Home / Narasi Islam / Sosial / Guru Mulia Karena Karya

Guru Mulia Karena Karya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)
Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.com – Guru Mulia Karena Karya menjadi tema peringatan Hari Guru Nasional tahun 2015. Tema ini sangat penting dan menarik. Sebab tugas guru memang menghasilkan karya, hasil, atau produk. Guru harus berorientasi karya atau hasil. Jangan sampai seumur-umur menjadi guru tidak menghasilkan apa-apa alias nol karya. Hidup manusia tidak ada yang kekal. Begitu pula dengan karir guru. Tidak selamanya seseorang menjadi guru. Ada waktunya seseorang berhenti menjadi guru karena pensiun atau uzur karena umur. Sebelum meninggalkan ‘dunia guru’ hendaknya meninggalkan warisan untuk dunia pendidikan. Bahkan, seseorang hendaknya meninggalkan ‘bekas’ yang dapat dikenang.

Secara umum publikasi ilmiah yang bisa dibuat oleh guru di antaranya adalah artikel, makalah, modul, diktat, jurnal dan buku. Selain itu guru bisa menjadi narasumber atau peserta dalam kegiatan presentasi ilmiah baik tingkat kabupaten, provinsi, atau nasional yang bobotnya semakin meningkat.

Oemar Hamalik (2003) mengatakan bahwa salah satu peran guru adalah sebagai ilmuwan, yang berkewajiban tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang dimiliki kepada muridnya, akan tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu dan terus menerus memupuk pengetahuan yang dimilikinya. Dengan kata lain, guru berkewajiban untuk membangun tradisi dan budaya ilmiah, salah satunya dalam bentuk publikasi ilmiah.

Karya jangan dipandang secara sempit berupa produk-produk itu saja. Karya erat kaitannya dengan prestasi. Prestasi tidak hanya deretan piala atau publikasi ilmiah yang disebutkan di atas. Prestasi bisa dalam bentuk lain. Seperti guru-guru di pelosok yang mampu membangktikan motivasi siswa untuk sekolah. Guru pelosok jauh dari publikasi? Mereka memang tidak menulis artikel, buku, makalah atau publikasi ilmiah lainnya apalagi ikut dalam perlombaan guru berprestasi. Tapi mereka telah berbuat banyak. Karya mereka dalam mendidik dan mencetak generasi muda dengan tantangannya tersendiri. Mereka harus menghadapi siswa yang lebih tertarik untuk bekerja di sawah atau di ladang ketimbang hadir di kelas. Siswa yang memiliki motivasi besar untuk sekolah tapi terkendala harus bekerja untuk membantu menghidupi keluarga.

Guru di pelosok menghadapi siswa dengan kondisi yang unik. Mereka sangat ingin bersekolah tapi terhalang kondisi. Banyak di antara mereka yang tidak sekolah pada usia wajib sekolah karena keterbatasan biaya. Tidak mandi ke sekolah. Datang ke sekolah dengan kondisi seadanya. Tidak jarang di antara mereka tidak memakai alas kaki atau tidak memakai seragam. Hanya memakai pakaian bebas. Jangankan merasakan pengalaman praktikum di laboratorium, ada yang kepanjangan IPS atau nama presiden saja masih belum tahu.

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Hu Wen Chiang, pakar pendidikan dari Taiwan menyebutkan ada empat tipe guru. Pertama, guru yang hanya bisa memindahkan informasi dari buku ke peserta didik. Kedua, guru yang bisa menjelaskan sebuah masalah atau buku ajar. Ketiga, guru yang bisa menunjukkan materi ajar dengan baik. Keempat, paling ideal, adalah guru yang bisa menjadi inspirasi bagi muridnya.

Guru inspirasi inilah yang sangat dibutuhkan untuk negeri kita. Indonesia tidak kurang orang pintar tapi minim orang benar. Banyak siswa yang secara akademis unggul tetapi akhlaknya kurang. Kondisi Indonesia yang karut marut juga karena banyaknya orang pintar secara akademis tapi tidak benar akhlaknya. Korupsi, suap, kejahatan merajalela, dan pemimpin tidak amanah adalah contoh betapa berbahaya orang yang pintar tetapi akhlaknya tidak benar.

Apresiasi terhadap beberapa program yang mengirimkan guru ke pelosok-pelosok seperti Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa, Indonesia Mengajar, dan Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T). Mereka mendatangi sekolah-sekolah yang terpencil dan terkucil dari akses luar. Mereka memang ‘tidak berkarya’ mencetak siswanya menang kompetisi tertentu. Tapi mereka telah ‘berkarya’ membangkitkan motivasi siswa untuk terus bersekolah. Mereka menjadi penerang untuk anak-anak di pelosok. Ketika siswa memiliki motiviasi belajar, itu sudah sebuah prestasi bagi guru.

Di tengah kesibukan guru, jangan lupakan dengan tugas utama guru yaitu mengajar, mendidik, dan melatih. Mengajar artinya meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan (kognitif). Mendidik artinya meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup (afektif). Dan melatih berarti mengembangkan keterampilan siswa (psikomotorik). Tugas yang tidak kalah penting adalah membuat siswa betah di sekolah dan mencintai belajar. Wisnu Giyono dalam Bukunya Ilmu Pendidikan (1996), seorang guru yang baik dan sukses dalam melaksanakan tugasnya jika guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menimbulkan ‘pengin’, ‘krasan’ dan ‘tuman’. ‘Pengin’ artinya peserta didik berkeinginan mengikuti pembelajaran, ‘krasan’ artinya peserta didik betah mengikuti pembelajaran dan betah di sekolah, dan ‘tuman’ artinya peserta didik ‘ketagihan’ untuk belajar dengan guru. Dia selalu merindukan bertemu dan belajar dengan guru.

Knowledge is power, but character is more’. Pengetahuan memang penting. Tapi karakter lebih penting. Siswa bisa saja melupakan yang diajarkan oleh guru. Tapi siswa tidak melupakan apa yang dilakukan oleh guru. Jangan melupakan nilai-nilai yang penting untuk diajarkan kepada siswa.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Figure
Organization