Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Menembus Belantara Lore Lindu

Menembus Belantara Lore Lindu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Berdoa sebelum berjalan kaki selama 4 jam menuju lokasi bencana. (Mohamad Khaidir)
Berdoa sebelum berjalan kaki selama 4 jam menuju lokasi bencana. (Mohamad Khaidir)

Catatan Kecil Relawan PKPU

dakwatuna.com – Sayup-sayup mata mulai lelah, menandakan harus segera beristirahat agar tubuh menjadi prima menjalankan aktifitas di esok hari. Tak lupa menyerahkan semua urusan kita dan berprasangka baik kepada Allah sebelum memejamkan mata. Sebelum tidur, teringat sebuah kisah sekitar tiga tahun silam, bila kisah tentang dakwah memang sukar untuk di lupakan, kisah di lokasi bencana, kisah seorang bocah yang memilih jalannya sebagai aktivis dakwah kampus, seorang bocah yang baru saja semangat berpetualangnya menggelora, tapi bukan sekadar bocah petualang. Karena bocah ini sudah terbiasa dengan kegiatan formal dan organisatoris, maka kesempatan turun langsung ke lapangan ini tidak disia-siakan sama sekali. Biasanya bocah ini diundang menjadi pembicara dalam forum-forum mahasiswa, pemateri di pelatihan-pelatihan lembaga dakwah fakultas, terkadang diminta mengisi nasyid di acara pernikahan dan acara formal lainnya. Akhirnya turun lapangan juga! Mungkin itu yang ingin dikatakan bocah itu, tetapi ucapan itu bukan sebagai ekspresi kegembiraan atas bencana gempa yang menimpa Desa Tomado tepi Danau Lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, tetapi lebih kepada ekspresi kepedulian sosial dan kegembiraannya akhirnya bisa turun lapangan lagi.

Gempa yang baru saja terjadi memberi dampak pada rusaknya ratusan rumah di Kabupaten Sigi. Desa Tomado menjadi pilihan tempat yang dituju untuk menyalurkan bantuan meski kunjungan ini memang direncanakan untuk Disaster Assesment saja. Bersama-sama para Relawan Lembaga Kemanusiaan Nasional Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Palu dan Ketua Relawan Indonesia, perjalanan pun dimulai dari Kota Palu Ibu Kota Sulawesi Tengah dengan kendaraan darat. Sekitar 2 (dua) jam kemudian akhirnya tiba di gerbang masuk Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan hanya bisa sampai di titik gerbang ini, karena jalan menuju Desa Tomado dan perjalanan sebenarnya pun di mulai dari sini, gerbang Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah.

Jalan menuju Kecamatan Danau Lindu adalah jalan yang cukup ekstrim, jalan setapak yang di sisi kiri dan kanannya adalah tebing dan jurang, belum lagi contour tanah yang rawan longsor, karena musim hujan tak ada satu pun kendaraan ojek trail yang siap mengantarkan kami ke lokasi tujuan. Lalu berjalan kaki menyusuri Taman Nasional Lore Lindu pun menjadi pilihan terakhir kami, berjalan kaki membelah belantara hutan sekitar Danau Lindu, berjalan kaki menyibak jenggala rimba Tanah Sigi. Berjalan kaki menuju Desa Tomado dimulai dengan berdoa bersama kepada Allah SWT agar perjalanan kami diberkahi dan dimudahkan urusan dalam setiap langkah kaki kami. Sungguh manusia hanya bisa berusaha, berjuang, dan melangkah, lalu hasil akhir tetap menjadi hak prerogatif Allah SWT. Berdoa tak akan membuatmu rendah, sebab akan membuatmu menjadi mulia karena sejatinya engkau sedang meminta kepada Pemilik Semesta Alam. Berdoa tak akan membuatmu hina, sebab betapa Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hambaNya, maka berdoa adalah bentuk pengabdian dan bincang mesramu kepada Pencipta dirimu.

