Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kala Harap tak Bisa Diharapkan

Kala Harap tak Bisa Diharapkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com / NDA)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com / NDA)

dakwatuna.com – Setiap jiwa punya hawa nafsu hingga lahirlah segala keinginan. Keinginan dalam hidup beragam rupanya. Kadang tertuju pada moril tak jarang tertuju pada materil. Dari ingin menjadi angan, dari angan bermutasi menjadi harap yang berujung pada sebuah harapan. Fitrahnya insan terlahir dalam berjuta impian. Oleh Karena itu maka sudah barang tentu bahwa setiap pribadi mesti punya usaha untuk mewujudkannya.

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba karena di dalam mencoba kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil”.

Begitulah petuah Buya Hamka yang dapat kita jadikan sebagai penguatan dalam menjalani kehidupan. Tak ada salahnya saat kita merajut harap untuk segala keinginan, namun jangan lupa pakailah barometer untuk mengukur keinginan dengan logika. Jangan inginkan memeluk bulan jika itu mustahil dalam kenyataan, karena jikalau ingin bagai hayalan maka diri terbuai angan alhasil harap takkan pernah bisa jadi harapan.

Jikalau setiap orang punya tujuan utama untuk berhasil maka akan jadi halallah semua cara yang ada. Halal haram tak lagi jadi patokan, apapun caranya yang penting harapan terwujud. Bisa dibayangkan akan jadi seperti apa dunia ini, mungkin anak pun akan dengan mudah membunuh orang tuanya.

Kita mestinya selalu ingat bahwa dalam hidup itu ada yang langsung berhasil dengan sekali coba, namun ada juga yang ditunda hingga berkali-kali mencoba. Hanya orang yang tiada putus asalah yang akan menuai keberhasilan, sementara orang yang langsung menyerah maka ia hanya akan terdiam meratapi kegagalan. Sebenarnya keberhasilan bukan hanya dapat diraih karena keberuntungan tapi kesungguhan dan kerja keras juga menjadi faktor penyebab terwujudnya keberhasilan.

Dalam setiap harap terdapat dua sisi yang mesti kita terima dengan lapang dada. Saat diri siap menerima harap tatkala bisa diharapkan, maka diri juga harus siap menerima kenyataan bahwa terkadang harap itu tak bisa diharapkan. Bukan bermaksud pesimis, namun seperti itulah adanya hidup. Segala sesuatunya diciptakan lengkap dengan pasangannya.

Tak perlu berbangga hati ketika harapan jadi kenyataan sesuai dengan apa yang diinginkan. Mensyukuri segala sesuatu lebih baik dari pada hanya berbangga hati. Perlu ingat bahwa ketika Allah berikan apa yang kita inginkan maka sesungguhnya Allah juga sedang menguji kita. Mampukah kita menjadi hamba yang bersyukur atau malah hamba yang kufur.

Begitu juga sebaliknya tak perlu terlarut dalam kesedihan dan sesal mendalam kala harap hanya jadi angan. Tak perlu meratapi kegagalan hingga hilang semangat menjalani kehidupan. Kita juga mesti ingat bahwa sesungguhnya Allah sedang menguji kita mampukah kita menjadi insan yang sabar menghadapi segalanya. Atau kita malah termasuk kedalam hamba yang lemah dan tak ikhlas menerima setiap ketentuanNya.

Orang luar biasa itu bukanlah ia yang dalam sekali coba lalu dapat menuai keberhasilan. Tapi Orang yang luar biasa itu adalah ia yang mampu bangun lagi setelah terjatuh, berdiri tegak lalu berlari mengejar keberhasilannya yang tertunda dengan memperbaiki kesalahan padal langkah sebelumnya. Tak jadi masalah sebenarnya saat harap kita tak bisa diharapkan, yang jadi masalah adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Selamat merajut harap dan semangat memperjuangkan harapan agar jadi kenyataan.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 5,60 out of 10)
Loading...

Januarita Sasni, S.Si, SGI. Lahir di Sumatera Barat pada tanggal 25 Januari 1991. Menyelesaikan Pendidikan menengah di SMAS Terpadu Pondok Pesantren DR.M.Natsir pada tahun 2009. Menyelesaikan Perguruan Tinggi pada Jurusan Kimia Sains Universitas Negeri Padang tahun 2014. Menempuh pendidikan guru nonformal pada program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) sejak Agustus 2014 hingga Januari 2015, kemudian dilanjutkan dengan pengabdian sebagai relawan pendidikan untuk daerah marginal hingga Januari 2016. Sekarang menjadi laboran di Lab. IPA Terpadu Pondok Pesantren Daar El Qolam 3 sejak Februari 2016. Aktif di bidang Ekstrakurikuler DISCO ( Dza ‘Izza Science Community) sebagai koordinator serta pembimbing eksperiment dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah. Tergabung juga dalam jajaran redaksi Majalah Dza ‘Izza. Mencintai dunia tulis menulis dan mengarungi dunia fiksi. Pernah terlibat menjadi editor buku “Jika Aku Menjadi” yang di terbitkan oleh Mizan Store pada awal tahun 2015. Salah satu penulis buku inovasi pembelajaran berdasarkan pengalaman di daerah marginal bersama relawan SGI DD angkatan 7 lainnya. Kontributor tulisan pada media online (Dakwatuna.com) sejak 2015.

Lihat Juga

PHP: Pemuda Harapan Palsu