Home / Pemuda / Cerpen / Murabbiku Adalah Calon Mertuaku

Murabbiku Adalah Calon Mertuaku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com – Suara decitan sepatunya, siapalah tidak tahu. Suara tilawah sore di masjid kampus, tentulah orang-orang tak akan salah sangka lagi . Cara berjalan yang kalem, terlihat dari kejauhan. Bahkan akhwat-akhwat fakultas sebelah pun setengah mati dibuatnya. Ia adalah Hamdani. Seorang ketua rohis yang juga mahasiswa paling berprestasi di jurusannya. Selain ia cakap dalam bidang agama dan akademik, ia pun cakap dalam bidang organisasi dan wirausaha. Sebuah Kantin yang terletak di dekat masjid kampus lah bukti nyata kecakapan wirausahanya. Organisasi-organisasi nasional yang dibuatnya telah mengudara bak pesawat F-22 Raptor terbaru milik Amerika. LGBT adalah sebutan keduanya setelah ikhwan strategis. Bukan LGBT khas orang-orang sana, melainkan LGBT versi anak rohis. Lelaki Ganteng Banyak Tilawah. Tilawah memang bukanlah sebuah keharusan bagi dirinya, melainkan sebuah kebutuhan. Ia dua kali dinobatkan sebagai inspiring student of the year oleh badan eksekutif mahasiswa kampusnya. Mungkin karena ia berasal dari keluarga yang berbeda dengan keluarga-keluarga lain. Ia terlahir dari keluarga yang sangat tidak mampu. Melebihi ketidakmampuan penulis cerita ini. Keluarganya tidak mengenal istilah sekolah. Maklumlah ibunya hanya bersekolah sampai kelas 5 SD dan ayahnya tidak pernah tahu kapan terakhir ia sekolah. Kakak-kakaknya terpaksa harus menikah sangat muda. Bukan karena rekomendasi agama, melainkan karena kecelakaan. Setiap ia pulang ke rumahnya. Botol-botol minuman anggur pasti selalu berserakan. adiknya selalu membawa pacar yang berbeda. Bahkan mantan adiknya sudah tersebar diberbagai regional bak peserta beasiswa rumah kepemimpinan. Namun satu tekad yang ia terus bergerak adalah ia hanya tidak ingin apa yang terjadi padanya terjadi pada orang lain. Niat ia baik, ia hanya ingin menjadi orang terakhir yang menderita karena kondisi seperti itu.

Di kampusnya, ia memang difavoritkan oleh hampir semua akhwat di sana. Teman-temannya tidak pernah tahu latar belakang keluarganya. Yang teman-temannya tahu hanyalah kekerenannya saja. Namun sangat disayangkan, walaupun Hamdani mempunyai banyak sekali prestasi di berbagai bidang dan teman dari banyak universitas. Ia selalu merasakan kesendirian terdalam. Ia membutuhkan seorang teman yang selalu ada untuknya. Apalagi seorang teman yang selalu ada untuknya selain seorang istri shalehah. Ya, seperti kebanyakan mahasiswa tingkat akhir lainnya. Ia selalu membayangkan dirinya bisa mempunyai seorang istri shalehah. Ia tidak terlalu mementingkan cantik atau tidaknya. Yang ia pikirkan adalah sosok ibu peradaban yang akan menghasilkan pemimpin-pemimpin baru pada generasinya. Jelaslah ia berpikir seperti itu, mungkin karena pola pikirnya telah berubah setelah ia diangkat oleh ketua lembaga dakwah fakultasnya menjadi salah satu kepala departemen di sana. Setiap mengingat akhwat, ia selalu terngiang perkataan salah satu teman SMA-nya yang berisi “Ikhwan fillah, konsep dapet akhwat itu sederhana. Siapa cepat dia dapat. Jadi percepatlah (menikah) kalau antum udah dapat target (akhwat)”. Setiap kali ia mengingat perkataan temannya, setiap kali itu juga ia galau.

Ceritanya Hamdani memang sudah mendapat target dari sejak ia tingkat satu. Nama akhwat itu adalah Husnul. Ya, Husnul adalah seorang akhwat shalehah yang sangat aktif sekali di kampusnya. Hamdani bertemu Husnul pertama kali saat ia melakukan aksi mahasiswa di istana kepresidenan. Setelah itu, ia selalu mencari tahu aktivitasnya hingga ia tahu bahwa akhwat yang diidam-idamkannya itu aktif sekali di organisasi-organisasi yang peduli kepada generasi anak. Setelah ia tahu, ia tidak pernah lagi mencari tahu tentangnya lagi. Ia hanya berdoa di setiap 1/3 malamnya untuk kebaikan-kebaikan Husnul. Ia selalu yakin bahwa ketika ia menjadi orang keren. Dapat lah Husnul pasti bukan lagi pertanyaan besar bagi dirinya (?).

