berbasiskan keuntungan yang setara, akan menemukan jawabannya.   Hari-hari ini, kata-kata ideologis “kembali ke Proklamasi, Pancasila 1 Juni 1945, dan Pembukaan UUD 1945 atas seluruh masalah kedaulatan kita” yang kedua lelaki itu tulis dan akui sendiri dalam dokumennya, menemukan momentumnya. UUD 1945 menyatakan dengan benderang tentang penguasaan penuh rakyat atas tanah dan air kita. Bahwa tanah dan air kita memang fungsinya cuma satu; sebesar-besar kemakmuran rakyat. Re-negosiasi Kontrak Karya Freeport adalah salah satu  harapan kedaulatan dan kemandirian kita di negeri kita sendiri

Jika keduanya berani melakukan renegosiasi atau nasionalisasi Freeport dan industri migas dan mineral lainnya yang dikuasai asing, maka kita bisa dengan sukacita mendukungnya sampai dimanapun dan dengan konsekuensi apapun yang akan kita hadapi. Tapi, jika mereka tak juga memperjelas posisi keberpihakan mereka -apakah menjadi perpanjangan asing atau menjadi pembela rakyat- dalam kasus Freeport,  maka rakyat tak perlu berlama-lama berpikir tentang kedua orang ini. Rakyat sudah tak mau lagi terjebak dan bodoh untuk dipermainkan dengan permainan sandiwara lenong ala orang-orang dewasa tapi jadi terkesan memuakkan untuk dilihat. Satu diantara keduanya berkonspirasi dalam kepemilikan saham, dan lacurnya, yang satu -lewat menteri loyalisnya- hendak melanggengkan prosesi akbar pengerukan mineral yang merugikan Indonesia berpuluh tahun.

Sudah, hentikanlah. Jangan anggap seolah-olah kita -rakyat Indonesia- begitu  bodoh dan dungu hingga tak bisa membaca dagelan perebutan pundi-pundi antar dua kubu yang rakus, yang naifnya memang sengaja mereka berdua ciptakan

Kepada mereka berdua. Hari ini saya ingin mengirim pesan; “Gagahlah berdiri, dan berdaulatlah kalian -wahai Jokowi dan Kalla- atas negeri kita sendiri. Atas keputusan kalian sendiri. Buatlah rakyatmu bangga, setelah setahun lebih ini, kita selalu menduga-menduga dengan miris tentang ketidakberdayaan kalian karena tarikan antar kepentingan pengusung dan negara asing yang mengintervensi secara politik dan ekonomi. Buktikan bahwa tidak benar kalian memang tak berdaulat atas diri kalian sendiri. Tidak benar bahwa kalian tak kokoh berdiri. Tidak benar anggapan kejam -tapi kini mendekati fakta- yang dinisbatkan kepada kalian dari banyak kaum terpelajar di negeri ini, bahwa kalian; komparador”.

Berdaulat dan gagahlah seperti Soekarno!

Bunderan HI (sambil menunggu mentor bisnis), 27 November 2015

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Anggota Keluarga Alumni KAMMI.

Lihat Juga

Pemuda dan Mahasiswa Makassar Dorong Pemerintah Tuntaskan Program Nawa Cita