Topic
Home / Berita / Opini / Belajar dari Pak Ahok

Belajar dari Pak Ahok

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).  (iberita.com)
Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). (iberita.com)

dakwatuna.com – Bagi masyarakat yang pro gaya pak Ahok jangan dulu gembira, bagi masyarakat yang kontra pak Ahok jangan dulu bersedih dengan judul tulisan ini. Tetap rileks dan mari kita menghadirkan kesediaan untuk belajar, karena belajar itu bisa melalui hal yang baik atau hal buruk, menyenangkan atau menyakitkan, kali ini mari belajar dari pak Ahok.

Saya berupaya meminimalkan subjektivitas dalam tulisan ini, sebagai contoh misalnya kalimat “Pak Ahok hebat”, maka jelas ini subjektif, karena hebat menurut saya bisa jadi tidak hebat menurut penilaian masyarakat. Namun jika saya katakan “pak Ahok kerap kata-katanya kasar”, jelas ini objektif, yang pro maupun kontra sama-sama akan setuju karena realita berbicara demikian, di beberapa acara televisi kerap kita saksikan, bahkan ada stasiun televisi yang sampai kena sanksi dari KPI gara-gara kata-kata kasar pak Ahok saat wawancara live. Jika ada yang pro pak Ahok mengatakan kata-kata kasar pak Ahok sebagai bentuk ketegasan, nah jelas ini sesuatu yang subjektif, karena tegas menurut yang pro bisa jadi sebaliknya bagi yang kontra, jelas ya.

Kita dan Budaya Generalisasi

Di masyarakat kita, suku atau etnis tertentu telah memiliki labelnya masing-masing, seperti: keras, pelit, lembek, ulet, dan seterusnya. Kerap kita terburu-buru menjatuhkan penilaian terhadap satu suku atau etnis hanya dengan modal pengalaman mengenal satu atau dua orang dari suku atau etnis tersebut, cara menilai seperti ini tentu kurang bijaksana. Kita harus mau bersabar dalam mengenal sesuatu yang baru, jangan menghukumi sesuatu tanpa alasan yang jelas dan bertanggung jawab.

Sedari kecil saya tumbuh di lingkungan yang berdampingan dengan etnis Tionghoa, bahkan kakek saya dari jalur ibu mampu sedikit-sedikit berujar dalam bahasa Cina saking seringnya berinteraksi dengan tetangga kami dari etnis Tionghoa. Ketika pembawaan pak Ahok menjadi fenomena di televisi dan masyarakat, masyarakat kerap mengaitkan pembawaan tersebut dengan etnis pak Ahok. Penilaian semacam ini tak dapat dibenarkan, kita tak bisa menghukumi satu etnis sama rata hanya karena melihat pak Ahok. Sebagai contoh, ada pak Syafi’i Antonio dari etnis Tionghoa yang halus pembawaan dan lembut tutur katanya.

Ada juga sebagian masyarakat yang menganggap pembawaan pak Ahok merupakan faktor daerah, pulau Belitung yang iklimnya panas mungkin membuat pak Ahok mudah naik darah. Namun anggapan ini lagi-lagi tidak tepat, pada tahun 2013 saya berkesempatan bersilaturahim ke Negeri Laskar Pelangi, sekitar satu minggu saya berada di sana, saya mendapati masyarakat Belitung yang ramah dan halus tutur katanya, meski iklimnya panas ternyata tak menjadikan masyarakat Belitung memiliki pembawaan seperti pak Ahok.

Lalu jika bukan faktor etnis dan daerah, faktor apa yang menjadikan pak Ahok menjadi seperti saat ini? Tentu karena faktor pengalaman dan proses belajar yang telah dialami pak Ahok. Jadi jika ingin menilai, nilailah pak Ahok saja tanpa perlu melakukan generalisasi bahkan menyerang etnis dan daerah pak Ahok berasal, ingatlah bahwa kita tak dapat memilih dilahirkan dalam etnis apa atau di daerah mana.

Yakini bahwa berasal dari etnis atau daerah manapun, tiap-tiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang baik selama ia mau ber-mujahadah untuk menemukan kebenaran sejati. Baik itu tak hanya soal apa yang dilakukan, tapi juga soal apa yang diakui. Seperti seorang Malin Kundang yang tidak mengakui ibunya, meski ia kaya raya dan rajin berderma, apa bisa ia disebut baik? Nah, jika ada orang yang enggan mengakui Allah Swt. sebagai Tuhan, apa bisa disebut baik?