Menelusuri Taman Nasional Lore Lindu membuat jantung berdegup kencang, karena sebentar lagi matahari akan terbenam. Ya, berjalan kaki dari Gerbang Taman Nasional Lore Lindu di mulai pada sore hari. Setelah berdoa bersama, kaki pun mulai menjejak ruas jalan setapak di Taman Nasional Lore Lindu, dimulai dengan jalan mendaki, semakin meninggi dan semakin meninggi, hingga semakin tampak bahwa di sisi kiri kami adalah tebing yang rawan longsor dan di sisi kiri kami adalah jurang yang kelam karena cahaya matahari tak lagi menyinari perjalanan kami. Tak semua relawan PKPU membawa penerangan, ada satu orang relawan yang memakai headlamp, sementara relawan yang lain menggunakan senter yang biasa. Sesekali kami dilewati oleh tukang kayu yang hendak pulang ke desanya, mengendarai motor lalu membonceng tumpukan kayu hingga melewati tinggi motor dan pengendaranya, membonceng tumpukan kayu yang lebarnya hamper memenuhi ruas jalan setapak, bagi kami ini adalah pemandangan yang menakjubkan, tetapi mungkin bagi mereka ini adalah hal yang biasa karena sudah menjadi rutinitas harian mereka dalam mencari nafkah.

Hari itu merupakan hari yang cukup memicu adrenalin, bagaimana tidak Taman Nasional Lore Lindu yang kami susuri tersebut merupakan kawasan tanpa sinyal sama sekali, tak ada kesempatan untuk update status melalui facebook, tak ada kesempatan untuk berkicau melalui twitter, tak ada kesempatan untuk meng-upload foto ke instagram ataupun path, apatah lagi untuk berkomunikasi via handphone. Hari itu saya pribadi benar-benar merasa menjadi relawan sungguhan, fokus pada tujuan untuk mendatangi lokasi bencana, lalu memantau kondisi lokasi bencana sembari membantu warga lalu berbincang-bincang dengan warga serta mewawancarai mereka tentang apa saja yang paling penting dibutuhkan pasca gempa. Sesekali bercanda dengan sesama agar perjalanan ini juga menjadi perekat persaudaraan sesama relawan PKPU dan sesama muslim pada umumnya. Salah seorang relawan yang berjalan bersama kami berprofesi sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sigi, anggota DPRD dari Partai Islam favorit saya, sering di sebut dengan Partai Dakwah. Baru-baru saja Partai Dakwah ini melaksanakan Musyawarah Nasiona nya yang ke empat di Depok. Pemandangan yang cukup mencengangkan seorang Anggota Dewan yang terhormat berjalan kaki bersama kami menuju lokasi bencana, sambil sesekali bercanda tentang rihlahwan, kata beliau kita ini rihlahwan, bukan relawan (rihlah artinya Rekreasi/Piknik).

Benar-benar menjadi perjalanan yang tak akan terlupakan, berjalan kaki bersama kami Ketua Relawan Indonesia, sambil berjalan sambil berbincang-bincang menyerap ilmu dari beliau, yang punya segudang pengalaman mendatangi lokasi bencana di Indonesia. Bahwa seorang relawan yang ingin melakukan assessment di lokasi bencana hendaknya harus betul-betul objektif. Dari setiap responden atau warga yang di wawancarai pasti memberikan jawaban yang subjektif. Sehingga penting bagi seorang relawan di lokasi bencana mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya lalu meramu dan menganalisisnya sehingga ketika memberikan bantuan sosial nanti mengetahui sekala prioritas tentang siapa yang terlebih dahulu harus dibantu dan di titik mana yang membutuhkan bantuan dan penanganan khusus dengan segera. Sungguh ilmu yang sangat bermanfaat dan membuka wawasan bagi saya pribadi yang masih sangat miskin pengalaman dan ilmu.

