Topic
Home / Berita / Nasional / HNW: Kalau Muslim Prancis Diintimidasi, Berarti Teroris Berhasil

HNW: Kalau Muslim Prancis Diintimidasi, Berarti Teroris Berhasil

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. (republika.co.id)
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. (republika.co.id)

dakwatuna.com – Jakarta.  Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyatakan, secara prinsip, dirinya menolak segala bentuk teror dan terorisme. Namun, ia khawatir masyarakat sipil yang tidak bersalah menjadi korban kekerasan, seperti Prancis dan juga tempat yang lain di dunia.

”Kalau warga muslim Prancis tidak terlibat, tapi mendapat perlakukan yang diskriminatif, intimidatif berarti teroris berhasil mengembangkan terorisme,” kata Hidayat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, dikutip dari republika.co.id, Selasa (17/11/15).

Hidayat berharap, tragedi Paris jangan malah mengembangkan teror baru. Misalnya, lanjut dia, masyarakat yang tidak terlibat sama sekali, malah menjadi korban teror baru. Baik langsung maupun tidak langsung, melalui fisik maupun non fisik.

Sehingga, ini menjadi tanggungjawab pemerintah Prancis, untuk memastikan warga Muslim disana yang tidak terlibat, jangan sampai menjadi korban teror dari pihak manapun. Jangan sampai terorisme dijawab dengan teror baru.

”Kalau seperti itu, berarti teroris itu berhasil mengembangkan terorisme, maka gagalah Prancis dan dunia mencegah terorisme,” jelas politikis PKS tersebut.

Hidayat mengatakan, kalau memang dunia serius memberantas terorisme, harusnya dilakukan secara menyeluruh. Publik tentu masih ingat bagaimana Israel masih melanjutkan teror kepada Palestina. Bahkan, Gaza sudah diisolasi lebih dari lima tahun, Masjidil Aqsa terus diteror oleh Israel, dan rumah sakit juga ikut diserbu.

”Jadi terorisme sekali lagi harus kita tolak. Kalau memang serius memberantas terorisme, selesaikan ada tingkat yang menyeluruh,” kata Hidayat.  Oleh karena itu, masalah di Prancis mesti diselesaikan. Hanya saja, perosoalan terorisme di tempat lain juga harus dituntaskan.

Muslim di Prancis mengaku khawatir terkena dampak dari peristiwa teror yang baru saja terjadi, mengingat untuk kedua kalinya tahun ini,

Para pemimpin masyarakat Muslim mengecam pembantaian tersebut dan politikus dengan jelas menyalahkan kelompok Negara Islam (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) atas serangan itu.

Umat Islam yang meninggalkan Masjid Agung Paris setelah salat zuhur juga khawatir Muslim di Prancis akan disalahkan atas konflik yang berakar di Timur Tengah itu.

“Cerita ini mengotori Islam dan mencemari Muslim,” kata seorang pria bernama Soufiane. “Masalahnya di sana yang seharusnya tidak mereka bawa ke sini.” Lanjutnya seperti dikutip dari antaranewscom

Situs Muslim, Saphirnews, melaporkan pada Minggu bahwa Muslim Prancis kembali menjadi “korban tambahan terorisme.” Pada Sabtu pagi, sebuah salib berwarna merah darah dilukis di dinding sebuah masjid di sebelah timur Paris menurut laporan itu

.Slogan “Prancis, bangkit!” juga dilukis di dinding sebuah masjid di selatan Prancis dan “Kematian untuk Muslim” tertulis di dinding sekitar Evreux sebelah utara Paris menurut laporan koran Le Parisien.

Nabil, staf di stadion Stade de France, tempat dua pelaku meledakkan bom bunuh diri, menolak menyebut para penyerang itu “jihadis” atau “Islamis”.

“Mereka teroris. Saya hanya 100 meter dari ledakan pertama dan bom itu tidak akan membedakan seorang Muslim dan seorang Buddha,” katanya.

Muslim di Prancis sama seperti warga negara lainnya, kata dia, dan tidak harus menjustifikasi diri mereka lebih dari yang lain ketika serangan seperti itu terjadi. Ia juga mengkritik politikus Prancis.
“Para politikus punya banyak pekerjaan rumah dengan masyarakat Muslim. Islamophobia muncul dan harus ditangani secara institusional oleh para politikus,” ujar Nabil seperti dilansir kantor berita Reuters. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Prancis Ancam Beri Sanksi Baru untuk Iran

Figure
Organization