Suatu hari di pembinaan beasiswanya, tiba-tiba sang supervisor meminta semua kamar untuk dibereskan dan dirapihkan. Jangan sampai ada satu butir debu pun yang tersisa. Sang Supervisor berkata akan ada orang paling penting di beasiswa tersebut. Sontak Hamdani dan teman-temannya langsung membereskan semua barang-barang yang berserakan. Seketika lantai-lantai pun menjadi bersih, kaca-kaca jendela pun terlihat tidak menampakan dirinya, sepatu yang tergantung di besi peyangga bangunan di atas tangga pun tiba-tiba hilang. Semuanya tegang ketika sang supervisor meminta semuanya duduk dengan rapih di ruang tengah.

Assalamualaikum”, suara seorang orang tua berumur sekitar 53 tahunan

waalaikumsalam “, Hamdani dan teman-temannya menegok ke arah pintu sambil bertanya-tanya apakah orang tua ini yang disebut sebagai orang terpenting di beasiswanya.

Ya ternyata orang tua berumur 53 tahunan inilah yang disebut-sebut sebagai orang paling penting di beasiswanya tersebut. Akhirnya semuanya bersalaman dengan sang orang tua itu. Sang supervisor memanggil orang tua tersebut sebagai ustadz Anuraga. Ustadz Anuraga inilah yang membangun institusi penyedia beasiswa Hamdani dan teman-temannya. Di sana Sang Ustadz Anuraga menceritakan banyak sekali tentang peradaban Islam di dunia. Mesir lah, turki lah, hingga pengalaman ia bertemu dengan istri beliau. Di saat materi Islam Mesir dan Turki, Hamdani dan teman-temannya hanya mengantuk bak bocah kecil yang diperdengarkan cerita putri salju. Tapi ketika bercerita tentang istri beliau, semuanya langsung terbangun dan mencatat semua perkataan beliau dengan serius. “ Anak zaman sekarang memang langsung bangun ketika diceritakan masalah nikah hahaha”. Sang Ustadz sedikit menyindir para peserta beasiswa yang kala itu serius menulis materi beliau mendapat istri. Setelah Sekitar empat jam mendengarkan materi tersebut. Hamdani langsung mendekati ustadz dan meminta beliau menjadi murabbinya. Maklumlah grup mentoring Hamdani harus terhenti sementara karena teman-temannya tidak komitmen. Hamdani bercerita bahwa ia ingin menjadi seorang yang ilmu agamanya lebih keren lagi. Setelah mendengar banyak cerita Hamdani, Ustadz Anuraga mau menjadikannya mutarabbinya.

Besoknya, Hamdani diminta untuk mentoring di sebuah masjid di luar kota. Karena semangatnya yang tinggi, ia langsung mendatangai masjid tersebut. Setelah datang ke Masjid tersebut. Ia hanya melihat ustadz duduk sendiri sambil tilawah. Mungkin teman-temannya telat seperti biasa. Janji Mentoring bada isya, malah pada baru kumpul jam 10 malam. Astagfirullah

Stadz, yang lain belum datang kah ? Alhamdulillah akhirnya saya menjadi orang yang paling awal datang. Tidak seperti biasanya hehe ”. Tanya Hamdani dengan percaya diri. Maklumlah ia adalah orang yang paling telat datang setiap mentoring.

Engga kok akhi. Emang antum sendiri kelompoknya”. Sang Ustadz menjawabnya dengan nada santai.

Beneran stadz ane sendiri? Syukran stadz syukran“. Hamdani menjawab sambil keheranan dan bahagia karena ia merasa akan diberikan pembinaan khusus dari Ustadz yang dikaguminya itu.

Seperti biasa mentoring dibuka dengan basmalah dan tilawah. Dan Hamdani mengaji dengan serius.

Setiap minggu, pasti ia meluangkan waktunya untuk kembali mentoring dengan ustadz Anuraga. Begitu pun dengan Ustadz Anuraga yang di tengah-tengah kesibukannya mau menjadi Murabbinya Hamdani. Suatu hari, Hamdani menceritakan kegalauannya tentang akhwat yang disukainya. Ia tidak berani menceritakan akhwat yang disukainya selain kepada Sang Ustadz. Ia menceritakan satu akhwat yang disukainya sedari dulu. Ia menceritakan semua ciri-cirinya, pergaulannya dan semua aktivitasnya yang ia tahu. Tapi ia tidak menyebutkan nama akhwat tersebut. Sang Ustadz memberikan nasihat banyak padanya. Itulah pertama kali ia menceritakan sosok akhwat yang disukainya itu. Malam itu isi kajian bukanlah tentang kajian harakah atau pun kajian islam kontemporer lainnya. Melainkan tentang curhatan kegalauan Hamdani kepada sang akhwat.