Pak Ahok, Pribadi yang Bersemangat

Nyaris tak ada yang meragukan bahwa pak Ahok adalah sosok yang sangat bersemangat. Mulai dari menjadi anggota DPRD di Belitung Timur sampai akhirnya menjadi Gubernur DKI Jakarta, dapat terlihat semangat pak Ahok dalam mengejar apa yang dicita-citakannya. Dari poin ini kita dapat belajar bahwa jika punya cita-cita itu harus bersemangat dan mati-matian untuk mencapainya. Namun ingatlah bahwa sebagai Muslim kita harus punya nilai lebih, awali dengan luruskan niat semata karena Allah, jangan lupa bahwa cita-cita yang ingin dicapai kelak harus membawa kemanfaatan bagi orang banyak, ingat juga untuk membekali diri dengan ilmu sehingga dapat mencapai cita-cita dengan cara yang baik dan benar.

Berikutnya, terkait semangat pak Ahok yang anti korupsi, melalui tulisan ini saya mengajak pak Ahok untuk menerima Allah Swt. sebagai Tuhan dan menerima Islam sebagai agama yang benar, karena semangat anti korupsi yang kerap disuarakan Pak Ahok tak cukup, tetap tak akan berarti bagi kehidupan akhirat Pak Ahok jika Pak Ahok bukan seorang Muslim. Mari kita bersemangat juga untuk menerima kebenaran sejati.

Kemudian, pak Ahok juga pribadi yang bersemangat dalam menerapkan aturan, sampai-sampai melarang Majelis Rasulullah untuk menggunakan Monas sebagai lokasi zikir nasional dengan dalih aturan, padahal untuk acara-acara lain yang bukan zikir tetap bisa terselenggara di Monas. Dari poin ini kita dapat belajar, bahwa semangat pak Ahok dalam hal semacam ini tidak bijak untuk ditiru dan diamalkan.

Pak Ahok, Selalu Percaya Diri

Pak Ahok selalu mampu melihat keunggulan dirinya, menurut tayangan televisi, beliau itu selalu lurus dan sempurna. Dari poin ini kita bisa belajar untuk selalu berusaha melihat dan mengembangkan keunggulan yang kita punya. Tapi sebagai Muslim kita sepatutnya memiliki nilai lebih, selain mampu melihat dan mengembangkan keunggulan diri, kita juga harus mampu dan mau untuk menerima saran bahkan kritik dari orang lain. Manusia mana yang sempurna sehingga tak ada satu pun cacat dalam dirinya? Kita bukan Nabi yang terjaga dari salah dan dosa, kita hanya manusia biasa yang juga ada kurangnya. Pandai-pandailah menata kata-kata dalam berinteraksi dengan siapapun jua, karena percaya diri tak berarti merendahkan orang-orang selain kita. Kita boleh bekerja hebat, tapi jika ada masukan tentang kerja kita yang masih memuat cacat, tak usah sungkan mengakui dan memperbaiki.

Pak Ahok, Pandai Banyak Hal

Pandai urusan studi sudah pasti, karena pak Ahok lulusan Universitas Trisakti. Pandai berstrategi dan berorganisasi sudah terbukti, kini pak Ahok menduduki kursi Gubernur DKI. Pandai wirausaha tak ragu lagi, pak Ahok memiliki kerajaan bisnis di sana sini. Sederet kepandaian beliau tak dapat diuraikan satu-satu, namun dari segelintir yang telah disebut semoga kita dapat belajar. Untuk kepandaian dalam hal apapun perlu keuletan dan kekuatan untuk bertahan.

Sebagai Muslim kita harus mau mensyukuri kepandaian sebagai karunia sekaligus amanat untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena tidaklah kita diciptakan melainkan untuk beribadah kepada Allah. Jangan tergoda bekerja hanya sebatas untuk mencari harta, jabatan, atau popularitas, tetapkanlah cita yang tinggi dan sejati, semata ingin keridaan Allah.

Kita diingatkan bahwa kita tak diberi ilmu melainkan sedikit, jika kita menyadari hal ini tentu kita akan lebih mengandalkan Allah Swt. dalam segala hal dibanding hanya mengandalkan diri sendiri. Yakini bahwa kuasa dan kekuatan ialah milik Allah, berusahalah sepenuh daya dalam menggunakan karunia yang telah Allah amanahkan, sambil terus berdoa dan tawakal hanya kepada-Nya.

Terus Belajar

Masih banyak hal yang dapat kita jadikan sarana belajar dari pak Ahok, silakan tinggal mau menggali sendiri dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dari hari ke hari. Sebagai penutup, ingatlah bahwa hidup adalah tentang kemauan untuk terus belajar, ketika manusia berhenti belajar maka hakikatnya manusia tersebut telah mati sebelum mati yang sesungguhnya. Susah-senang tetap belajar, suka-duka tetap belajar, pahit-manis tetap belajar, baik-buruk tetap belajar. Mari kita tunjukkan bahwa rahmat Islam menjadikan kita pribadi yang lebih berkualitas dalam belajar untuk kemudian lebih berkualitas dalam beramal.

Sekian, alhamdulillah kita telah belajar dari pak Ahok, mohon maaf atas segala kekurangan.

Wallahu A’lam.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Eks Sekretaris Umum LDK UKDM Universitas Pendidikan Indonesia dan Lulusan Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Figure
Organization