Iklim perjalanan pun berganti ketika kami sampai di titik tengah, kali ini perjalanan mulai menurun, kondisi jalan setapak juga tak banyak berubah karena baru saja diguyur hujan, masih berbecek dan basah. Sesekali mendengar suara-suara binatang di malam hari, namun ketika jalan mulai menurun perasaan agak lega karena tak lama lagi kami akan tiba di lokasi yang kami tuju. Sekarang di kedua sisi pun berganti, sisi kanan adalah tebing yang rawan longsor dan sisi kiri jurang kelam karena gelapnya malam. Perasaan mulai lega ketika sudah mulai tampak lampu-lampu pedesaan yang menandakan sebentar lagi kami akan keluar dari hutan belantara ini. Jalan mulai landai, contour tanah semakin padat, mulai muncul bebatuan yang keras, dan di sisi kiri kami padang rumput yang sungguh indah diterpa angin malam meskipun tanpa disinari cahaya rembulan. Dalam hati aku berjanji, suatu saat kisah ini akan kutulis sehingga kita semua bisa mengingatnya suatu saat nanti, bahwa masa muda kami habiskan untuk hal-hal yang produktif. Sambil berkata kepada seorang sahabat yang berjalan di depan, “perjalanan ini akan ku buat menjadi tulisan!”

Singkat cerita kami di terima dengan baik di lokasi bencana, dan kami menyaksikkan bahwa memang desa tersebut adalah desa yang memiliki skala prioritas yang harus segera di bantu. Satu-satunya Masjid dan Sekolah Islam di desa ini runtuh sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan untuk segera mendirikan sekolah dan mushallah darurat, begitu pula dari sisi kebutuhan pokok, mereka sangat membutuhkan bantuan karena ambruknya sebagian rumah-rumah mungil mereka.

Kisah ini pernah ingin kutulis seusai perjalanan, bahkan aku pernah berjanji pada Sahabat seperjuanganku di Dakwah Kampus untuk menuliskan kisah ini, Kaharuddin Asahoya. Perjalanan yang menyibakkan segala peluh, perjalanan yang membelah aral rintang, perjalanan yang penuh kisah, hikmah, dan ilmu. Perjalanan menuju Desa Tomado, satu-satunya Desa di Kecamatan Danau Lindu yang memiliki masjid, karena ke empat desa lainnya penduduknya sebagian besar non-muslim. Karena ikatan persaudaraanlah kami memilih lokasi tersebut, karena merasa mereka adalah keluarga kami, maka tanpa ragu berada di lokasi ini.

Sangat ingin kutuliskan lagi kisah-kisah seperti ini agar kita bisa mengambil hikmah dari setiap retas jejak perjuangan dan pengabdian. Melihat kondisi Indonesia yang terus-menerus dilanda bencana, hendaknya para masyarakat mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian ini. Memberi pelajaran kepada kita bahwa salah satu tanda getar iman dalam diri adalah wujud kepeduliannya kepada sesama manusia. Betapa kegiatan-kegiatan sosial sejatinya adalah ladang pahala bagi orang-orang yang mungkin sibuk dalam rutinitas perkantoran, perkuliahan, dan aktivitas lainnya. Betapa sense of care dalam diri seseorang berbanding lurus dengan keimanannya. Sehingga suatu saat Indonesia menjadi Negara yang tidak hanya maju dari sisi sarana dan prasarananya, tetapi masyarakatnya semakin peduli satu sama lain, rasa peduli yang menembus batas-batas geografis, rasa peduli yang menembus sekat-sekat perbedayaan suku dan budaya, rasa peduli yang dilandasi oleh iman dan persaudaraan, sehingga Allah SWT akan mencukupkan keberkahan bagi negeri Nusantara ini kelak di kemudian hari. Indonesia yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, insya Allah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Relawan Nusantara Jakarta Timur Gelar Indonesia Mendongeng 6

Figure
Organization