Salah satu ciri seorang murabbi dekat dengan mutarabbinya adalah ketika sang murabbi mengajak mutarabbinya datang ke rumahnya. Dan itu terjadi pada Hamdani. Satu bulan setelah curhatan malam itu. Hamdani diajak untuk mentoring di rumah Ustadz. Hanya dengan bermodalkan satu kertas yang berisi alamat rumah ustadz, ia datang ke rumahnya. Ia melihat sesuatu yang janggal dengan alamat rumah ustadz. Ia seolah-olah pernah membaca alamat rumah ini, namun ia lupa kapan ia membacanya. Mungkin itu hanya khayalannya saja. Dengan percaya diri ia datang ke rumah ustadz. Hari itu hari minggu. Semua kegiatan perkuliahan libur. Maka Hamdani datang pagi sekali karena terlalu senang diundang oleh murabbinya.

Setelah menemukan alamatnya. Rumahnya luar biasa bagus. Jauh sekali dengan rumah Hamdani yang lantainya masih tanah berwarna merah, temboknya masih belum diperhalus, dan langit-langit tanpa atap. Kepercayaan diri Hamdani sempat berkurang. Tapi ia tetap melanjutkan untuk masuk ke rumah murabbinya itu

Assalamualaikum “. Suara bel yang nyaring terdengar keseluruh penjuru rumah ustadz yang sangat luas itu. Tiba-tiba ada seorang akhwat seumuran dengan Hamdani membuka pintu.

Waalaikumsalam “. Seorang sangat cantik membuka pintu dengan suara lembutnya.

Ternyata akhwat itu adalah Husnul yang selama tiga tahun ia kagumi. Perasaan Hamdani bercampur aduk. Senang, bahagia, tangis, lucu, heran dan berbagai perasaan lain yang tidak bisa dituliskan kedalam cerita. Dengan suasana jantung berdetak lebih kencang. Hamdani bertanya kepada Husnul. Husnul pun ternyata merasakan hal yang sama. Selama ini pun Husnul sangat mengagumi Hamdani. Hanya saja Husnul mengubah rasa kagumnya kepada Hamdani menjadi semangat untuk melakukan berbagai kebaikan. Maklumlah Hamdani sangatlah terkenal di kampusnya.

“ Ada Bapak Anuraga-nya ? “. Kata pertama yang muncul dari mulut hamdani saat bertemu dengan Husnul. Sungguh beranilah dia menanyakan ayah dari seorang akhwat yang ia suka di saat pertama kali bertemu.

“ Ada. Sebentar ya “. Husnul menjawab dan langsung pergi mencari ayahnya.

Tak lama kemudian Ustadz menghampiri Hamdani dan mengajaknya masuk. Mereka berdua langsung duduk di ruang tengah dan memulai mentoringnya. Namun isi mentoring ini kembali lagi berbeda dengan biasanya. Isi mentoring ini sangat mencengangkan. Seperti ini dialognya “Akh, setelah antum kemarin bercerita tentang kegalauan antum. Ane sebagai murabbi antum merasa punya tanggung jawab lebih. Ane punya satu putri seumur-an antum. Namanya Husnul Khotimah (akhwat yang diidam-idamkan Hamdani). Gimana kalau ane minta antum nikahin putri ane yang ini? “

? ? ?

Ia menyadari sesuatu bahwa jodoh itu tidak perlu sering bertemu. Cukup dua kali. Pertama melihat, dan kedua kali menikah

Bersambung . . .

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lahir dari keluarga yang sederhana. Mencoba meraih mimpi dengan meniti ilmu di Kampus Rakyat Institut Pertanian Bogor. Saat ini sosok Ryan Frizky sedang duduk di semester tujuh jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Beberapa pengalaman yang dipunyai oleh seorang Ryan adalah founder Inspiranessia, Desain Untuk Negeri, Kita Gerak, dan CEO Baju Gue Halal. Sekarang Ryan sedang aktif menjadi seorang peserta dua beasiswa yakni Bidik Misi IPB dan Rumah Kepemimpinan PPSDMS. Ryan aktif di organisasi dan kepanitiaan serta tak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang dai produktif. Ryan bercita-cita menjadi seorang ustadz yang juga merupakan CEO sebuah E-Commerce makanan halal tingkat internarsional.

Lihat Juga

Cagub-cawagub Koalisi PKS, Gerindra dan PAN